Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 157. Kembar


__ADS_3

Juan Mahardika duduk di samping Elfa mengusap perut istrinya, "Semoga nanti kalau dia sudah lahir bisa bermain bola bersama."


"Aamiin." Tiga sahabat berucap bersamaan.


Juan Mahardika tersenyum melihat tiga sahabat terlihat ceria dan tertawa bersama. Wajah khawatir itu seolah sudah hilang berganti dengan keceriaan. Yang awalnya khawatir takut sang istri menangis lagi sekarang menjadi lega.


"Semoga selalu sehat nanti kita bermain bola bersama." Juan Mahardika mengusap kembali perut Elfa.


"Akak ingin bayi laki-laki seperti bayinya Kris?"


"Kalau boleh meminta kembar satu laki-laki dan satu perempuan," jawab Juan Mahardika masih mengusap perut Elfa.


Dari hamil kemarin Elfa hanya di periksa secara umum saja oleh tim dokter. Karena masalah yang dihadapi oleh Kris, sehingga tidak sempat untuk USG. Kehamilan hampir berbeda tiga bulan dengan Kris, tetapi perut hampir sama besarnya.


"Ayo USG dulu, Sayang. Akak ingin melihat bayi kita!"


"Betul juga, apakah Mommy Vera sudah pulang?"


"Belum, Mommy istirahat di kamar. Apakah El pingin mengajak Mommy?"


"Iya, El ingin didampingi Mommy."


"Akak yang panggil Mommy, El ke klinik sama Kris dan Rey dulu ya!"


"Iya, ayo Kris ... Rey!"


Kedatangan Elfa, Kris dan Rena hampir bersamaan Juan Mahardika dan keluarga. Ditambah Asisten Dwi Saputra yang ikut bergabung menunggu di ruang tamu yang di rancang khusus umtuk berbincang keluarga. Tim dokter sudah bersiap-siap untuk memeriksa Elfa.


Yang masuk ke ruang dokter Emy hanya Elfa, Juan Mahardika dan Mommy Vera saja. Yang lain menunggu di ruang tamu khusus sambil berbincang. Dibantu oleh dua suster dan satu bidan yang mempersiapkan semua.


Dari merebahkan di tempat tidur single bed sampai menyelimuti dari kaki sampai pinggang, Juan Mahardika yang melakukan, "Apa lagi, Sayang?"


"Akak duduk sini saja, jangan ke mana-mana!"


"Tentu saja." Juan Mahardika duduk disamping Elfa sambil menyatukan jemari dengan sempurna.


"Baik bisa dimulai?" tanya Dokter Emy.


"Ya, silakan, Dok!"


Dokter Emy, bidan dan dua suster bekerja sama dengan cepat. Memeriksa semua prosedur pemeriksaan awal. Berpindah dokter Emy mulai menghidupkan tombol USG. Bersamaan bidan mengoleskan jel di perut.


Stik transducer USG langsung tersambung di layar dengan gerakan perlahan dan samar. Awalnya Dokter menggerakkan alat tranducer perlahan ke samping kanan, kiri dan ke atas bawah, "Tunggu dulu!" kata Dokter Emy mengembalikan alat tranducer bergerak ke tempat awal.

__ADS_1


"Ada apa, Dok?" tanya Mommy Vera.


"Tidak cuma satu bayinya yang tumbuh di rahim, Nyonya."


Elfa dan Juan Mahardika langsung saling pandang. Baru saja dibicarakan ingin memiliki dua bayi sekaligus. Seolah permohonan langsung di dengar dan langsung dikabulkan oleh yang maha kuasa.


"Alhamdulillah, permintaan Akak langsung terkabul." Juan Mahardika langsung berucap syukur.


"Apa benar ada bayi kembar di rahim El, Dok?"


"Benar sekali, Nyonya. Anda Akan memiliki bayi kembar."


"Alhamdulillah."


Mommy Vera langsung tersenyum bahagia, akan mendapatkan cucu sekaligus dua, "Semoga kembarnya satu perempuan dan satu lagi laki-laki."


"Aamiin, Juan juga inginnya seperti Mommy."


"Semoga semua lancar dan sehat selalu ya, Nak El."


"Iya, Mom."


"Terima kasih, Sayang. Telah mengabulkan harapan Akak, selalu jaga kesehatan dan jangan lupa minta apapun jika mengiginkan sesuatu!"


Kabar bahagia Elfa langsung sampai pada keluarga di Jakarta dan Bogor. Papi Alfarizi dan Mami Mitha berencana sore nanti akan datang untuk mengucapkan selamat langsung. Ikut juga Abi Ali yang kebetulan sedang berada di Jakarta.


