
Setelah sepuluh hari berkabung, Juan Mahardika kembali ke Jakarta. Kembali melanjutkan rutinitas keseharian memimpin perusahaan. Dan ingin melanjutkan kebiasaan berpetualang cinta mencari gadis cantik.
Pagi hari Juan Mahardika akan meeting didampingi Asisten Dwi Saputra. Meeting akan diadakan di restoran ternama. Investor yang akan bekerjasama dengan MAHARDIKA CORP. Kebetulan mereka belum datang saat Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra sudah berada di lokasi.
"Mengapa mereka belum datang, Dwi?"
"Mereka masih dalam perjalanan ke sini, Tuan."
"Aku tidak suka orang yang tidak tepat waktu."
"Maaf ... mereka terjebak macet, Tuan."
Juan Mahardika belum sempat menjawab ucapan asistennya. Datang wanita cantik, seksi dan berbadan tinggi mendekat. Di belakang wanita itu ada laki-laki yang membawa map dan tas kerja.
Mata Juan langsung terbelalak sempurana melihat wanita itu dengan hati berbunga-bunga, "Apakah wanita cantik itu yang akan meeting dengan kita, Dwi?"
"Benar sekali, Tuan."
Yang awalnya ingin marah dan kesal. Kini Juan Mahardika tersenyum manis. Hanya dengan memandang saja hati sudah tertarik. Berencana akan dimasukkan ke dalam target berikutnya setelah selesai meeting nanti.
Asisten Dwi Saputra tersenyum sambil menggelengkan kepala. Sangat faham apa yang dipikirkan oleh tuannya. Pasti akan dijadikan teman kencan dan target berikutnya.
"Silahkan duduk, Nona ...?" kata Juan Mahardika sambil menarik kursi.
"Marlina Dimyati, terima kasih."
"Nyonya Lina, silahkan laptop Anda," kata Asisten dari wanita itu sambil menyerahkan laptop yang sudah siap digunakan.
"Iya terima kasih, Pak."
Juan Mahardika duduk di hadapan wanita yang dipanggil Nyonya Lina oleh asistennya. Tidak menyurutkan niat untuk merayunya walau mendengar wanita itu sudah berstatus nyonya alias sudah menikah. Yang terpenting bisa menikmati waktu berdua bergelut di ranjang cinta.
Melakukan meeting secara profesional selama hampir satu jam. Lobi-lobi bisnis dan mempertimbangkan untung dan rugi. Menyepakati kerja sama saling menguntungkan dilakukan dengan serius.
Saat sedang membicarakan bisnis, Juan Mahardika akan sangat serius. Berbicara dengan tegas dan tidak pandang bulu siapa yang dihadapi. Semua harus saling menguntungkan dan tidak merugikan orang lain.
Namun setelah selesai membicarakan bisnis. Juan Mahardika akan menunjukkan sifat aslinya, play boy kelas kakap dan casanova ulung. Memburu cinta sesaat akan mulai beraksi sampai mangsanya jatuh dalam pelukan.
__ADS_1
Asisten Dwi Saputra langsung memanggil pramusaji untuk segera menyiapkan menu makan siang. Menyajikan menu makan siang favorit khas restoran. Hanya kurang dari lima menit saja semua sudah terjadi di meja.
"Silahkan, Nona. sini aku bantu!" Juan Mahardika mengambil piring dan mengambilkan nasi.
"Eee jangan, Tuan. Seharusnya saya yang melayani, Anda!" Nyonya Marlena Dimyati menarik piringnya.
"Jangan dong, wanita cantik seperti Anda wajib dilayani dan dilarang melayani," rayu Juan Mahardika kembali mengambil piring milik Nyonya Merlina Dimyati.
Juan Mahardika mengambilkan nasi dan lauk dengan cepat, "Silahkan!"
"Terima kasih, maaf merepotkan."
"Tidak merepotkan, dengan senang hati dapat melayani wanita cantik seperti Anda. Saya bersedia melayani Anda seumur hidup kalau perlu," rayunya lagi.
"Anda bisa saja."
Sambil menikmati makan siang, Juan Mahardika selalu merayu dan menyanjung kecantikan wanita yang ada di depannya. Ada saja bahan untuk merayu, seolah kata rayuannya tidak pernah habis. Menganggap hanya berdua saja dan dua asisten dianggap tidak ada.
Yang dirayu hanya tersenyum simpul jarang menanggapi rayuan gombal Juan Mahardika. Dengan tatapan mata yang berbinar tentunya karena disanjung terus-menerus. Seolah hatinya meleleh dan merasa menjadi orang paling beruntung saat ini.
