Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 42. Menikah atau Memimpin Perusahaan


__ADS_3

Tidak Hanya Elfa yang mengintip tamu yang datang, Krisnawati dan Rena juga ikut mengintip tamu yang sedang berdiri di dekat pos securuity. Krisnawati dan Rena menduga yang datang adalah Asisten Dwi saputra.


Bertiga hanya melihat dari balik horden, tidak langsung keluar villa. Ingin melihat terlebih dahulu orang yang bertamu, "Ada yang kenal lakii-laki itu?" tanya Elfa.


"Rey kira Aa Dwi yang datang, tetapi ternyata bukan. Rey tidak kenal dia."


"El juga tidak mengenal laki-laki itu, Kris kamu kenal dia?"


Krisnawati masih memperhatikan dengan seksama laki-laki yang berdiri tegak dan berbincang dengan security. Tidak menjawab pertanyaan Elfa. Matanya sampai melotot melihat luar berdiri dibalik jendela kaca yang tertutup horden.


"Kris ...!" teriak Elfa.


"Aduh bikin kaget saja sih, El. Kayaknya Kris mengenal dia deh."


"Kris saja yang menemui dia, El malas tidak mengenal orang itu!"


"Ayo temani Rey!" perintah Krisnawati.


"Baiklah ayo!"


Krisnawati dan Rena berlari menuju pos security. Mendekati laki-laki yang berdiri sambil tersenyum melihat Rena dan Krisnawati, "Mencari siapa, Aa?" tanya Rena.


"Saya mencari Krisnawati Prayuda."


"Saya," jawab Krisnawati sambil mengacungkan tangan.


"Kamu lupa sama Aa?" tanya laki-laki itu.


"Maaf siapa ya?"


"Aa Angga Putra cucunya Babe Engkus."


Krisnawati memandang laki-laki itu dengan lekat. Sambil meringat kakak dari ayah kandung yang tinggal di Bandung. Wajahnya mirip seperti ayahnya sendiri jika diperhatikan dengan seksama.


"Iya Kris ingat sekarang, Babe Engkus yang tinggal di Bandung, 'kan?"


"Iya benar. Kamu apa kabar?" tanya Angga sambil mengulurkan tangan.


"Baik Alhamdulillah, Aa."

__ADS_1


"Siapa teman Kris, cantik banget dia?"


Krisnawati kaget sambil mengerutkan keningnya. Teringat tiga tahun yang lalu kakak sepupu itu sudah menikah dengan orang Bandung. Teringat betul dulu keluarga besar yang ada di desa semua datang ke acara resepsi pernikahan.


"Aa ini, sudah menikah masih pingin lihat yang bening saja sih," protes Krisnawati sambil cemberut.


"Jangan salah adik Aa yang cantik. Aa ini sudah sendiri lagi sekarang, jadi boleh kenalan dong?" kata Angga sambil mengulurkan tangan.


"Rena." Dengan terpaksa Rena menyambut uluran tangan untuk berkenalan.


"Aa ada apa cari Kris?"


"Oya sampai lupa gara-gara melihat Rena yang cantiknya luar biasa."


"Aa baru kenalan sudah gombal aja, ada apa Aa cari Kris?"


"Kris suruh pulang sekarag Babe Engkus ingin bertemu."


Saat itu juga Krisnawati berpamitan pulang. Rena juga ikut berpamitan pulang untuk beristirahat. Berjanji akan bertemu di markas esok hari.


Elfa terus termenung selepas dua sahabat meninggalkan villa. Mengingat persoalan Rena dengan Asisten Dwi Saputra. Dalam hati tidak ingin meengenal yang namanya cinta.


Cinta yang sulit tumbuh di hati, dari dulu selalu membentengi diri karena pengalaman Mami Mitha dan Teteh Rania. Sekarang ditambah sudah tidak memiliki hal yang berharga. Hati semakin gelisah untuk menyongsong masa depan.


"Nah ini tersangkanya datang!" teriak Alfian melihat Elfa memasuki rumah.


"Apa salah El, kok jadi tersangka?"


"Ke mana saja baru pulang?" tanya Alfian.


"El ke villa, Bang. Kemarin El sudah pamit Mami kok."


"Pamit memang sih, tetapi Mami kira El hanya sebentar saja, Nak."


