
Juan Mahardika juga ikut berpikir keras menebak kemungkinan di mana Elfa sekarang. Dari awal akan pergi ke Swiss sangat antusias karena belum pernah mengunjungi negara ini. Pernah bercerita dulu ingin kuliah di negara ini karena terkenal dengan negara paling ramah untuk mahasiswa yang sedang menuntut ilmu.
Juan Mahardika berpikir sambil memutar ponsel berkali-kali. Matanya terbelalak setelah memiliki ide yang berhubungan dengan ponsel yang dipegang, "Oya kamu lacak nomor ponsel El sekarang, Dwi?"
"Ide bagus, Tuan. Tunggu sebentar!"
Jaman canggih dan tegnologi semakin maju seperti sekarang ini. Sangat mudah melacak seseorang jika ponsel dalam keadaan masih aktif. Hanya dengan menjentikkan jari saja langsung bisa diketahui posisi ponael milik Elfa.
"Posisi ponsel ada di jembatan Kapel Lucerne, Tuan."
"Berarti tidak jauh dari sini, ayo kita ke sana sekarang!"
Asisten Dwi Saputra berlari terlebih dahulu ke luar apartemen. Untuk menyiapkan mobil yang akan dipakai pergi ke jembatan Kapel Lucerne. Juan Mahardika menyambar tas dan identitas diri serta menutup pintu apartemen. Berlari kekencang mungkin menyusul sang asisten ke parkiran yang ada di lantai dasar.
Masuk mobil dengan cepat sesaat sebelum mobil melesat membelah jalanan kota Swiss yang padat. Pikiran sudah tidak bisa diajak untuk berpikir positif. Sangat takut terjadi sesuatu pada istri tercinta karen ponsel yang tidak diangkat.
Posisi apartemen dan jembatan Kapel Lucerne hanya sekitar lima kilometer saja. Kemungkinan Elfa menggunakan kendaraan umum menuju ke sana. Ada pilihan kendaraan yang bisa menuju ke sana tinggal memilih salah satunya.
Juan Mahardika langsung turun dari mobil saat sudah berada di ujung jembatan. Melihat dari tempat berdiri sampai ujung jembatan. Mencari dengan cemas dan hati gelisah, setiap orang yang berdiri di lihat dengan teliti.
Ada rasa takut yang berlebihan dirasakan di hati. Takut kehilangan, takut dia pergi meninggalkan tanpa alasan. Takut pergi disaat hati sedang sayang-sayangnya.
Berlari dan mencari sampai pertengahan jembatan. Melihat wanita yang tertegun karena ada pemandangan yang sangat menakjupkan. Juan Mahardika berkali-kali mengambil napas lega, "Di sini rupanya," monolog Juan Mahardika mendekati Elfa.
"Yaa Allah, Sayang. Aka sangat khawatir," kata Juan Mahardika langsung menarik Elfa dalam pelukan.
"Eee, Akak ...?" Elfa terdiam saat Juan Mahardika memeluknya dengan erat.
Elfa bisa merasakan jantung Juan Mahardika berdetak tidak beraturan. Wajahnya terlihat khawatir dan bingung. Hanya membalas pelukan sambil berkali-kali mengecup pipi.
"Maaf, El membuat Akak khawatir ya?"
__ADS_1
"Iya, Akak hampir mati berdiri mencari El, mengapa Akak menghubungi El tidak dijawab?"
"Maaf, ponsel ada di dalam tas sehingga tidak dengar. El kagum dengan suasana yang sangat tenang di sini sampai tidak dengar Akak menghubungi."
"Mengapa tidak bilang kalau mau ke luar, Akak sangat takut kehilangan El?"
"Eleh-eleh, kasihan. Sekali lagi maaf, El kira Akak pulang sore jadi El pergi sendiri. Di apartemen juga tidak ada orang, jadi El bingung siapa yang dipamiti?"
"Lain kali jangan bikin Akak takut, apa jadinya kalau Akak kehilangan El?"
"Iya, El tidak akan mengulangi lagi." Elfa memeluk erat Juan Mahardika yang masih terlihat khawatir.
