
Asisten Dwi Saputra turun langsung mencari informasi tentang kelompok pejuang gadis. Setelah satu tahun Elfa keluar dari kelompok itu. Kelompok pejuang gadis semaklin terang-terangan berjuang di lingkungan masyarakat.
Semakin diperjuangkan semakin pula kelompok itu mengalami banyak hambatan. Banyak gadis yang disekolahkan oleh kelompok atas donasi Eifa. Namun semakin babyak pula yang menjadi korban keegoisan orang tua.
Asisten Dwi Saputra mulai menyelidiki dari kelompok pejuang gadis. Dalam satu tahun terakhir ini tidak ada yang menyebut nama Elfa lagi. Nama itu seolah tenggelam seiring waktu berlalu.
Setiap Asisten Dwi Saputra mencoba mencari keterangan gadis yang ada difoto. Tidak ada satupun yang mengenal wajahnya. Yang dikenal dalam satu tahun terakhir hanya nama Rey dan Kris saja tanpa diketahui wajah mereka.
Setelah satu minggu mengumpulkan keterangan dari masyarakat. Tidak ada yang mengenal gadis itu. Asisten Dwi Saputra memutuskan akan ikut masuk dalam kelompok pejuang gadis.
Awalnya Asisten Dwi Saputra berkeliling mencari kos-kosan untuk tinggal sementara. Berencana akan tinggal satu minggu di sekitar villa. Dengan alasan sedang melakukan tugas dari kampus untuk penelitian.
Asisten Dwi Saputra mendapatkan kos-kosan satu kamar yang tidak jauh dari rumah Rena. Rumah itulah yang terlihat ramai dan banyak gadis sering berkunjung ke luar dan masuk. Ada isu jika rumah itu adalah salah satu markas ketua kelompok pejuang gadis.
Setelah menginap satu malam di kos-kosan, Asisten Dwi Saputra mulai melancarkan aksinya. Selain mendapatkan keterangan dari pak tua pemilik kos-kosan. Menyelidiki markas itu saat lari pagi melewati komplek yang masih sepi.
Ada gadis yang keluar dari rumah pejuang gadis. Melakukan olah raga pagi dengan berlari kecil. Asisten Satria ikut lari pagi dibelakang gadis itu, "Permisi ... Teh, selamat pagi."
"Pagi."
Asisten Dwi Saputra mensejajarkan tubuhnya dengan jalan cepat pada Rena sambil tersenyum, "Ikut bareng ya, Teh. Saya warga baru."
"Aa tinggal di mana?" tanya Rena.
"Rumah Pak tua yang cat kuning itu," jawab Asisten Dwi Saputra sambil menunjuk rumah.
"Oooo ...." Rena terus berlari kecil setelah melirik rumah yang ditunjuk.
"Saya Dwi Saputra, dan nama Teteh siapa?"
"Panggil saja Rena."
"Salam kenal Rena. panggil aja Aa Dwi."
Rena hanya tersenyum dan terus berlari menyusuri jalan raya. Asisten Dwi Saputra terus mengikuti Rena berlari. Tanpa bicara dan bertanya hanya mengikuti di sampingnya.
Sampai di pertigaan jalan Rena menghentikan langkahnya, "Aa ... Rena mau balik lagi."
__ADS_1
"Ooo Aa ikut juga dong."
"Silahkan!"
"Apakah ada yang jual sarapan di sekitar sini, Rena?"
"Aa mau sarapan?"
"Iya di mana sarapan yang di sekitar sini?"
"Ada di belakang rumah Rena, Mpok Njum namanya jualan nasi uduk."
"Temani Aa dong!"
"Eee mengapa Rena yang harus temani Aa?"
"Aa ini orang baru, belum kenal siapa pun."
Dengan terpaksa Rena mengangguk setuju, "Baiklah mari Rena antar!"
"Jangan khawatir sebagai imbalannya Aa traktir deh."
"Jangan dong!"
"Baik, ayo kita lewat gang sebelah sana saja."
Dengan duduk berhadapan Rena dan Asisten Dwi Saputra sarapan bersama. Sambil menyelam minum air prinsip asisten yang sedang mencari keterangan. Bercerita jika sedang melakukan penelitian untuk tesis S2.
"Apakah Rena bisa bantu, Aa?" tanya Asisten Dwi Saputra setelah selesai bercerita.
