Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 131. Bau Pupuk Kandang


__ADS_3

Juan Maharika mendengar Elfa sedang berbicara sendiri. Memeriksa tempat tidur yang ada di sebelah. Dan kembali bermonolog sendiri sambil mencium kakinya, "El kira Akak bisa tidur tanpa memeluk El?" Tiba-tiba Suara itu terdengar dari pintu kamar mandi.


"Akak, El kira masih di luar."


"Akak hanya dua jam saja di luar, masuk kamar El sudah terlelap."


"Benarkah, kok El tidak tahu Akak tidur di samping El sih?"


Juan Mahardika tersenyum sambil teringat tadi malam saat masuk kamar Elfa sudah terlelap. Di cium bibir dan pipinya tidak terbangun. Bahkan, memberikan tanda kiss mark di sekitar leher dan sekitarnya juga tidak terbangun sama sekali.


"Apakah El capek banget, coba lihat leher dan sekitarnya, Akak berikan tanda El tidak terbangun juga!"


Elfa langsung menunduk buah baju sudah terlepas dan terbuka. Ada tanda kepemilikan bertebaran di mana-mana. Warna merah keunguan yang berbentuk khas ulah suami tercinta.


"Banyak banget, mengapa El tidak terasa ya?"


"Lain kali jangan terlalu capek, atau kalau capek bilang Akak. Pasti akan Akak berikan terapi yang memuaskan," jawab Juan Mahardika sambil mengedipkan mata.


Elfa hanya mengerucutkan bibirnya karena mulai bisa membaca modus suami, "El mau solat dulu, dilarang modus!"


Pagi hari setelah sarapan, Juan Mahardika siap-siap untuk berangkat ke kantor. Elfa mengantar sampai pintu berjalan melenggang disamping sang suami. Ingin membawakan tas kerjanya seperti saat Papi Alfarizi berangkat dan Mami Mitha yang membawakan tasnya, tetapi dilarang oleh suami.


Sampai pintu, Elfa meraih dan mencium punggung tangan Juan Maharidka, "Hati-hati di jalan ya, Akak!"


"Doakan Akak selamat dan sukses," jawab Juan Mahardika mencium kening Elfa.


"Iya, sukses untuk terus untuk Akak."


Beru saja melangkah ke luar pintu, Juan Mahardika mencium bau tukang kebun yang membawa pupuk kandang untuk taman yang ada di belakang. Tas terlepas dari tangan karena untuk menutup hidung dan mulut, "Pak Min, bau banget!"


"Maaf, Tuan. Ini pupuk kandang jadi memang bau kotoran hewan."

__ADS_1


Elfa yang awalnya ingin berbalik badan masuk, berlari mendekati suami yang sedang memegangi perutnya," Ada apa, Akak?"


"Mau banget, Sayang." Suara Juan Mahardika tidak terlalu jelas karena tertutup.


"Pak Min, cepat bawa ke belakang!"


"Baik, Nyonya maafkan Pak Min." Pak Min bergegas berlari membawa satu karung pupuk kandang ke belakang rumah.


"Apakah mual kayak tadi malam, Akak?" Juan Mahardika menjawab dengan mengangguk.


"Ayo masuk dulu, El buatkan jahe hangat!"


Elfa mengambil tas yang tadi berada di lantai. Berjalan mengikuti suami yang berjalan dengan langkah panjang. Langsung membuka kamar mandi yang berada disamping dapur kering.


Juan Mahardika memuntahkan sarapan roti sandwich dan satu gelas susu coklat. Elfa membantu meringankan dengan memijat tengkuknya perlahan. Memberikan tisu setelah semua sarapan ke luar tanpa sisa.


Elfa jadi teringat pedagang daging di pasar tradisional saat dia bertanya, "Akak sedang hamil?"


Juan Mahardika tergelak sambil ke luar kamar mandi. Yang hamil seharusnya seorang wanita bukan laki-laki, "El ini aneh, Akak ini laki-laki mana bisa hamil?"


"Benar juga ya, seharusnya Akak yang tanya El?" El masih belum menyadari pada diri sendiri.


"Sayang, ayo kita duduk di sini!" ajak Juan Mahardika membimbing Elfa duduk di kursi meja makan.


