
Elfa dan Rena melihat vedio yang dikirim oleh Kris di ponsel masing-masing. Keduanya masih duduk di samping kanan dan kiri Kris yang sedang termenung sambil mendengar suara vedio itu. Matanya langsung merembes menganak sungai jatuh tanpa henti.
Yang pertama dilihat dari vedio itu adalah ada seorang remaja tanggung yang mabuk berat membuka pintu kamar dengan keras. Ada wanita yang sudah tidak memakai sehelai benang pun di kamar itu. Wanita itu yang terlihat hanya leher ke bawah wajahnya tidak terlihat sama sekali.
Keadaan wanita itu, tangan kanan dan kiri terikat di atas tempat tidur menggunakan ikat pinggang. Kaki kanan dan kiri juga terikat sama seperti tangan dibagian tempat tidur bagian bawah. Ada juga suara jeritan dan tangisan pilu wanita itu meminta untuk dilepaskan.
"Rama ...!" Teriak Rena sambil menutup mulutnya.
"Ya Allah ya Rob, Kris mengapa Rama bisa mabuk dan ...?" Elfa tidak melanjutkan pertanyaannya setelah melihat remaja tanggung yang dipanggil Rama itu langsung menyerang wanita yang ada di tempat tidur.
Seketika otak Elfa teringat peristiwa yang pernah dialami dulu. Melihat adegan di vedio yang terlihat jelas dan tanpa sensor sama sekali. Elfa semakin emosi saat melihat Kris semakin tegugu padahal hanya mendengar suara jeritan dan desa*an remaja tanggung yang di panggil Rama oleh Elfa dan Rena, "Brengsek!" teriak Elfa sambil membanting ponselnya ke lantai.
"Kris ini vedio dari dokter gila itu?" tanya Rena juga dengan emosi.
Kris mengangguk sambil terus menangis tergugu. Bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak sanggup terucap. Apalagi saat melihat ponsel Elfa langsung terbelah menjadi dua.
Bersamaan Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputa masuk melihat tiga sahabat banjir air mata. Juan Mahardika langsung memeluk erat Elfa, "Sabar, Sayang. Mengapa semua menangis?"
Elfa tidak menjawab pertanyaan suami tercinta. Dia memilih memeluk Juan Mahardika dengan erat. Membenamkan wajahnya di dada bidang suami sambil terus terisak.
Rena tidak kalah tergugu, hanya bisa menyenderkan kepalanya di pundak suami yang fokus melihat vedio yang tidak sanggup dilihat oleh Elfa dan Rena.
Dalam lanjutan vedio itu, remaja tanggung itu tidak hanya sekali melakukan pemaksaan pada wanita yang sudah tidak berdaya. Dia melakukan sekitar tiga kali baru langsung tertidur pulas di bawah tempat tidur dengan tanpa sehelai benang pun menutupinya. Padahal lantai kamar tidak ada alas sama sekali hanya ubin yang dingin.
__ADS_1
"Tuan, lihatlah ini!" Asisten Dwi Saputra memberikan ponsel Rena untuk melihat vedio yang baru saja berakhir tayangannya.
Vedio diputar lagi oleh Juan Mahardika, Kris semakin tergugu. Wanita hamil itu sampai membaringkan tubuhnya miring dan menekuk kaki serta memeluk lutut. Telinga ditutup bantal karena suara vedio itu sangat melukai hati, perasaan, jiwa dan raganya.
Setelah Elfa dan Rena menyadari apa yang terjadi padaa Kris. Kedua sahabat langsung berlari mendekati Kris dan meraih tuhuhnya serta memeluk dengan erat. Tubuh Kris bergetar, luka yang ada di punggung tidak sebanding dengan luka yang ada di hati.
"Dwi, siapa remaja yang ada di dalam vedio ini. Dia kemungkinan baru berumur enam belas tahun?" tanya Juan Mahardika dengan suara keras ikut emosi.
"Saya tidak mengenalnya, Tuan."