"Dengan senang hati asal jangan yang susah."
"Aa hanya butuh keterangan tentang sosial masyarakat di daerah sini."
"Maksudnya tentang apa aja, Aa?"
"Organisasi masyarakat yang ada di sini, atau pejuang yang selalu membantu masyarakat lemah. Atau apa saja deh."
__ADS_1
Rena tersenyum dan mengangguk. Tidak ingin menunjukkan perjuangannya sendiri karena itu merupakan rahasia. Tidak banyak yang tahu apalagi bukan penduduk asli dari daerah sekitar.
"Contohnya organisasi seperti apa, Aa?"
"Ada satu kelompok yang menjadi perhatian Aa saat ini adalah pejuang gadis, katanya dulu dipimpin oleh tiga orang, tetapi sekarang tinggal dua. Apakah Rena tahu tentang itu?"
Rena menggelengkan kepala sambil melirik wajah Asisten Dwi Saputra. Tidak ingin laki-laki itu tahu jika yang dimaksud salah satunya dirinya sendiri. Justru ingin mengetahui sejauh mana kabar dan berita tentang kelompok yang dipimpin bererdar di masyarakat kini.
"Aa tahu dari mana tentang kelompok itu?"
"Dari berita di media sosial dan masyarakat sekitar, katanya pimpinan mereka tiga gadis yang sangat hebat, sayangnya satu mengundurkan diri, itu yang Aa dapat beritanya."
"Oooo ...." Rena hanya mengangguk dan membulatkan bibirnya dengan ekspresi wajah yang datar.
"Aa juga mendengar jika yang mengundurkan diri itu seorang gadis yang berasal dari Ngawi Jawa Timur, apakah Rena tahu tentang hal itu?"
"Dari Ngawi, dari mana Aa tahu kabar itu?"
"Kemarin Aa bertemu dengan wanita muda yang sedang menggendong bayi, dia bercerita gadis yang berasal dari Ngawi itu sudah satu tahun tidak lagi berkunjung ke sini."
Rena termenung dan melamun, teringat dengan Elfa. Sudah satu tahun terakhir ini tidak pernah sekalipun bertemu dengan sahabatnya itu. Menghubungi saja sangat jarang karena kegiatan Elfa yang sangat padat di Australia.
Elfa bercerita jika ikut kegiatan sosial di Australia dengan bergabung di salah satu rumah sakit. Jarang memberikan kabar kecuali saat mengirim dana operasional setiap bulan. Tidak pernah sekalipun pulang ke Indonesia sampai saat ini.
"Rena kok malah melamun?"
"Eee maaf, Aa. Rena justru mendengar jika kelompok itu dipimpin tiga laki-laki bukan wanita."
"Aa juga mendengar kabar itu, tetapi Aa diyakinkan oleh seorang bapak tua yang bercerita jika sebenarnya kelompok itu dipimpin oleh tiga gadis yang sekolahnya tinggi semua."
Sedang asyik berbincang ada seorang gadis yang mendekati Rena dan berbisik di telinga. Rena langsung berdiri dan berpamitan, "Aa maaf, Rena ada pekerjaan penting, permisi dan terima kasih sudah ditraktir sarapan."
"Ooo sama-sama, silahkan saja dan lain kali kita berbincang lagi."
Sambil membungkukkan badan Rena meninggalkan warung berpamitan. Asisten Dwi Saputra terus saja memandang Rena sampai gadis itu tidak terlihat lagi. Wajah dan dan gerak-geriknya terlihat misterius dan ada yang di sembunyikan.
Asisten Dwi Saputra tersentak kaget saat membaca pimpinan pejuang gadis salah satunya adalah bernama Rey, "Lo kok kebetulan yang pas ya, gadis tadi namanya Rena jika diambil depannya saja jadi Re. nama pimpinan kelompok pejuang gadis ini juga Rey," monolog Asisten Dwi Saputra dengan lirih.
__ADS_1
Dari keterangan yang di dapat sekarang ini. Dua pimpinan yang masih aktif saat ini adalah Rey dan Kris. Yang sudah keluar satu tahun yang lalu bernama El.
"Apakah Rena adalah Rey pimpinan kelompok itu ya?" kembali Asisten Dwi Saputra bermonolog sendiri sambil melihat catatan buku kecilnya.