
Juan Mahardika tersentak kaget karena bantal dan guling mengenai punggung. Untung handuk tidak terlepas dari pinggang dan terjatuh dibawah. Hanya membayangkan saja, apa jadinya jika itu terjadi.
"Sayang, tunggu. kita ini baru saja menikah. Coba buka mata terlebih dahulu jangan marah!"
Elfa terdiam dan duduk di pinggir tempat tidur, matanya melihat jam yang ada diatas pintu. Memandang sekeliling kamar yang masih dihias cantik menjadi kamar pengantin. Kembali melihat Juan Mahardika yang berdiri sambil memegangi baju yang belum dikenakan.
"Maaf, El kaget melihat Akak begitu."
"Sekarang sudah ingat kalau kita sudah suami istri."
"Iya maaf, El lupa kalau Akak sekarang ini suami El."
Juan Mahardika berjalan mendekati Elfa sambil mengerucutkan bibirnya, "Tega banget sih, Sayang Garwoku yang cantik. Suami sendiri dilupakan."
"Eee, mengapa ke sini? Sana ganti baju di kamar mandi!"
Juan Mahardika duduk di samping Elfa. Meletakkan baju yang tadi dipegang di bantal yang ada di samping Elfa. Meraih tangan dan mengecup punggung tangannya berkali-kali.
Tangan Elfa terasa dingin dengan wajah yang terlihat ketakutan. Juan Mahardika mengusap pipi Elfa juga terasa dingin, "Sayang, mengapa tangan dan pipi dingin begini?"
"El takut, Akak."
"Takut apa?"
"Itu bumerang Akak yang tidak dikandangi, hanya tertutup handuk saja."
Juan Mahardika tergelak sambil menyingkap sedikit handuk yang dikenakan, "Dia sudah jinak jangan khawatir, lihatlah!"
"Akak, cepat tutup El masih takut."
"Maaf, baik Akak tutup deh."
"Cepat Akak pakai baju!"
"Akak ganti baju di sini, El boleh lihat. Latihan dan Akak akan membuktikan kalau senjata bumerang Akak ini sudah jinak."
"El tidak mau lihat." Elfa menutup mata dengan dua tangan.
"Dia hanya terbangun saat bersama El saja, ini lihatlah dia terbangun."
"Akak, cepat dikandangi dulu!"
"Iya baik, Sayang."
Juan Mahardika hanya tersenyum kecut melihat Elfa menutup mata dengan dua tangan. Sambil memakai baju dan celana, tetapi matanya tertuju pada Elfa yang mulai berkeringat. Tidak menyangka yang dilakukan dulu membuat trauma sampai sekarang.
"Maafkan Akak, Sayang." Juan Mahardika duduk kembali di samping Elfa.
Tidak hanya tangan dan pipi yang dingin. Seluruh badan Elfa terasa sangat dingin dan mengeluarkan keringat. Wajahnya mulai pucat dan terlihat sangat sedih.
__ADS_1
"Sini, Akak peluk!" Juan Mahardika meraih tubuh Elfa dengan perlahan.
Tubuh didekap dan mencium keningnya berkali-kali, "Maaf, Sayang. Tidak menyangka akibat perbuatan Akak dulu sampai seperti ini. Jangan takut, Akak hanya akan memeluk El."
"Jangan paksa El, El takut."
"Iya, Sayang. Akak akan menunggu El sampai tidak takut, I love you so much."
Elfa terdiam dalam pelukan Juan Mahardika. Pikiran sebenarnya mulai bisa menerima cinta yang ditunjukkan dangan sepenuh hati. Namun, di hati yang paling dalam masih merasakan luka yang tersimpan. Tanpa disadari rasa takut itu masih menyelimuti hati dan terbayang dipelupuk mata.
"Apa yang harus Akak lakukan, agar keringat dingin ini hilang?"
"Tidak tahu, nanti juga hilang sendirinya."
"Obatnya dipeluk seperti ini?"
"El juga tidak tahu."
Juan Mahardika semakin erat memeluk Elfa. Memberikan kehangatan hati agar bisa mengobati luka yang dialami. Sambil dibelai rambutnya dan sesekali mengecup kening.
Untung pusaka walau terbangun dengan sempurna, seolah dia tahu jika pemilik hati masih trauma. Disamping masih menstruasi, dengan bergumam dalam hati diperintahkan untuk bersabar. Dengan anteng pusaka tertidur kembali tanpa memberontak lagi.
"Akak buatkan teh hangat mau?"
"Tidak usah, emang Akak bisa membuat teh hangat?"
