Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 155. Pesan dari Mr. Yo


__ADS_3

Asisten Dwi Saputra baru mengambil ponsel milik Kris yang tergeletak di samping saku gaun hamil. Belum sempat membuka isi pesan WA yang baru saja masuk dalam jumlah banyak. Elfa langsung menggelengkan kepala dan mengambil ponsel yang ada di tangan Asisten Dwi Saputra.


"Tunggu dulu, Asisten Dwi!"


Juan Mahardika kaget melihat apa yang dilkakukan istrinya, "Kenapa tidak boleh, Sayang?"


"Bukan tidak boleh, Akak. Takutnya nanti menyinggung perasaan Kris, lebih baik di sadap saja tanpa sepengetahuan Kris. Akan lebih aman dan kita akan lebih mudah mengetahui jika dokter gila itu ingin menyakiti Kris."


"Ooo kirain, lakukan sekarang Dwi!"


"Siap, Tuan. Saya akan ambil laptop saja dulu."


Hanya kurang dari seperempat jam, isi semua ponsel milik Kris langsung bisa dilihat di laptop. Tanpa diketahui yang memiliki ponsel jika ponsel di sadap. Akan mudah untuk melacak keberadaan ponsel atau pemiliknya jika suatusaat nanti terjadi sesuatu.


Dari pesan WA yang masuk ada sekitar dua belas pesan. Pesan WA itu berasal dari dua orang yang berbeda dan nomor berbeda pula. Nomor yang pertama nomor wilayah plus enam dua, dan nomor yang kedua adalah nomor kode Australia.


Yang pertama dibaca oleh suami Rena adalah pesan dari nomor kode wilayah Jakarta. Dilihat dari profilnya ada foto seorang wanita dewasa yang sedang memangku balita laki-laki yang berwajah orienal. Pesan itu bertuliskan jika rombongan dokter akan berpindah ke Tangerang.


"Sekarang baca yang dari nomor koode negara Australia, Dwi!" perintah Juan Mahardika.


Asisten Dwi Saputra langsung membaca pesan WA dari nomor dari wilayah Australia dengan nama Mr. Yo. Dari pesan itu ada tulisan ancaman sekaligus rayuan. Padahal kiriman pesan dalam waktu berdekatan tidak kurang dari lima detik.


"Cepat kembali jika ingin adik dan ibumu selamat!" tulisan pesan WA dari Mr. Yo yang pertama.


Pesan ancaman lainnya, berupa foto jalan raya yang menunjukkan rumah kontrakan yang ditempati adik Kris yang kedua Trias ditambah tulisan, "Sekarang aku sudah di sini, cepatlah kembali!"


Juan Mahardika tersenyum devil mendengar Asisten Dwi Saputra membaca ancaman dokter gilla itu. Menebak kemungkinan dia belum tahu jika adik Kris sudah di pindahkan ke tempat yang aman. Dan sekarang kontrakan itu ditempati anak buah Asisten Dwi Saputra.


Elfa yang belum tahu situasi yang ada di Indonesia langsung bingung dan ketakutan sambil terisak, "Akak cepat selamatkan Trias!"


"Eee jangan menangis, El jangan khawatir Rama Prayuda, Trias Prayuda dan Ibu Prayuda semua sudah berada di tempat yang aman," jawab Juan Mahardika sambil mengusap air mata Elfa yang mulai menetes.


"Alhamdulillah," ucap Rena.


"Syukurlah, mengapa Akak tidak cerita dari tadi?"

__ADS_1


"Iya maaf Akak lupa."


"Aa coba baca rayuan dari Mr. Yo itu, Rey ingin dengar!"


"Krisy, putra kita pasti sangat merindukan papinya. Kapan kamu kembali?" baca Asisten Dwi Saputra sambil tersenyum devil.


Elfa termenung mendengar Asisten Dwi Saputra membaca pesan rayuan itu. Ada hal janggal pada pesan rayuan itu karena jika di pahami betul-betul dibalik rayuan itu ada kerinduan untuk beraksi berdua. Itu seperti percakapan seorang suami yang sangat merindukan istri dan ingin menikmati indahnya berdua.


"Rey, tolong letakkan ponsel Kris di tempat semula!"


