Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 209. Klepek-klepek Karena Merindu


__ADS_3

Atas diisi, tetapi oleh baby Za langsung ditarik menjadi ASI. Juan Mahardika menyuapi Elfa makan sambil memberikan ASI kepada baby Za. Sedangkan baby Zi dalam dekapan Bibi Suti, Nany Sofia sedang makan malam bersama Mami MItha.


Keluarga tidak bisa makan bersama karena twins baby yang rewel. Makan malam bergantian dan bergiliran agar bisa bergantian menjaga. Yang dijaga dua bayi bule dan yang menjaga sekeluarga inti ditambah dua pengasuh, tetapi semua sangat khawatir dan tidak ada yang beristirahat.


"Kalau Akak lapar sekalian makan, jangan cuma untuk El saja!"


"Yang penting untuk El dulu, Akak belakangan saja."


"Tidak, Akak harus makan. Nanti bisa tambah lagi."


"Baiklah, satu piring berdua."


Juan Mahardika menyuapkan satu sendok untuk Elfa dan satu sendok lagi untuk diri sendiri. Tidak hanya dua piring, Elfa dan Juan Mahardika makan tiga piring untuk berdua. Menu sayur soup dan ayam goreng laos sudah ludes masuk perut.


"Mau tambah lagi satu porsi lagi, Sayang?"


"El sudah kenyang."

__ADS_1


Makan selesai, baby Za juga mulai terlelap seperti kembarannya baby Zi. Elfa bisa meluruskan punggung yang terasa pegal. Karena dari pagi twins baby rewel, Elfa tidak jadi konsultasi dan belum sempat berbincang serius dengan dokter sekaligus kakak sendiri.


Setelah lebih dari tengah malam semua bisa beristirahat dengan tenang. Twins baby juga mulai terlelap dan tidak rewel lagi. Aktivitas mulai ramai dan ceria kembali setelah azan subuh bersamaan dengan twins baby yang sudah terjaga dan mengajak bercanda.


Pagi ini giliran Elfa melakukan pemeriksaan lengkap. Berkonsultasi tentang alat pencegahan kehamilan yang tepat untuk ibu menyusui. Saran dan asupan gizi yang tepat agar produksi ASI mencukupi untuk twins baby.


Selesai melakukan konsultasi dan menggunakan alat kontrasepsi yang tepat, Juan Mahardika yang paling antusias. Menganggap akan aman jika beraksi karena sudah di cegah. Padahal, masih satu Minggu lagi masa nifas itu berakhir.


"Apakah berarti sudah aman kalau sudah memakai itu, Sayang?" tanya Juan Mahardika setelah Dokter Atha dan tim keluar dari ruangan ruang rawat inap khusus.


"Belum dong, Akak. Masih tetap menunggu satu minggu lagi."


"Memang begitu, Akak. Dipasang sebelum masa nifas berakhir."


"Oooo kirain Akak bisa beraksi setelah selesai."


Elfa hanya tergelak sambil menggelengkan kepala. Jika sedang berdua dan membicarakan tentang beraksi, terkadang merasa kasihan. Apa lagi melihat wajahnya yang terlihat menahan rasa.

__ADS_1


"Sabar ya, Akak. Tinggal sebentar lagi kok!"


Juan Mahardika mengecup bibir Elfa sekilas, "Bagi Akak satu minggu itu bagai satu windu, sangat lama dan sangat melelahkan."


"Akak sih diingat terus, coba dilupakan!"


Dengan tangan menengadah dan digerakkan ke atas dan ke bawah sambil mendekati Elfa, "Bagaimana bisa dilupakan kalau setiap saat disuguhi pemandangan yang menggoda?"


Elfa langsung menunduk melihat dua gundukan yang sekarang ini selalu dikuasai twins baby sambil tersenyum devil, "Betul juga, sih!"


Juan Mahardika hanya mencolek sedikit salah satu gundukan itu sambil menggigit bibir, "Tidak terlihat begini saja pusaka Akak sudah klepek-klepek karena merindu."


"Katanya pengertian, mengapa sekarang klepek-klepek?"


"Ini sudah pengertian, Sayang. Dikuasai twins baby dia tidak protes, hanya saja sekarang pusaka bumerang sedang merindukan kasih sayang."


Elfa tergelak teringat lagu dangdut koplo yang sering diputar oleh security yang ada di pos gerbang depan, "Seperti lagu Pak Security saja, tarik Pak Eko!"

__ADS_1


BERSAMBUNG



__ADS_2