Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 18. Karena Mabuk


__ADS_3

Dengan tegas Juan Mahardika menolak untuk bertemu psikiater dan counseling. Masih tidak rela jika orang lain tahu tentang yang terjadi pada pusaka miliknya. Cukup dokter pribadi saja yang mengetahui bahkan sang asisten saja tidak tahu.


Dua minggu berlalu Juan Mahardika berobat dan bertemu dengan Dokter Bobby Charlton. Badan seolah mulai fit dan segar setelah minum obat yang diberikan dokter. Hanya sayangnya tetap saja pusaka masih mati suri tanpa mau terjaga kembali.


Terpaksa harus kembali ke Jakarta karena pekerjaan yang menuntut CEO menangani perusahaan dengan tegas. Walau tanpa hasil dan belum menyadari yang sebenarnya terjadi. Dokter Bobby Charlton juga masih meneliti dan terus mengobservasi.


Semakin hari Juan Mahardika semakin enggan untuk mencari pelampiasan yang tak tercapai. Hampir enam bulan berlalu tanpa ada kejelasan pasti. Semakin hari Juan Mahardika semakin putus asa dan frustasi.


Tetap Juan Mahardika tidak rela seorang pun tahu tentang masalah yang dihadapi. Tetap tidak bercerita kepada siapapun kecuali dokter pribadi. Sampai sekarang dokter juga belum menemukan penyebab pasti mati surinya pusaka Juan Mahardika.


Yang awalnya Juan Mahardika selalu menjaga penampilan gagah perkasa. Wajahnya selalu bersinar, rapi dan maskulin. Kini penampilannya tidak pernah lagi diperhatikan sama sekali.


Juan Mahardika berewokan dan semakin terlihat garang. Selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan yang sangat banyak. Perubahan demi perubahan terjadi setelah satu tahun berlalu. Sekarang ini hanya ke klub untuk sekedar minum dan menghilangkan penat dan jarang merayu wanita.


Merayu wanita hanya untuk sekedar menjaga image seorang casanova. Tanpa bisa merasakan lagi indahnya wanita. Tanpa bisa lagi bermain dengan semua wanita yang disukai.


Asisten Dwi Saputra mulai bisa melihat perubahan di diri Juan Mahardika. Selama satu tahun ini selalu diperhatikan. Hanya sayangnya tidak berani bertanya karena takut tuannya tersinggung.


Sampai suatu malam tanpa sengaja Juan Mahardika merancau saat mabuk di klub malam. Mendengar keluhan Juan Mahardika yang sedang teler berat. Asisten Dwi Saputra baru menyadari yang terjadi pada tuannya.


"Oooo itu sebab perubahan Anda satu tahun terakhir ini, Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra.


Juan Maharka terus merancau tidak karuan. Sambil memapah pulang ke apartemen. Asisten Dwi Saputra terus memikirkan semua perkataan yang diucapkan tanpa sengaja.


"Besok kita harus bicara tentang ini, Tuan. Anda harus menceritakan semuanya dari awal sampai akhir." Asisten Saputra tahu tidak mungkin atasannya menjawab apa yang dikatakan.


Malam ini Asisten Dwi Saputra tidak beranjak dari apartemen Juan Mahardika. Memilih untuk menunggu sampai terbangun dan sadar dari mabuk. Penasaran tentang yang terjadi selama satu tahun terakhir.


Asisten Dwi Saputra duduk di ruang makan sarapan roti bakar yang dibuat oleh bibi saat Juan Mahardika ke luar dari kamarnya, "Dwi ... kamu kapan datang?"  tanya Juan Mahardika masih memegang kepalanya yang masih pusing.


"Saya tidak pulang dari tadi malam, Tuan."

__ADS_1


"Kamu menginap di sini semalam?"


"Iya ... tanpa sengaja saya menemukan Anda mabuk berat di klub malam."  


Juan Mahardika langsung mengerutkan keningnya. Setiap malam sering minum alkohol tetapi tidak pernah sampai teler. Namun karena putus asa tanpa sadar tadi malam mabuk berat dan tidak teringat apapun.


"Saya sudah tahu semuanya, Tuan."


"Apa maksud kamu?"


