Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 232. Live dari Jakarta


__ADS_3

Asisten Dwi Saputra mulai menyambungkan ponsel Elfa dengan televisi menggunakan bluetooth. Televisi berukuran besar yaitu lima puluh dua inci langsung tersambung live dari sebuah club malam di Jakarta. Perbedaan waktu yang membuat semua lebih lancar karena saat ini di Jakarta hampir tengah malam.


Yang pertama muncul adalah Magdalena dengan dua teman wanita memakai pakaian minim. Masuk sambil berjoget kecil mengikuti irama musik yang mengentak dan tergelak bahagia. Wajahnya terlihat jelas dengan riasan yang mencolok dan menor.


Sampai di dalam club langsung ber-tos ria dengan sekelompok laki-laki dalam satu meja. Ada lima orang laki-laki yang sedang menikmati minuman beralkohol dingin. Ada dua wanita di antara lima laki-laki yang terlihat tidak asing wajahnya.


"Wanita itu model papan atas yang kemarin memenangkan ajang model Asia," kata Rena.


"Rey mengenal dia, siapa lagi yang satunya?" tanya Elfa.


"Kalau tidak salah dia putri dari orang penting di Jakarta, Mereka itu sahabat sejak kecil."


Tayangan dilanjutkan dengan lima wanita dan lima laki-laki menikmati minuman beralkohol ditambah dengan es batu. Lebih dari lima botol dihabiskan bersama hanya dalam waktu kurang dari setengah jam. Sambil bercanda, colek sedikit dan kecup-kecup serta senggol kanan dan kiri.


Model dan putri pejabat bergabung dengan para pengunjung yang lain berjoget di lantai dansa. Kegembiraan keduanya disertai dengan teriakan semangat. Hentakan musik yang keras membuat dua wanita dewasa itu terus berjoget mengikuti irama.

__ADS_1


Minuman beralkohol yang ada di meja sudah tandas tanpa sisa. Dua teman Magdalena asyik berbincang dan bercanda dengan lima laki-laki. Magdalena meninggalkan teman-temannya saat ada laki-laki yang duduk di kursi bar yang terus memandang wanita keturunan Indonesia Italia itu penuh kekaguman.


"Hai," sapa Magdalena.


"Hai juga, mau?" Laki-laki itu memegang satu gelas wiski dihiasi irisan jeruk dipinggir gelas.


"Tentu saja."


"Tunggu dulu!"


Dengan cekatan Laki-laki yang duduk di kursi bar itu memeras jeruk ditambahkan ke dalam gelas wiski. Tanpa disadari oleh Magdalena menambah satu butir berbentuk bulat seperti pil putih kecil yang masuk dan larut dengan cepat, "Ini silakan!"


"Iya gratis khusus untuk wanita cantik seperti kamu."


"Terima kasih." Hanya dalam satu tenggak isi dalam gelas itu ludes berpindah ke perut.

__ADS_1


Mata Elfa samapi dibuka lebar karena terlihat jelas ada satu butir pil yang masuk gelas, "Apakah itu anak buah Abang Julio?"


"Kemungkinan iya," jawab Asisten Dwi Saputra juga ikut memperhatikan tanpa berkedip.


Magdalena mendekati laki-laki yang memberikan satu gelas wiski dan mengusap pundaknya dengan lembut. Tiba-tiba laki-laki itu tuun dari kursi bar sambil merangkul Magdalena, "Tunggu sebentar, gue mau ke toliet!"


"Jangan lama-lama!"


"Pasti, Cantik."


Sepuluh menit berlalu Magdalena menunggu, tetapi yang ditunggu tak kunjung datang. Wanita itu akhirnya bergabung kembali dengan rombongan awal. Hanya sayangnya yang didekati adalah gebetan dari putri pejabat.


Magdalena langsung memeluk layaknya baru bertemu dengan kekasih. Mengecup pipi dan mencium bibirnya sekilas tanpa memperdulikan yang lain menatapnya dengan tajam. Seperti gayung bersambut, laki-laki yang mulai setengah mabuk itu membalas dengan mencumbu Madalena seperti kekasih sendiri.


Putri pejabat itu mendatangi pasangan yang sedang bertukar selvi dengan emosi dan marah besar. Dengan sengaja menarik tangan Magdalena untuk menjauh dari kekasihnya, "Jangan dekati kekasih, gue!" teriaknya.

__ADS_1


Magdalena tidak terima ditarik paksa dengan kasar, wanita itu langsung mendorong dengan keras sampai putri pejabat itu terjengkang. Langsung tersungkur dilantai dan tidak bergerak.


"Eee itu mati atau pingsan!" teriak Kris sambil berdiri.


__ADS_2