Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 177. Cerita dari Balikpapan


__ADS_3

Elfa sedang membaca pesan WA dari Ibu Fitria di ponsel milik sendiri. Ibu Fitria mengatakan terepaksa mencabut laporan ke kantor polisi tentang mantan suami. Dua buah hati memohon dengan bersimpuh agar papanya tidak diperkarakan di meja hijau.


Kemungkinan mantan suami menghubungi anak-anak untuk meminta bantuan agar dibebaskan. Dengan sedikit rayuan dengan senang hati pasti mereka mengabulkan permintaan papa. Belum sampai genap satu malam menginap Manager Jio sudah melenggang ke luar penjara.


Ibu Fitria tidak wanita yang mudah diperdaya. Mantan suami memohon melalui buah hati. Malam itu juga ibu dua anak itu menghubungi pengacara.


Sebelum mantan suami ke luar dari penjara. Ibu Fitria membuat surat perjanjian hitam di atas putih. Menyebutkan jika mantan suami tidak bisa mengusik kehidupan pribadi baik tentang gono-gini ataupun tentang dua buah hati.


Mantan suami tidak bisa berkutik saat Ibu Fitria mengajukan surat perjanjian. Jika tidak setuju sang mantan suami tidak bisa ke luar penjara. Akhirnya harus tanda tangan sebelum ke luar dari jeruji besi.


Tanpa sepengatahuan anak-anak surat perjanjian dibuat dan ditandatangi oleh kedua mantan suami istri. Pagi itu juga manager Jio bisa ke luar rumah tahanan. Melenggang keluar tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Biarkan saja ke luar mantan karyawan Akak itu, nanti kalau dia berulah lagi baru akan El lempar di kandang buaya." Elfa menggerutu sendiri.


"Di sini tidak ada kandang buaya, Sayang."


"Di Balikpapan banyak, bahkan ada juga yang berjemur di pantai."


"Ngeri banget, kayak turis aja berjemur di pantai."


Elfa merinding saat teringat cerita Nany Sofia kemarin tentang buaya yang ada di Balikpapan dan sekitarnya. Di sana masih ada banyak hewan carnovora itu berkeliaran di pantai atau pun di sungai.


Ada juga yang menjadikan hewan itu sepeti peliharaan. Buaya akan datang saat pemilik rumah sedang beraktifitas di dapur yang notabebe di pinggir sungai. Buaya datang dan menunggu pemilik rumah memberikan makanan kesukaan terkadang ayam mati atau tulang sapi.


Sebagian pinggir pantai, sungai yang jauh dari pemukiman warga masih banyak buaya berkeliaran. Terkadang berjemur dan terkadang sedang mencari mangsa. Ada tempat khusus penangkaran buaya yang sengaja di kembang biakkan oleh pemerintah. Selain untuk wisata juga sebagai penelitian ilmu pengetahuan.


"Akak membayangkan mempunyai hewan peliharaan buaya, pasti Akak tambah gagah kali ya?"


"Yang di Balikpapan itu kebanyakan ibu-ibu yang dekat dengan buaya, Akak."


"Waow, betulkah?"

__ADS_1


"Kata Nany Sofia, ada ibu-ibu yang sedang memanggil buaya dengan tepukan sendal jepit saja."


"Sudah ah, jangan bahas buaya terus. Akak jadi ngeri."


"El juga mau istirahat dulu."


Pukul sembilan pagi, Juan Mahardika baru berangkat ke kantor. Baru saja suami Elfa ke luar rumah, Nany Sofia datang. Menempati kamar yang tidak jauh dari kamar twins baby yang baru selesai di renovasi. Namun belum ada satu pun barang keperluan bayi yang dibeli oleh Elfa.


Elfa sangat antusias ingin berbelanja perlengkapan bayi untuk twins baby. Berencana untuk berbelanja dengan meminta ditemani Mami Mitha dan Teteh Rania serta Nany Sofia. Tanpa diduga Pakde Sarto dan Bude Marmi datang dari Ngawi bersama dengan Mami Mitha dan Teteh Rania saat istirahat makan siang.