"Tentang yang Anda alami."


Juan Mahardika langsung terdiam. Mulutnya seolah kelu tidak mampu mengucapkan sepatah katapun. Antara putus asa dan bingung menjadi satu. Sudah satu tahun berlalu tidak sama sekali menemukan jawaban yang terjadi pada pusakanya.


"Apakah Anda bisa bercerita sebelum itu terjadi, Tuan?"


Juan Mahardika hanya bisa mengambil napas panjang dan menghembuskan dengar kasar. Seolah pesimis untuk bisa menemukan jawaban yang terjadi pada pusaka yang masih mati suri sampai sekarang. Sambil mengingat peristiwa satu tahun yang lalu sebelum terjadi.


"Menurut kamu apa yang menyebabkan ini terjadi?" tanya Juan Mahardika setelah cerita kepada Asisten Dwi Saputra.


Asisten Dwi Saputra memahami dan mulai meneliti cerita Juan Mahardka. Tidak mungkin hanya karena beristirahat selama dua minggu karena berkabung senjata langsung tidak bisa bersaksi. Kemungkinan kuncinya ada ada gadis yang pernah direnggut paksa olehnya.


"Anda masih ingat dengan gadis itu, Tuan?"


"Tidak ... aku sudah melupakan gadis itu."


"Kemungkinan ada sesuatu yang terjadi dengan gadis itu."


Juan Mahardika termenung teringat dengan gadis itu. Yang paling istimewa gadis itu selain masih virgin. Gadis itu memiliki tenaga yang sangat kuat. Walaupun memukul dengan tangan kosong tenaga gadis itu sangatlah kaut.


Juan Mahardika teringat juga foto gadis itu saat dia melompat pagar. Kemungkinan masih ada di karena jarang menghapus memory yang ada di ponsel. Bergegas Juan Mahardika membuka ponselnya.

__ADS_1


"Ini lihatlah, gadis itu masih muda, badannya bersih dan terawat. Tunggu aku mempunyai fotonya di ponsel!"


Juan Mahadika langsung membuka ponsel dan membuka galeri. Masih ada beberapa foto wajah gadis itu yang memakai riasan sebagai perias pengantin. Riasan yang terlihat norak dan sangat tebal.


Hanya sayangnya Juan Mahardika tidak menyimpan CCTV saat Elfa melompat pagar setelah malam itu terjadi. Hanya menyimpan foto Elfa saat duduk sendiri di sebuah kafe kecil sebelum kejadian.


"Ini foto gadis itu, ini saat dia sedang menyamar, dan yang ini foto penampilan aslinya."


"Anda tahu siapa gadis ini, Tuan?"


"TIdak tahu pasti, tetapi dari isu yang beredar dia anggota organisasi masyarakat yang selalu membantu gadis desa yang akan dinikahkan sirri sering dipanggil El."


Asisten Dwi Saputra memindahkan bukti foto dari ponsel milik Juan Mahardika ke ponselnya sendiri. Baik foto yang menyamar dan foto wajah asli satu-satunya yang diambil di kafe. Memperhatikan dengan seksama gadis yang terlihat sederhana tetapi terlihat bersih dan cantik.


"Apakah kamu bisa menyelidiki gadis itu sekarang, Dwi?"


"Kalau sekarang belum bisa, Tuan. Banyak pekerjaan yang Anda tinggal akhir-akhir ini, akan saya bereskan dulu setelah itu aku sendiri yang akan menyelidiki gadis ini!"


"Kamu selidiki saja gadis ini sekarang, masalah pekerjaan aku yang membereskannya!"


"Apakah Anda yakin, Tuan?"


"Iya saya sangat yakin."


"Baik saya akan berangkat ke villa sekarang."


Asisten Dwi Saputra bersiap-siap untuk berangkat ke villa. Menyambar kunci mobil yang ada di kursi dekat tas kerja. Baru beberapa langkah menuju pintu, Juan Mahardika memanggil lagi, "Dwi tunggu!"


"Ya Tuan."


"Kamu harus merahasiakan ini dari siapapun termasuk Mom dan Dad!"

__ADS_1


"Ok siap!" 


__ADS_2