
Juan Mahardika hanya nyengir kuda saat ditanya Asisten Dwi Saputra dan dipandang aneh oleh Henry Alexander, "Lupakan saja itu tidak perlu dibahas. Setelah ini apalagi acaranya?"
"Henry akan mencari hotel atau penginapan untuk dua bulan ke depan."
"Tidak perlu mencari tempat, Nak Henry. Kalau belajar sebaiknya tinggal di komplek masjid saja!" perintah Kyai Din.
"Apakah ada tempat untuk menginap Kyai?"
"Ada kamar marbout yang kosong satu, kalau memang mau tinggal ditempat yang sederhana. Silakan tinggal di sana!"
"Baik terima kasih, Kyai."
Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra langsung ke kantor setelah Henry Alexander beristirahat. Jadwal khitan akan dilakukan di rumah sakit esok hari. Kemungkinan hanya akan didampingi oleh pengurus masjid karena bertepatan hari Minggu.
Pada sore harinya, seteah pulang kerja Juan Mahardika duduk di samping Elfa yang sedang memberikan ASI pada baby Zi. Bayi bule laki-laki itu lebih sering haus dibanding baby Za. Untungnya baby Za tidak rewel walau ASI favorit selalu dikuasai kembaranya.
Bercerita tentang Henry Alexander yang sudah menjadi mualaf. Bercerita juga jika besok akan melakukan khitan, "Mengapa tidak ditemani saat di rumah sakit, Akak?"
__ADS_1
"Asisten Dwi akan mengajak ibu mertuanya ke rumah sakit Aljuzeka."
"Akak mau ke mana?"
"Akak sedang menunggu waktu."
Elfa mengerutkan keningnya mendengar jawaban suami tercinta, "Mengapa waktu harus ditunggu?"
"Sayang, sudah tinggal selupuh hari lagi. Rasanya sangat lama sekali, seakan jam dinding berdetak lebih lama."
Elfa baru menyadari maksud perkataan menunggu waktu. Masa nifas yang sekarang ini sudah terlewati selama satu bulan. Waktunya ke rumah sakit untuk imunisasi dan konsultasi tentang pencegahan kehamilan minimal dua tahun ke depan.
Juan Mahardika dulu pernah di pesan oleh Dokter Atha untuk kembali ke rumah sakit Aljuzeka setelah umur twins baby satu bulan. Untung diingatkan sekarang, "Oya, Akak sampai lupa. Besok pagi saja kita ke Bogor."
"Apakah harus ke rumah sakit Bogor, mengapa tidak di Jakarta saja?"
"Akak sudah diperintahkan oleh Kak Atha untuk kembali ke sana, Sayang."
__ADS_1
Elfa mengangguk sambil berpikir di sana pasti sudah dipersiapkan semua oleh tim dokter. Dulu juga pernah berjanji akan menginap di rumah Abang Al. Bisa sekalian bertemu dengan ibu kandung Rena yang sedang sakit dan akan berobat ke Bogor juga.
"Baik, besok setelah sarapan pagi ke Bogor, tetapi apakah bisa Akak mengutus salah satu karyawan untuk menemani Henry?"
"Tentu, Akak juga tidak mungkin tega saat akan potong burung dia sendirian."
"Eee, ngawur aja, burung dipotong."
Dengan tersenyum devil Juan Mahardika bercerita tentang candaan Asisten Dwi Saputra yang memperingatkan jika tidak sengaja akan terpotong semua senjatanya. Yang lebih lucunya Henry menanggapi dengan serius.
"Ngawur aja, mana ada Khitan sampai habis terpotong?"
Juan Mahardika tergelak mendengar Elfa yang protes, hanya membayangkan saja rasanya ngilu. Tidak mungkin bisa beraksi jika pusaka harus terpotong semua. Dengan spontan Juan Mahardika memegangi pusaka karena membayangkan terlepas dari tempatnya.
Dengan mudah Elfa bisa membaca pikiran suami karena langsung memegang pusaka bumerang walau masih tertutup. Pasti membayangkan pusakanya lepas karena dikhitan sampai habis, dengan tersenyum devil Elfa menggoda, "Nanti kalau Akak tidak tahan sampai selesai nifas akan El sunat lagi sampai pusaka bumerang habis!"
"Aduh, ampun jangan!"
__ADS_1
BERSAMBUNG