"Akak sudah membayangkan yang tidak-tidak tadi, jangan tinggalkan Akak."
Elfa tergelak mendengar ketakutan suami yang berpikiran akan kehilangan. Saat ke luar apartemen tadi tidak memprediksi suami pulang cepat. Niat awal sebelum sore akan segera pulang dan sudah ada di apartemen saat suami pulang.
Asisten Dwi Saputra berdiri menghadap danau sambil melirik pasangan suami istri yang sedang berpelukan. Suasana yang tenang, pemandangan yang indah yang membuat istri dari tuannya itu terhipnotis dan lupa waktu. Ikut lega bisa menemukan dan menghilangkan kekhawatiran kehilangan istri.
Elfa diajak Juan Mahardika ke kastil yang terletak dipinggir danau yaitu ke Chillon Castle. Berwisata juga ke kereta gantung yang melewati gunung yang bersalju yaitu di Titlis. Dan masih banyak lagi tempat yang sangat indah yang tidak terlupakan.
Hari terakhir di Swiss, Elfa dan Juan Mahardika menginap di kota kecil Interlaken. Kota kecil di Swiss yang membuat Elfa terpesona akan keindahannya. Kota ini menjadi tujuan pasangan suami istri yang baru menikah untuk berbulan madu.
Elfa seolah tenggelam dalam keindahan pegunungan Alpen. Apalagi saat melakukan perjalanan melalui Jungfrau Region. Salah satu puncak pegunungan Alpen, Elfa sangat mengagumi keindahan alam yang sangat mempesona.
"Rasanya El tidak ingin pulang, Akak. di sini sangat indah."
"Bagi Akak yang paling indah tetaplah istri tercinta."
"Beda dong. Akak tidak suka pemandangan di sini?"
"Akak lebih suka memandang El saja."
__ADS_1
"Dari tadi merayu terus."
Sambil tergelak, Juan Mahardika mengusap pipi Elfa. Sesekali melihat area sekitar wisata. Tidak ingin ada yang mengganggu dari wanita masa lalu.
"Akak mencari siapa sih, dari tadi melihat ke sana ke mari?"
"Tidak, Akak cuma lapar," jawabnya asal.
"Akak mau makan?"
"Iya, paling enak makan El saat dingin seperti ini, pasti jadi panas membara."
"Dasar modus."
Kembali ke apartemen, Elfa dan Juan Mahardika naik perahu romantis di Lake Brienz dengan naik ke Donna Anna, yang merupakan perahu taksi Venesia asli. Duduk berdampingan sambil menggenggam tangan.
Dalam perjalanan Juan Mahardika mendapat laporan dari pengacara yang ada di Australia. Tentang sidang yang akan di gelar bulan depan. Para tersangka masih berupaya ingin bertemu dan mengajak berdamai.
Ada berita satu lagi tentang Dokter Yohan Charnett yang sangat mengejutkan. Laki-laki itu mengajukan banding untuk tidak di blacklist mengunjungi Indonesia. Dengan alasan kemanusiaan karena dia bergabung di gabungan dokter yang sering membantu bencana alam.
Permohonan Dokter Yohan Charnett dikabulkan oleh pengadilan. Saat ini dokter itu sedang melakukan misi mengunjungi negara Asia tenggara yang terkena bencana. Bersama dokter gabungan, Dokter Yohan Charnett saat berada di Indonesia bagian timur. Akan berkunjung juga di Bandung setelah itu.
"Bagaimana ini, Sayang. dokter brengsek itu kembali ke Indonesia?"
"Jangan khawatir, Akak. El bisa menjaga diri."
"Akak percaya sama istri Akak, tetapi tidak percaya pada dokter itu. Dia memiliki banyak cara untuk bisa mendekati El."
"Tenang saja, Akak. Kirim aja kabar itu ke Asisten Surya dan Asisten Julio. Nanti mereka yang akan mengatasi dokter itu."
"Baiklah, lebih baik kita lanjutkan perjalanan bulan madu kita saja deh."
__ADS_1
"Kita ke mana setelah dari Swiss sini, Akak?"