Tidak hanya keluarga saja yang sangat bahagia, dua sahabat juga sangat antusias mendengar akan mendapat dua keponakan sekaligus, "Selamat, semoga Rey juga menyusul punya baby."


"Seru juga kalau kita hamil bersama," kata Kris dengan antusias.


"Aamiin, semoga Rey nyusul."


Siang hari keluarga Juan Mahardika perpamitan pulang. Rena dan Asisten Dwi Saputra beristirahat di kamar. Elfa juga harus beristirahat di kamar bersama suami tercinta. Juan Mahardika terus mengusap perut Elfa sambil tersenyum saat Elfa sedang berbaring, "Akak sangat bahagia, terima kasih, Sayang."


"Iya sama-sama, Akak. Sudah jangan mengusap perut El terus, El mau istirahat ini!"


"Akak sampai tidak bisa melukiskan kebahagiaan itu dengan kata-kata."


"Bersyukur saja kepada yang maha kuasa, memberikan santunan kepada anak yatim piatu. Membantu orang yang kesusahan termasuk Kris."


"Iya, semua akan Akak lakukan termasuk membantu Kris sampai selesai."


Elfa teringat cerita yang menggantung Kris tadi pagi. Cerita jika Dokter Yohan Carnett ingin balas dendam. Elfa bisa menebak berarti balas dendam karena cinta yang ditolak.

__ADS_1


"Bagaimana perkembangan tentang dokter itu, Akak?"


"Kabar terakhir hari ini dokter gila itu sekarang sedang menuju ke rumah orang tua Kris."


"Di mana Ibu Prayuda, Trias dan Rama sekarang ini?"


"Mereka ada di Bandung. Akak punya apatemen di tengah kota, sekarang ini mereka aman."


"Syukurlah, apakah bisa tolong belikan ponsel baru untuk Kris, biar mereka bisa kontak langsung?"


"Kecil itu, El istirahat dulu ya?"


"Iya El tidur dulu." Juan Mahardika menmeluk erat Elfa sampai terlelap.


Kris masih dipantau oleh tim dokter baik dari segi kesehatan fisik dan pikiran. Jika dilihat sekilas Kris selalu bersikap seperti biasa. Namun, Kris sering termenung dan menangis sendiri tanpa sebab saat tidak ada yang menemani.


Tidak satu detik pun tim dokter meninggalkan Kris sendirian. Terkadang suster mengajak berbincang layaknya teman. Kris adalah tipe wanita yang mudah bergaul, baru kenal satu hari saja langsung akrab dengan tim dokter.


Pada sore hari, Asisten Dwi Saputra memberikan satu ponsel kepada Kris. Dalam posel itu hanya ada nomor kontak tebatas. Selain tiga sahabat, ada juga nomor kontak keluarga Kris yang sekarang ini berada di Bangung.


Sore ini Elfa dan Rena mengajak Kris jalan-jalan keliling rumah mewah milik Elfa. Berjalan sambil berbincang dan bercanda tanpa memakai alas kaki. Sedangkan para suami sedang meeting online dengan investor yang ada di Jakarta.


Elfa teringat dengan cerita Kris yang terputus tadi pagi. Sambil berjalan Elfa ingin mengetahui cerita selanjutnya, "Kris apakah balas dendam yang dimaksud suami rahasia itu pada El dan Akak Juan?"


Kris menjawab mengangguk dan menggeleng, Masih teringat saat suami rahasia itu menghubungi seseorang menggunakan ponsel. Membuat Elfa bingung karena jawaban menggangguk dan menggeleng secara bergantian.


"Apa maksud mengangguk dan menggelengkan kepala?" tanya Elfa penasaran.


"Kris mendengar sendiri cerita itu, bukan hanya dendam kepada El dan suami El saja, tetapi Aa Dwi dan Abang Alfian juga."


"Mengapa Abang Al dan suami Rey juga ikut terlibat?"


"Karena Aa Dwi yang mendeportasi dia ke Auatralia setelah acara resepsi El waktu itu."


"Terus apa yang terjadi setelah mendengar tujuan sebenarnya menikahi Kris itu hanya balas dendam?" tanya Elfa penasaran.


"Terjadi ini, perut Kris melendung," jawab Kris sambil menunjuk perutnya.


"Maksudnya?" tanya Elfa dan Rena bersamaan.


BERSAMBUNG


Yuk mampir di novel teman yang rekoment ini

__ADS_1



__ADS_2