Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 141. Ke Bali


__ADS_3

Elfa tergelak mendengar perkataan suaminya yang terdengar nyeleneh. Bahasa yang biasanya terbatas sekarang tahu kata yang sering dicapkan oleh wanita hamil saat mendengar hal yang aneh.


"Dari mana Akak mendengar kata itu?"


"Kata amit-amit jabang bayi ya?"


"Iya."


"Akak mengikuti kata bidan yang mengatakan amit-amit jabang bayi agar bayi kita tidak seperti orang yang dimaksud."


"Akak yang aneh, percaya aja gitu dibilangin?"


"Akak ini cuma ikut-ikutan saja."


"Coba Akak pikir, apakah mungkin bayi kita mirip sama pelawak yang pakai akik tadi?" tanya Elfa sambil tergelak.


"Tidak dong, Sayang. Kalau dia laki-laki pasti tampan seperti Daddy-nya. Kalau dia perempuan pasti seperi Mommy-nya."


"Ya sudah, cepat bayar akik yang Akak bayar, ini sudah senja!"


Drama pembelian oleh-oleh berakhir setelah Juan Mahardika membeli enam red borneo. Hanya batu akik itu yang langsung dimasukkan ke tas milik Elfa yang dislempangkan pada badannya sendiri. Pulang dengan hati yang puas sudah bisa membeli oleh-oleh untuk keluarga.


Dari Balikpapan, pesawat menuju ke Bali untuk menjemput sang asisten yang berakhir bulan madu esok hari. Sepasang pengantin baru tinggal resort milik keluarga Mahardika yang ada di dekat pantai. Hampir tengah malam Elfa dan Juan Mahardika tiba di resort dan langsung beristirahat.


Pada pagi hari, Setelah subuh Elfa duduk di ruang makan. Menunggu bibi yang sedang membuatkan sarapan ayam betutu pesanan Elfa. Juan Mahardika menyusul Elfa saat mengetahui sang istri sedang lapar pada pagi buta.


Baru masuk di ruang makan, hidung Juan Mahardika langsung ditutup rapat. Bau mumbu ayam betutu yang menyeruak membuatnya mual dan pingin muntah. Bukan bergabung duduk di samping Elfa, Juan Mahardika langsung menuju kamar mandi yang ada disamping dapur.


"Ada apa, Akak?" tanya Elfa mengikuti suami ke kamar mandi.


"Akak mual bau masakan bibi." Juan Mahardika langsung jongkok dan dan mengeluarkan semua isi perutnya.


"Maaf, Akak. El pingin makan ayam betutu."


Juan Mahardika hanya melambaikan tangan dan mengacungkan jempolnya. Memberikan kode agar Elfa melanjutkan menunggu ayam betutu yang belum selesai di masak. Setelah semua isi perut kosong dan mulut terasa pahit, Juan Mahardika merasa lega.


"Elfa makan saja sendiri, ya. Akak ke depan dulu!" Setelah berkumur Juan Mahardika ke luar kamar mandi sambil menutup hidung.


"Akak tidak lapar, El buatkan susu mau?"


"Akak maunya punya El saja," jawabnya sambil tergelak.

__ADS_1


Elfa tidak menjawab ucapan suami, memilih mengerucutkan bibirnya. Melirik bibi yang tersenyum sendiri mendengar tuannya yang berkata aneh, "Dasar tukang modus, sana ke ruang tamu atau kembali ke kamar!"


Sambil tergelak Juan Mahardika meninggalkan ruang makan. Melihat Asisten Dwi Saputra yang ke luar kamar sendirian, "Dwi, kamu mau ke mana?"


"Menemui Anda, Tuan. Mengapa hidungnya ditutup begitu?"


"Bau ayam betutu, baru saja aku muntah karena itu."


Asisten Dwi Saputra melihat wajah Juan Mahardika yang terlihat pucat. Sering mendengar laki-laki yang ngidam saat istrinya hamil. Baru kali ini menyaksikan sendiri bukti nyata itu pada tuannya.


"Anda yang ngidam, Tuan?"


"Iya, ayo kita ke luar dulu. Aku tidak tahan bau ayam betutu itu!"


Asisten Dwi Saputra berjalan cepat mengikuti Juan Mahardika yang mengambil langkah panjang. Hidung dan mulutnya masih tetap ditutup rapat. Meninggalkan Elfa yang masih menunggu bibi memasak ayam betutu yang tercium sangat lezat.


