
Juan Mahardika langsung memerintahkan kepada Asisten Dwi Saputra untuk berangkat ke Ngawi. Mencari informasi tentang gadis itu dengan bekal nama El saja. Ditambah foto yang diambil saat Elfa dengan wajah sebagai perias dan wajah asli saat kejadian setelah direnggut hal yang berharga ketika melarikan diri dari villa.
Di zaman modern dan serba maju dengan didukung teknologi informasi yang sangat pesat. Seharusnya dengan mudah mencari informasi tentang data satu orang saja. Namun tidak semudah membuka telapak tangan juga jika tidak didukung dengan informasi yang akurat.
Nyatanya tiga bulan berlalu Asisten Dwi Saputra dan orang suruhan tidak juga mendapat informasi gadis yang dicari. Padahal Elfa termasuk putri seorang pengusaha yang sangat terkenal. Karena informasi yang minim membuat semua informasi semakin simpang siur.
Wajah Elfa jarang terekspos media. Yang paling banyak dikenal oleh masyarakat luas Alfian Alfarizi. Kerana putra laki-laki Alfarizi Zulkarnain lah yang meneruskan bisnis, sedangkan Elfa lebih memilih menjadi orang yang bermanfaat di sudut pandang yang berbeda.
Di samping itu pribadi Elfa yang sangat sederhana. Tidak pernah mau menunjukkan kekayaan orang tua. Semakin membuat banyak orang yang tidak mengenal putri bungsu pengusaha keturunan Arab itu.
Juan Mahardika semakin tenggelam dalam pekerjaan setelah semua usaha yang dilakukan gagal. Berobat, ke tabib, dan segala cara sudah ditempuhnya. Sampai sekarang tidak ada satupun yang bisa membangunkan pusaka kebesaran.
Orang tua Juan Mahardika yang paling khawatir saat ini. Sudah lama tidak mendengar putranya memiliki pasangan. Tepat pada hari ulang tahun Juan Mahardika yang ke tiga puluh satu. Kedua orang tua menjodohkan putranya dengan seorang model cantik dan seksi. Sherly Crash model majalah dewasa asli Australia yang sekarang ini sedang naik daun.
"Juan ... bagaimana menurut kamu model ini?" Mommy Vera menunjukkan satu foto pada putranya.
"Cantik dan seksi," jawab Juan Mahardika melihat foto itu hanya sekilas saja.
"Apakah Juan mau Mom jodohkan dengan dia?"
"Eee Mom, Juan belum pingin berumah tangga."
"Umur Juan sekarang sudah kepala tiga, kapan Mom menimang cucu, Nak?"
__ADS_1
"Mom nikahkan Jasmine saja dulu."
Jasmine Mahardika yang beru keluar dari kamar mendengar perbincangan antara abang dan ibunya langsung ikut menjawab, "Jasmine masih kuliah, Kak Jaun duluan aja yang nikah, toh cewek Kakak seabrek tinggal comot satu."
"Kamu kira kerupuk tinggal comot, tidak bisa dong!" Juan memukul bahu Jasmine perlahan.
"Pokoknya Juan kali ini harus nurut Mommy ya, tunangan dan kenalan aja dulu!"
Ingin menolak perjodohan, tetapi takut dicurigai. Jika diterima juga akan ketahuan jika wanita yang akan dijodohkan memiliki prinsip hidup bebas. Bagai buah si malakama maju kena mundur pun kena juga.
Juan Mahardika lebih memilih cara aman untuk sementara, "Atur saja, Mom. Yang penting tidak mengganggu jadwal kerja Juan."
Dengan senyum mengembang Mommy Vera menghubungi Sherly Crash. Mengajak bertemu untuk merencanakan langkah selanjutnya. Tidak lupa menghubungi Daddy Hans Mahardika yang sedang berada di kantor.
Dengan cepat Mommy Vera mempersiapkan acara ulang tahun sekaligus pertunangan. Ulang tahun hanya tinggal satu minggu lagi tepatnya hari Minggu. Akan mengadakan garden party di halaman belakang rumah mewah milik keluarga.