"Apakah El akan kembali bergabung dengan Rena dan Krisna?" tanya Alfian lagi.


"Tidak kok tenang aja, kelompok itu sudah bisa berjalan sendiri tanpa El, Ada apa sih sebenarnya, Bang?"


"El sudah selesai kuliah S2, bantu Abang mengelola perusahaan atau rumah sakit. Kasihan Papi repot El malah keluyuran tidak jelas."

__ADS_1


Elfa mengerucutkan bibirnya dari dulu sudah pernah bilang tidak suka berbisnis. Tidak tertarik berjam-jam duduk di kursi melihat laptop mengerjakan transaksi keuangan atau neraca ekonomi. Lebih memilih bekerja sosial dan membantu orang yang membutuhkan pertolongan.


"Dari dulu El sudah bilang, Abang saja yang bantu Papi. El tidak tertarik dengan bisnis."


"Kalau El tidak mau bantu Papi atau Mami, menikah saja!" perintah Papi Alfarizi.


"Eeee Papi, El tidak mau. El belum siap dan belum punya calon untuk diajak nikah!"


"Itu Mami setuju, sudah waktunya El menikah, biar suami El saja yang membantu Bang Al."


"Abang juga setuju, dulu Abang menikah setelah lulus S1."


"Tidak mau, jangan samakan zaman dulu dengan sekarang dong," jawab Elfa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Piihannya dua, Nak. Menikah atau bantu Abang Al mengelola bisnis dengan memimpin perusahaan!" perintah Papi Alfarizi.


Elfa mengerutkan keningnya masih merasa bingung karena belum memikirkan keduanya. Bekerja dan melakukan rutinitas yang sama setiap hari adalah hal yang membosankan. Lebih memilih banyak bertemu orang yang bermasalah dan membantu menyelesaikan masalah.


Tiba-tiba mata Elfa tertuju di siaran breaking news di televisi. Baru saja terjadi bencana tsunami di pulau paling barat Indonesia. Banyak sekali makan banyak korban harta benda dan nyawa.


Bahkan, di pulau terpencil sama sekali belum tersentuh bantuan. Ada mayat bergelimpangan di mana-mana. Semua hewan ternak juga banyak yang tidak terselamatkan.


Rumah rata dengan tanah, bangunan dan gedung bertingkat tinggal kerangka saja. Banyak jeritan tangisan pilu dari bayi, balita anak kecil, remaja sampai orang tua. Tangisan kehilangan keluarga baik yang meninggal ataupun hilang tidak diketemukan jasadnya.


Tidak hanya di pulau terpencil saja bencana itu. Termasuk juga pulau besar ujung paling barat juga mengalami hal yang sama. Semua memerlukan bantuan sembako, sandang, obat-obatan, tenaga medis dan relawan.


Pemerintah langsung menetapkan bencana nasional. Mengintruksikan bantuan kepada setiap rumah sakit di seluruh Indonesia. Termasuk rumah sakit Aljuzeka juga diperintahkan untuk mengirim dokter dan tenaga ahli serta obat-obatan


Asisten Julio berkali-kali menghubungi Alfian menggunakan pesan WA. Meminta pertimbangan tentang rencana akan memberangkatkan tenaga ahli rumah sakit. Harus hari ini juga berangkat dengan helikopter karena jalan darat semua terputus.


Perbincangan membahas Elfa langsung berhenti karena semua melihat berita. Terutama Elfa sangat serius melihat berita bencana itu. Hatinya langsung terpanggil ingin ikut menjadi relawan yaang akan berangkat.


Namun, bencana yang sangat besar seperti itu biasanya Mami Mitha yang akan sangat khawatir. Elfa terus berpikir cara agar bisa berangkat ke sana. Disamping ingin menghindar dari kejaran Juan Mahardika, juga karena panggilan jiwa.


"Papi, El akan setuju bekerja, El yang akan memimpin rumah sakit Aljuzeka."


"Bagus, Abang setuju. El memang yang paling cocok memimpin rumah sakit itu."


"Baiklah, tetapi El punya syarat sebelum mulai memimpin rumah sakit!"

__ADS_1


"Apa syaratnya, Nak?" tanya Mami Mitha.


"El kirim ke tempat bencana itu sebagai relawan bersama tim dokter yang akan berangkat!"


__ADS_2