"Tunggu dulu, Ndok. Jangan belanja dulu sebelum tujuh bulan kandunganmu!" larang Bude Marmi.


"Kenapa begitu, Bude?"


"Itu kurang baik kata simbah dulu, wes pokoe manut karo Bude yo!"


"Injih, Bude. dados pripun?" tanya Elfa.


"Harus mitoni dulu dong, Pak!" kata Bude Marmi kepada Pakde Sarto.


"Kalau menurut agama bukan mitoni, tetapi syukuran dan mengadakan doa selamat, tetapi terserah El mau mengadakan acara yang mana?"


"Injih, Pakde. El nanti bicarakan dulu dengan Akak JM."


"Sebenarnya Pakde dan Bude ke sini ingin mengajak El dan Mas Bule ke Ngawi. Pakde berencana membuat acara syukuran di sana saja."


"Mengapa harus di Ngawi, Pakde?"


"Ada banyak alasan, Nak. Akan lebih bermanfaat jika El membuat syukuran dan bersedekah di sana, memberikan santunan pada fakir miskin, anak yatim piatu seperti yang sering El lakukan."


Elfa mengangguk mendengar nasihat Pakde Sarto dan saran Bude Marmi. Sebenarnya ada perbedaan pendapat antara Bude Marmi dan Pade Sarto, tetapi keduanya memliki tujuan kebaikan. Yang satu berpedoman adat dan yang satu lagi berpedoman pada agama.

__ADS_1


Jika dilaksanakan adat mitoni bukan berarti kita percaya tentang kepercayaan nenek moyang dahulu. Namun, kearifan lokal memang patut kita lestarikan karena memiliki filosofi kehidupan yang sangat dalam. Memahami sebagai nasihat nenek moyang zaman dulu untuk menuju kehidupan yang lebih baik.


Mengadakan syukuran ada benarnya juga, sebagai rasa syukur kita atas limpahan rahmad keturunan, rejeki, harta yang melimpah bahkan kesehatan juga. Apalagi ditambah dengan memberikan santunan kepada yang berhak menerima.


"Masih sekitar dua minggu lagi kandungan El berumur tujuh bulan, Pakde."


"Baik, bisa mempersiapkan nanti saja, Pakde mau jalan-jalan di Jakarta dulu."


"Kata Pakde, dia ingin ke kebun binatang Ragunan!" cerita Bude Marmi.


"Nanti sama sopir aja Pakde dan Bude ke sana!"


"Baik."


Pada malam hari saat Juan Mahardika pulang dari kantor, Elfa bercerita tentang saran acara yang diusulkan keluarga yang ada di Ngawi. Juan Mahardika yang notabene keturunan Australia tidak mengetahui sama sekali acara mitoni. Bingung harus memilih acara yang mana antara adat dan doa syukuran.


"Akak belum pernah sama sekali mendengar itu, maksudnya apa sih, Sayang?"


"Itu acara tentang rasa syukur kepada yang maha kuasa karena kita akan memiliki momongan, Akak."


"Di Australia, Akak tidak pernah melihat keluarga mengadakan acara seperti itu."


"Setiap negara pasti memiliki cara dan adat yang berbeda, Akak mau mengadakan acara yang mana, saran Bude atau Pakde?"


"Nanti Akak tanya dulu deh sama Papi, Mami atau Pakde dan Bude juga."


"Iya, terserah Akak saja deh."


Setelah Juan Mahardika ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Juan Mahardika memberikan kabar tentang dokter mantan suami Kris. Dokter urologi itu divonis dua tahun penjara karena penyalahgunaan barang terlarang dan kekerasan dalam rumah tangga.


Bercerita pula jika sampai sekarang pengacara Dokter Yohan Carnett belum mengetahui tempat tinggal Kris. Hanya sayangnya pengacara itu selalu mendesak dan menghubungi Asisten Dwi Saputra untuk mengantar ke alamat yang tertera di surat keterangan. Meminta untuk bisa menemani ke sana dengan alasan sekarang ini sudah hampir waktunya melahirkan.

__ADS_1


"Jadi bagaimana cara Asisten Dwi menjawab mereka, Akak?"


__ADS_2