Karena Elfa bukan kuliah di jurusan ekonomi dan bisnis. Terlambat mengetahui akan ada kedatangan tamu pebisnis muda yang sangat sukses. Mengetahui saat masuk lingkungan kampus dan membaca spanduk besar dengan tulisan di pintu gerbang utama.
"Selamat datang pebisnis sukses Juan Mahardika di fakultas ekonomi dan bisnis," kata Elfa membaca spanduk dengan suara lirih sambil menyetir mobil masuk ke area parkiran.
Dengan tersenyum kecut seketika Elfa teringat peristiwa dua puluh satu bulan yang lalu. Antara sakit hati dan sugesti yang dibuat dulu seolah kembali menoreh luka di hati. Hal yang berharga diambil dengan mudah begitu saja yang sangat membuat hati terluka.
Elfa kembali membaca jam diselenggarakan mata kuliah di fakultas ekonomi dan bisnis, "Masih ada satu jam lagi, lebih baik El bergegas menyelesaikan tugas hari ini, jangan sampai pertemu dengan laki-laki brengsek itu," monolog Elfa sambil melajukan mobil ke parkiran.
__ADS_1
Hari ini Elfa tidak ada jadwal mata kuliah di kampus. Waktu tinggal tiga bulan untuk menyelesaikan dan menyusun tesis sebagai syarat kelulusan. Hanya bertemu dengan dosen pembimbing sesekali saja.
Dengan langkah panjang Elfa berjalan menuju kantor dosen dab bertemu dengan Sheilla Jannes. Ada yang ingin ditanyakan tentang tesis yang sedang di susun. Sudah membuat janji untuk bertemu sebelumnya.
Tanpa diduga Juan Mahardika sudah tiba di kantor dekan sedang berbincang dengan petinggi dan rektor kampus. Kantornya bersebelahan dengan dosen pembimbing Elfa. Tanpa sengaja Juan Mahardika mendengar suara sayup-sayup tawa Elfa bersama Sheilla Jannes yang sedang melewati kantor dekan.
Tanpa di sadari seolah pusaka Juan Mahardika sedikit menggeliat. Seolah sedang menegang sesaat tanpa di komando. Padahal Juan Mahardika sedang berbincang bisnis bukan berbicaraan yang menjurus ke arah ranjang.
Dengan spontan Juan Mahardika berlari ke luar kantor dan membuka pintu. Bertepataan Elfa dan Sheilla Jannes masuk kantor yang ada di sebelah ruang dekan. Dengan otomatis mata Juan Mahardika tidak melihat siapapun orang yang ada di luar.
"Ada Apa, Tuan Juan?" tanya salah satu Dekan yang heran melihat Juan Mahardika berlari membuka pintu.
"Saya seperti mendengar seseorang yang saya kenal dulu," jawab Juan Mahardika.
"Apakah ada orang di luar setelah Anda lihat?"
"Tidak ada, mungkin hanya perasaanku saja."
Juan Mahardika kembali duduk dan berbincang. Pusaka yang dimiliki kini kembali tertidur pulas dan mati suri. Seolah tadi hanya menggeliat sesaat memberikan kode jika pusaka masih bisa terbangun.
Juan Mahardika kembali teringat El mantan ketua kelompok pejuang gadis yang dicari selama setengah tahun terakhir. Gadis yang sampai sekarang belum ditemukan dan belum mendapat kejelasan.
'Mungkinkah suara tawa tadi adalah gadis itu, apakah perkiraan Dwi Saputra benar, ini semua karena gadis itu?' suara batin Juan Mahardika bertanya dalam hati.
__ADS_1
Sambil terus termenung, Juan Mahardika mengingat tawa gadis yang baru saja didengar. Hanya sayangnya Asisten Dwi Saputra tidak ikut ke Asutralia saat ini. Tidak mungkin akan bisa mencari sendiri di kampus yang sangat besar dan dengan jumlah mahasiswa yang sangat banyak.
"Tuan, apakah boleh saya melihat nama mahasiswa yang akan ikut kuliah hari ini?" tanya Juan Mahardika.