
"Tidak perlu menguras tenaga untuk mencari tahu tentang laki-laki yang jelas-jelas bukan jodoh Kris, El. Lebih baik kita fokus bagaimana cara mengabarkan ini pada Kris," saran Rena masih emosi.
Elfa meletakkan ponselnya seketika di meja bar. Benar sekali yang dikatakan Rena tentang Henry Alexander. Mulai sekarang sudah tidak ada kepentingan lagi dengan laki-laki yang kini sudah menjadi milik orang lain.
"Akak setuju kata Rey, Sayang. Untuk apa emosi pada Henry, semua sudah takdir yang di atas. Sekarang yang terpenting adalah perasaan Kris."
"Iya, El setuju. Berapa jam lagi pesawat sampai?"
"Masih setengah perjalanan lagi, sebaiknya Anda beristirahat saja dulu!" Asisten Dwi Saputra memberikan saran sambil melihat jam.
Setengah perjalanan menuju Eropa, dimanfaatkan Elfa untuk beristirahat. Merenung tentang banyak hal khususnya yang terjadi pada Kris. Sahabat satu itu memang yang paling tidak beruntung nasibnya, tetapi paling tegar di antara bertiga.
Teringat beberapa hari yang lalu saat VC bertiga pernah Kris bercerita sekilas. Setelah memasrahkan pada yang Maha Khaliq di sepertiga malam Kris bercerita pernah bermimpi putra semata wajang menangis sejadi-jadinya saat Kris akan melangkah ke pelaminan.
__ADS_1
Seoalah putra Kris tidak setuju jika ibunya menikah dengan Hanry Alexander. Saat itu Rena yang marah besar agar tidak menghubungkan mimpi dengan kenyataan. Mimpi adalah bunga tidur yang tidak ada di dunia nyata.
Keinginan sahabat mendapatkan suami yang baik dan sangat mencintai ternyata tidak sesuai prediksi. Tuhan berkehendak lain dan takdir tidak berpihak pada Kris. Tidak seorang pun yang bisa merubah takdir yang sudah ditetapkan sejak lahir.
Turun dari bandara, Kris yang yang menjemput ditemani Ibu Suki dan putra tercinta Shaib Hernama. Wajah ceria Kris membuat hati Elfa dan Rena semakin tidak tega. Mencoba untuk menyembunyikan kesedihan sementara tetap saja tidak bisa.
Elfa dan Rena memeluk Kris sambil berlinang air mata. Kris mengira dua sahabat itu sangat merindukan dirinya sehingga sampai air mata mengalir bak hujan yang jatuh di bumi, "Kalian ini, kita setiap hari VC, mengapa masih merindukan Kris?"
Juan Mahardika langsung menepuk pundak Elfa, "Ayo, Sayang. Cuaca sangat terik. Kita ke apartemen dulu!"
"Kendalikan diri, Sayang. Akak tidak tega melihat El menangis, ingin rasanya Akak menghajar Henry lagi setiap melihat El menangis."
"El tidak tega melihat Kris, Akak."
__ADS_1
"Dia kuat seperti El, ingat itu!"
"Hhmm."
Sampai apartemen sengaja Juan Mahardika mengajak twins baby dan pengasuh bersantai di balkon belakang. Asisten Dwi saputra bermain dengan Shaib Hernama sambil berbincang Ibu suki. Membiarkan tiga sahabat menyelesaikan masalah dan menceritakan tentang Henry Alexander.
"Di mana Mama Cristine, Kris?" tanya Rena.
"Tadi sudah Kris ajak menjemput ke bandara, tetapi Mama Cristine tidak enak badan katanya."
"Apakah Mama Cristine bercerita sesuatu, Kris?" tanya Elfa.
"Tidak, beliau hanya titip salam pada El dan Rey. Mengatakan semua diserahkan pada kalian berdua, sebenarnya ada apa, sih?"
__ADS_1
"El tidak bisa menhubungi Henry, apakah Kris sudah dapat kabar kapan dia pulang?"
"Dari kemarin Henry tidak bisa Kris hubungi, terkadang Kris kembali ragu untuk melanjutkan hubungan ini karena mimpi Sha yang menangis saat Kris naik pelaminan itu datang tidak cuma sekali."