"Iya Aa."


Rena tersentak kaget saat tangan Kris bergerak dengan cepat. Tangan Kris menyenggol ponsel miliknya sendiri sesaat Rena baru saja meletakkan ponsel di samping saku.


Ponsel langsung meluncur jatuh dari tempat tidur. Walau ponsel hanya retak layarnya, tetapi ponsel langsung mati total. Suara ponsel jatuh terdengar keras sampai mengagetkan Kris dengan spontan bangun dan terduduk, "Astagfirulllah!"


"Yaah Kris, ponselnya jatuh dan pecah," kata Rena merasa bersalah.


"Itu ponsel Kris?"


"Biarkan saja tidak apa-apa, buang saja di sampah. Kris sudah tidak berminat memiliki ponsel itu bikin sakit hati saja."


Asisten Dwi Saputra tersenyum sambil memberikan kode kepada Juan Mahardika dan berjongkok, "Saya saja yang membuang ponsel ini."


"Terima kasih, Aa Dwi."


"Sama-sama."


Elfa baru duduk mendekati Kris dan ingin bertanya, tiba-tiba terdengar suara dari dalam perut Kris. Suara yang menandakan kalau bayi dalam perutnya minta diisi, "Itu suara perut Kris yang lapar atau bayi yang minta dikirim makanan?"


Sambil tersenyum Kris mengusap perutnya, "Dua-duanya."


Elfa tersenyum ikut mengusap perut Kris, "Ayo sarapan!"


Datang tim dokter sebelum Kris turun dari tempat tidur. Pagi hari waktunya dokter memeriksa pasien yang kemarin seolah dalam keadaan depresi berat. Namun, sekarang ini seperti tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Kami periksa sebentar ya, Nyonya?"


"Iya silakan, Dok!"


Juan Mahardika berdiri dan mengusap pundak Elfa, "Sayang, Akak tunggu di meja makan ya?"


"Iya, sekalian Asisten Dwi juga duluan!"


"Ok siap."


Saat Kris diperiksa oleh tim dokter, Elfa memandangi wajah Kris yang terlihat ceria. Wajahnya tidak menunjukkan kesedihan seperti kemarin. Bahkan, banyak bertanya dan bercerita kepada tim dokter.


Rena berdiri disamping Elfa sambil tersenyum melihat Kris yang terlihat bahagia. Wajahnya mencerminkan kebahagiaan sebentar lagi akan memiliki momongan. Keceriaan itu membuat hati dua sahabat sedikit lega.


"Rey, El akan menyiapkan sarapan dulu ya!"


"Ok, Rey nanti yang akan mengajak Kris ke luar."


Elfa ke luar kamar rawat inap klinik pribadi sambil tersenyum. Ada rasa lega setelah melihat Kris ceria dan bahagia walau sebenarnya masih ada banyak misteri. Ingin membuat ibu hamil itu semakin rileks dengan mengajak sarapan dengan suasana yang berbeda.


Ada dua koki yang bertugas membuat menu sarapan kali ini. Mantan karyawan pemilik rumah lama itu sangat cekatan membuat sarapan menu khas Indonesia yang diminta Elfa. Sebagian besar karyawan adalah tenaga kerja resmi yang berasal dari Indonesia.


Elfa minta menata meja makan di luar rumah saja. Tepatnya berada di taman kecil yang ada ada di pojok halaman belakang. Taman yang banyak ditanami berbagai macam bunga yang baru mekar.


Ada juga suara gemercik ikan berenang yang ada di kolam kecil samping gazebo. Ditambah suara burung yang berkicau di sangkar yang berada di pinggir samping kolam renang. Ditambah udara segar pagi hari dan matahari yang terlihat mengintip di balik gedung.


Kris langsung berbinar melihat suasana meja makan yang tertata rapi di samping taman. Apalagi tidak hanya Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra yang duduk di kursi meja makan itu. Datang Mama Vera, Papa Hans dan Jamine ikut bergabung untuk sarapan bersama.


"Waaah, indah sekali suasananya di sini, seandainya saat ini Kris sedang ada di surga, betapa bahagianya hati ini."


BERSAMBUNG


Yok mampir di novel teman yang rekomen ini


__ADS_1


__ADS_2