
Tangisan Efa kembali pecah setelah tahu ternyata jebakan itu benar adanya. Hanya mendengar cerita dari Mama Cristine, Elfa sudah bisa menebak jika semua itu adalah ulah dari wanita keturunan Indonesia Italia itu.
"El, ini takdir yang Maha Kuasa, tidak ada hubungannya dengan wanita matre itu," kata Kris sambil memeluk Elfa.
"El tahu betul karakter dari Magda, Kris. Dia teropsesi pada laki-laki mapan, dan akan berbuat apa saja yang terpenting bisa menikmati hartanya tanpa harus bekerja."
"Kris memang kecewa, entah itu jebakan atau kesengajaan. Yang jelas Kris sudah ikhlas dan sudah siap semenjak mimpi itu datang, jadi Kris mohon El jangan merasa bersalah!"
"El, Magda bukan hanya suka sama suami El saja, ingat dulu Magda juga mengejar Henry. Ini murni karena Magda dan tidak ada hubungannya dengan El dan suami sama sekali," nasihat Rena sambil mengusap air matanya.
"Itu pendapat kalian yang belum pernah bertemu wanita itu, El bisa menebak itu memang ulah Magda karena ingin balas dendam. Silakan tanya Mama kalau tidak percaya!"
Kris dan Rena langsung memandang Mama Cristine yang mengangguk ragu. Wanita setengah baya itu sangat mengenal Magdalena. Dia akan rela berbuat apa saja untuk bisa memenuhi kebutuhan berfoya-foya tanpa bekerja.
"Kalau yang menjebak Magda, seratus persen Mama percaya. Namun, itu bukan karena Tuan Juan saja. Mama sangat tahu jika Henry juga pernah menolak wanita itu."
__ADS_1
"Naah dengar sendiri Mama becerita, El. Kris mohon jangan menyalahkkan diri sendiri.
"El tetap saja kesal sama Magda, wanita itu perlu diberikan pelajaran!"
Dengan penuh emosi Elfa mengambil ponsel yang berada di kantong jaket. Membuka pesan WA dan mencari nama Abang Julio. Hanya asisten ahli tegnologi itu yang akan bisa melakukan apa yang diinginkan.
Dengan menjentikkan jari mengetik, mengirim data lengkap Magdalena. Disertai alasan dan bukti lengkap tentang pernikahan Henry Alexander. Tinggal menunggu hasil dan kabar dari asisten abang tercinta.
Saat Elfa masih emosi dan mengirim pesan WA. Kris berbisik kepada Rena untuk memanggil Juan Mahardika. Hanya suami saja yang bisa meredamkan emosi Elfa saat ini.
Ponsel dimasukkan dalam kantong jaket. Bertepatan Juan Mahardika datang, "Sayang!" teriaknya langsung ikut duduk dilantai dan memeluknya dengan erat.
"Itu bukan salah El atau Akak, tenanglah!"
"El sudah jahat sama Henry, Akak. Menuduh dia menyakiti Kris."
__ADS_1
"Sama, Akak juga sangat marah sama dia. Ayo bangun!"
Elfa berdiri dalam pelukan Juan Mahardika, "Tetap itu salah kita, Akak."
"Dengar Akak, Sayang. Jangan berpikir sampai sejauh itu, coba El pikirkan. Sudah berapa lama Magda di Indonesia, jika ini karena kita pasti sudah sejak dulu dia akan balas dendam terutama sama Akak."
Elfa mengangguk setuju, "Berarti Magda spontan karena adanya kesempatan menjebak Henry?"
"Iya, benar sekali."
"Waduh!"
Elfa langsung mendorong Juan Mahardika dan ke luar dari pelukan. Bergegas mengambil ponsel yang ada di dalam jaket yang dikenakan. Baru saja meminta bantuan Abang Julio untuk memberikan pelajaran kepada Magdalena karena emosi.
"Ada apa, Sayang?"
__ADS_1
"El tadi meminta bantuan kepada Abang Julio untuk memberikan pelajaran pada Magda, sebentar El minta batalkan dulu!"
"Eee ... jangan!" tidak hanya Juan Mahardika yang berteriak melarang, tetapi dua sahabat, Asisten Dwi Saputra dan Mama Cristine juga ikut berteriak.