"Gambang itu, nanti Akak tanya mbah goegle."
Ada ketukan pintu dari luar perlahan bersamaan terdengar suara manja Jasmine Mahardika, "Kak El, Kak Juan!"
"El tunggu di sini, Akak buka pintu!"
"Hhmm."
"Ada apa, Jasmine?" tanya Juan Mahardika setelah membuka pintu.
"Dipanggil Mom dan Dad, berdua sama Kak El!"
"Ya tunggu."
Juan Mahardika keluar kamar sambil menggandeng Elfa. Tangan yang masih terasa dingin rasanya tidak tega untuk membiarkan dia sakit sendiri. Mencoba untuk menghilangkan trauma itu dengan perhatian dengan tulus.
Jasmine Mahardika langsung tersenyum sendiri melihat kemesraan pasangan pengantin baru, "Kak Juan, bikin iri saja sih!"
"Tuup mata, Jasmine belum cukup umur!" Juan Mahardika berlalu meninggalkan Jasmine Mahardika yang masih terpaku.
"Enak aja, Jasmine sudah dewasa. Bukan anak kecil lagi."
Duduk di depan Mommy Vera dan Daddy Hans Mahardika tetap menggenggam tangan Elfa. Tidak ada keluarga Elfa satupun saat ini. Mereka sedang berkumpul di luar berbincang dengan tetangga sambil menikmati kue sisa acara walimah tadi siang.
__ADS_1
"Ada apa, Mom?" tanya Juan Mahardika.
"Dua minggu lagi, Mom akan mengadakan party untuk merayakan pernikahan kalian. Jadi malam ini Mom dan Dad harus pulang."
"Baik, apakah Dad sudah bilang pada Papi dan Pakde Sarto?"
"Belum, Dad bicara dulu dengan kalian. Setelah itu nanti akan berpamitan dengan keluarga di sini."
"Mom ingin kalian ikut kita pulang sekarang, bagaimana?"
Juan Mahardika memandang Elfa sambil mengusap pipinya dengan mesra, "Bagaimana, El mau ikut Mom pulang sekarang?"
"Terserah Akak saja, tetapi El ingin ke makam Almarhumah Oma Anna terlebih dahulu."
"Ke Riyadh?"
"Iya, lusa pagi bersama Opa Ali."
"Siapa Oma Anna itu, Nak?" tanya Daddy Hans Mahardika.
"Ibu kandung dari Papi," jawab Elfa
"Ooo berarti istri dari Abi Ali?" tanya Mommy Vera.
"Benar sekali, Mom. Oma Anna meninggal sekitar satu tahun yang lalu."
"Turut berduka ya, Nak. Semoga Almarhumah bahagia di surga," doa Mommy Vera.
"Aamiin, terima kasih, Mom."
Juan Maharika mengangguk dan tersenyum sambil kembali mengusap lembut lengan Elfa. Acara di Australia masih lama, lebih baik mewujudkan keinginan istri terlebih dahulu. Akan pulang setelah acara mendekati hari H nanti.
"Kami ke Riyadh dulu ya, Mom."
"Pesawat akan mengantar Mom pulang, Juan mau naik pesawat komersil?"
Elfa langsung tersenyum, kemungkinan mertua tidak banyak mengetahui tentang keluarga Zulkarnain. Walaupun perusahaan tidak sebesar milik keluarga Mahardika. Namun, keluarga Zulkarnain juga memiliki pesawat pribadi walaupun tak sebesar dan semewah keluarga Mahardika.
"Jangan khawatir, Mom. El naik pesawat pribadi juga ke Riyadh."
"Benarkah, maaf Mom belum mengetahui banyak tentang keluarga El."
"Tidak apa-apa, Mom."
Pukul delapan malam keluarga Mahardika berpamitan pulang. Naik helikopter sampai Bandara Internasional Adi Sucipto. Kemudian meneruskan menggunakan pesawat pribadi menuju Australia.
Elfa termenung sambil membersihkan wajah di kursi meja rias. Teringat tadi sore saat berkeringat dingin setelah melihat Juan Mahardika hanya melilitkan handuk di pinggang saja. Malam ini adalah malam pertama berdua setelah menikah walau masih menstruasi.
Jantung berdegup kencang dan gelisah, melirik Juan Mahardika yang berbaring di tempat tidur sambil bermain di ponsel. Tetap duduk di kursi dan tidak beranjak dari kursi walaupun sudah selesai memakai krim malam.
__ADS_1
"Sayang, sudah selesai berdandanya, ayo sini!"