"Aaaah!" Sampai di ruang tamu, Juan Mahardika langsung membuka tangan yang menutup hidung dan mulut.


"Anda terlihat pucat, Tuan?"


Juan Mahardika langsung meletakkan jari telunjuk di bibir, "Jangan keras-keras, nanti El dengar," kata Juan Mahardika dengan suara kecil.


"Mengapa sih, Tuan?"


"Oooo, Mengapa begitu?"


Juan Mahardika bercerita hampir satu bulan terakhri sering mengalami muntah jika ada bau menyengat masuk hidung. Bisa dipastikan langsung muntah sampai mulut terasa pahit. Selalu dirasakan sendiri agar sang istri tidak khawatir dan tidak pernah bercerita kecuali dilihat langsung oleh sang istri.


Muntah itu tidak pernah mengenal waktu justru jarang sekali terjadi pada pagi hari. Yang sering saat sedang makan siang atau sore hari. Tidak mengenal tempat juga, terkadang di kantor, kamar bahkan terkadang saat sedang konsentrasi di ruang meeting.


"Mengapa Anda merahasiakan muntah yang Anda alami, Tuan?"


"Aku hanya ingin membuat El menjadi senyaman mungkin saat hamil, tidak ingn dia trauma seperti dulu karena apa yang aku lakukan, pokoknya aku akan melakukan hal yang terbaik apapun itu sampai bayi kami lahir sehat dan mommy-nya sehat juga.


"Wuuih, Anda hebat sekali, Tuan. Saya kagum dengan perubahan Anda."


"Yaah, sampai detik ini rasa syukur itu tidak pernah henti aku ucapkan, bisa menikah dengan El adalah hal yang paling aku syukuri. Apalagi sekarang sudah ada calon buah cinta kami."


"Selamat, Tuan. Semoga saya juga bisa menyusul Anda."


"Terima kasih, Aamiin."

__ADS_1


Selesai bercerita Juan Mahardika membahas tentang pekerjaan. Walau terpisah jarak dan waktu keduanya tetap menjalankan tugas masing-masing dengan online. Sehingga pekerjaan yang menumpuk pun bisa diselesaikan dengan tepat waktu.


Rena ke luar kamar melihat suami dan tuannya sedang membahas pekerjaan. Sejak tadi malam belum sempat bertemu dengan sahabat sekaligus istri dari bos suaminya. Melihat Elfa sedang asyik menikmati ayam betutu tanpa nasi, Rena langsung menggelengkan kepala.


"Ya Allah, El. Sekarang sudah ketularan suami makan tidak memakai nasi?"


"Hhmm ...!" Elfa terus menikmati ayam betutu yang sangat lezat rasanya.


"Apakah dekbay sedang kelaparan, makannya lahap banget sih?"


"Hhmm." Tinggal sedikit lagi menu ayam betutu ludes tinggal tulang.


"Ya sudah habiskan dulu baru Rey tanya!"


Rena duduk di kursi yang ada di samping Elfa menunggu sampai bumil selesai makan. Lebih memilih menunggu daripada bertanya hanya dijawab dengan dehem saja. Bahkan, menikmati sendiri tanpa menawarkan sama sekali.


Datang bibi berlari mendekati Rena yang masih terdiam melihat Elfa menyelesaikan sarapannya, "Nyonya Rena mau sarapan apa?"


"Rey minta susu coklat saja, Bibi."


"Baik tunggu sebentar."


Elfa langsung mencuci tangan yang ada dimangkuk sebelah piring ayam betutu. Menarik tisu untuk membersihkan sisa air yang ada di tangan, "Rey!" teriak Elfa sambil memeluknya.


"Apa kabar bumil?" Rena ikut memeluk Elfa dengan erat.


"Alhamdulillah sehat, bagaimana rasanya bulan madu?"


"Sangat amazing, terima kasih sudah mendapatkan semua fasilitas yang sangat fantastis."


"Sama-sama."


"Rey jadi teringat sama Kris, mengapa sampai sekarang dia tidak ada kabar?"


"Iya El pernah mencoba berkali-kali menghubungi ponselnya, tetapi tidak pernah berhasil."


"Kemarin saat Rey sedang berada di pasar Gimbaran sekilas melihat seperti Kris, setelah Rey kejar dia sudah tidak terlihat lagi."


"Apa mungkin Kris ada disini, Rey. Atau karena kamu terlalu memikirkan dia sehingga seolah-olah orang lain dikira Kris?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


Mampir yok di n9vel teman author yg rekomen ini



__ADS_2