Selesai makan bersama sang asisten berdiri sambil membungkukkan badan, "Saatnya Anda melanjutkan agenda selanjutnya, Nyonya."
"Anda harus berada di butik setengah jam lagi."
Juan Mahardika menarik tangan Nyonya Marlina Dimyati, "Bagaimana kalau kita menikmati kopi sejenak di kafe?"
Nyonya Marlina Dimyati tersenyum saat Juan Mahardika mencium punggung tangannya dengan mesra. Sangat teranjung diperlakukan dengan manis dan romantis. Hati mulai bimbang antara pekerjaan dan hati yang sedang berbunga-bunga.
"Bagaimana, Nyonya?"
"Kamu saja yang ke sana, Pak. Saya akan menemani Tuan Juan untuk minum kopi!"
Juan Mahardika tersenyum penuh kemenangan. Pesonanya tak seorangpun mampu menolak termasuk wanita yang diduga sudah menikah itu.
"Baik ... saya berangkat sekarang, Nyonya."
"Silahkan dan terima kasih ya, Pak."
__ADS_1
"Sama-sama, Nyonya. Saya permisi."
Asisten Dwi Saputra juga berdiri dan berpamitan untuk kembali ke kantor, "Tuan, saya juga akan kembali ke kantor. Agenda Anda berikutnya dua jam lagi."
"Iya aku akan ke kantor setelah minum kopi."
Tangan Nyonya Marlina Dimyati menggelayut manja di lengan Juan Mahardika. Berjalan dengan tersenyum bahagia seolah hati telah terpaut. Tanpa sungkan berjalan keluar restoran dengan bercengkerama mesra berdua.
Di kafe Juan Mahardika terus melancarkan aksi rayuan tanpa henti. Sanjungan dan pujian selalu saja meluncur dari mulutnya yang manis. Seolah dunia hanya milik berdua tanpa ada penghuni lain.
Nyonya Marlina Dimyati mulai berani menjawab rayuan Juan Mahardika setelah asistennya tidak ada, "Apakah tidak masalah jika setatus aku nyonya?"
"Tidak masalah dong, Sayang. Yang terpenting kita sama-sama suka."
"Apakah tidak ingin mengetahui mengapa aku juga tertarik padamu?"
"Tidak ... bagiku yang terpenting kamu suka sama aku itu saja sudah cukup."
"Aku suka itu gaya kamu."
Dengan sengaja Nyonya Marlina meletakkan kedua tangannya di atas meja. Seolah memberikan kode untuk kembali dimanja atau sekedar dicium punggung tangannya. Dengan pandangan mata yang berbinar seolah baru saja merasakan cinta.
Dengan senang hati Juan Mahardika menggenggam kedua tangan Nyonya Marlina Dimyati. Di tarik dan diciumnya berkali-kali, "Kamu cantik sekali."
"Terima kasih, aku jadi tersenjung."
Juan Mahardika mulai merasa aneh pada dirinya sendiri. Biasanya sampai tahap sang wanita mulai masuk perangkap. Hasrat dan hatinya mulai bangkit serta mulai terbangun pusaka kesayangan.
Tidak ada tanda-tanda pusaka terbangun. Pusaka itu masih tenang dan tertidur pulas. hanya pikiran yang menunjukkan rasa ingin mengarah ke sana namun seolah pusaka tidak tertarik sama sekali.
Tanpa sungkan Nyonya Marlina Dimyati berpindah duduk. Yang awalnya di depan Juan Mahardika. Berpindah duduk di sampingnya tanpa melepas tautan tangan yang masih dalam genggaman.
"Aku menyukai gayamu, tanpa basa-basi," kata Nyonya Marlina Dimyati sambil mencium pipi Juan Mahardika sekilas.
Dengan cepat Juan Mahardika membalas mengecup bibir wanita seksi itu sekilas. Hanya sayangnya tetap pusaka miliknya tetap anteng dan tertidur pulas. Padahal biasanya hanya duduk bersebelahan saja pusaka itu berontak mengajak cepat beraksi.
"Sayang ... tunggu aku ke kamar mandi sebentar ya," pamit Juan Mahardika sambil bermonolog dalam hati, 'mengapa tidak terbangun?'
__ADS_1
Dengan hati gundah Juan Mahardika berjalan menuju kamar mandi sambil bermonolog sendiri, "Mengapa pusaka ini masih kecil?"