Elfa duduk di kursi, Juan Mahardika berjongkok sambil mengusap perut istri tercinta, "Yang seharusnya hamil itu ini, Sayang."


Elfa menunduk sambil melihat perut yang diusap oleh suami, "El hamil? El tidak merasakan apa-apa kok."


Juan Mahardika melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangan. Waktu sudah hampir jam sembilan pagi. Ada janji dengan klain sebentar lagi di kantor.


"Nanti kita bahas lagi deh, Akak harus berangkat. Ada janji dengan klain."

__ADS_1


"Iya, Akak berangkat sana!"


Elfa mencari informasi di internet tentang seputar kehamilan. Walau dulu bekerja di rumah sakit, tetapi tidak pernah mempelajari tentang kehamilan. Sebelum menikah pasti akan terasa aneh jika mencari informasi tentang ibu hamil.


Yang pertama Elfa baca tentang datang bulan yang terlambat adalah tanda-tanda seseorang itu sedang hamil. Langsung mengerutkan keningnya mengingat terakhir tamu bulanan datang. Tepat hari ini seharusnya tamu itu datang, "Terkadang mundur satu atau dua hari, berarti ini belum bisa dikatakan hamil," monolog Elfa sendiri.


Ciri-ciri umum yang kedua adalah mengalami mual, pusing dan muntah pada pagi hari. Merasa tidak pernah mengalami ciri-ciri itu sama sekali, "Yang muntah itu Akak, El tidak hamil berarti, Akak saja yang tidak bisa mencium hal aneh." Kembali Elfa bermonolog sendiri.


Semakin kehamilan bertambah besar semakin banyak informasi yang didapat oleh Elfa. Hanya satu yang menjadi perhatian Elfa yaitu ngidam. Kata ngidam masih banyak diperdebatkan antara versi percaya dan tidak percaya.


Keinginan untuk berkunjung ke IKN sampai sekarang mash menggebu. Selalu teringat tempat itu dan ingin cepat ke sana. Rasanya tidak ingin ditunda lagi dan ingin berangkat sendiri.


Elfa membayangkan menghubungkan keinginan hati dengan ngidam ingin mengunjungi IKN yang viral itu, "Andai El ngidam ingin berkunjung kesana pasti tidak akan menunggu sampai minggu depan," kata Elfa sambil mencari infomasi tentang IKN.


Dari informasi yang dibaca, pembangunan IKN belum selesai semua. Sekarang ini masih dibangun infrastruktur pendukung untuk persiapan ibu kota baru. Dari kemarin hanya ingin berkunjung di titik nol IKN yang terlihat ikonik.


Sejak Presiden resmi mengumumkan Kalimantan Timur sebagai lokasi Ibu Kota Negara pengganti DKI Jakarta. Kini Titik Nol Kilometer IKN sering menyedot perhatian masyarakat termasuk diri sendiri. Sangat penasaran karena wilayah yang awalnya daerah pedesaan di sulap menjadi ibu kota yang masih bersih dan segar.


Wilayah berada di hutan belantara yang dibangun tanpa banyak merusak lingkungan menjadi tujuan wisata yang paling favorit bagi masyarakat yang penasaran. Banyak wisatawan yang berkunjung ke IKN Kalimantan Timur hanya untuk bersalfi ria. Menunjukkan pada dunia jika sudah berkunjung di ibu kota negara yang baru.


Sedang asyik mencari informasi di internet, ada bel pintu terdengar dari luar, Bibi Sumini berlari menuju pintu depan, "Nyonya, Bibi saja yang buka pintu!"


"Iya, Bibi. Terima kasih."


Dalam waktu lima menit Bibi Sumini kembali bersama seorang laki-laki berseragam perusahaan, "Nyonya, ada Pak Iskandar sopir kantor ingin menemui Anda."


"Assalamualaikum dan selamat pagi, Nyonya."


"Walaikum salam, ada apa Pak Kandar?"


"Saya diperintahkan Tuan Juan untuk menjemput Anda sekarang, Nyonya!"

__ADS_1


"Mau ke mana, Pak?"


"Kunjungan Tuan Juan ke Samarinda dimajukan jadi hari ini, Anda di tunggu di kantor sekarang!"


__ADS_2