"Ini pasti ada sesuatu terjadi pada remaja tanggung itu. Tidak mungkin dia bisa melakukan perbuatan bejat ini!"
"Anda benar, Tuan. Pasti remaja ini minum obat dalam jumlah besar."
Tim Dokter sudah stanbye ada di depan kamar kabin milik Jasmine Mahardika. Mereka bersiap akan membantu Kris turun dari pesawat. Asisten Dwi Saputra yang berlari mendekati pintu dan langsung berteriak, "Dokter!"
"Siap." Tim dokter langsung meminta Elfa dan Rena untuk mundur.
Setelah diperiksa dengan teliti keadaan Kris saat ini. Dengan terpaksa Kris diberikan obat menenang agar bisa beristirahat dengan tenang. Akan lebih mudah membawa Kris dalam keadaan terlelap ke luar dari pesawat dan menuju rumah baru yang baru saja dibeli.
Dalam keadaan hamil, sebenarnya akan sangat mempengaruhi janin jika ibunya sedang dalam keadaan yang tertekan. Akan mengakibatkan hal yang paling buruk jika seorang ibu hamil tidak kuat menahan beban pikiran yang berat. Namun, untungnya Kris adalah wanita yang kuat, tegar dan pantang menyerah
Dalam perjalanan menuju rumah baru, Elfa dan Rena bercerita. Remaja tanggung dalam vedio itu adalah Rama adik kandung Kris yang paling kecil. Kris adalah tiga bersaudara dan adik keduanya perempuan sedang kuliah di Jakarta dengan biaya beasiswa dari Elfa.
__ADS_1
Umur Rama belum genap enam belas tahun saat ini. Rama baru duduk di kelas akhir SMP tahun ini. Adik kesayangan Kris itu adalah adik yang penurut dan rajin beribadah.
Jika pagi sekolah di SMP umum, tetapi sorenya akan langsung masuk rumah tahfidz untuk hafalan. Jika dipikir dengan logika tidak mungkin Rama akan melakukan hal sekeji itu saat usia masih belum dewasa.
Pergaulaan Rama selama ini tidak nakal seperti anak muda pada umumnya. Rama anak yang pendiam dan tidak pernah mengenal alkohol. Jarang ikut perkumpulan anak yang suka nongrong di kafe ataupun geng pemuda di desa.
Jika di rumah, Rama yang paling rajin diantara dua kakak perempuannya. Pandai memasak dan membersihkan rumah untuk meringankan pekerjaan ibu yang sudah mulai menua. Umur Ibu Kris yang paling tua di antara ibu Rena dan Ibu Elfa.
"Berarti karena vedio ini mungkin Kris mau menikah dengan dokter brengsek itu," kata Juan Mahardika.
Juan Mahardika termengung teringat sesaat sebelum berangkat ke bandara Ngurah Ray, Bali. Masih sempat menghubungi polisi temannya yang menangani kasus dugaan penculikan yang ada di resort yang di sewa para dokter yang bekerja di bidang sosial. Ada hal yang janggal dalam peristiwa itu karena sesaat setelah penyelidikan, para dokter berkemas dan akan meninggalkan Bali dan berpindah ke wilayah Indonesia yang lain.
Dokter Yohan Carnett menarik laporan kepada kepolisian setempat. Dokter urologi itu mengatakan jika istrinya baru saja menghubungi dan mengabarkan jika sekarang ini sudah pulang ke desa Mami Mitha. Ada urusan mendadak dan tidak ingin mengganggu suami yang sedang beristirahat sehingga pulang hanya berpamitan lewat pesan WA saja.
Juan Mahardika masih bingung karena saat itu Kris masih dalam keadaan tertidur pulas. Ponsel milik Kris masih berada di kantong yang ada di gaun hamil miliknya. Tidak ada yang mengambil atau mengeluarkan ponsel itu dari tempatnya.
"Sayang, apakah El melihat Kris mengubungi seseorang selama di kamar?"
BERSAMBUNG
Yok mampir di novelm teman yangvrekomen ini
__ADS_1