
Tanpa disengaja Dokter Yohan Charnett dan Atheer Ahmed menjawab bersamaan, "Jangan!" teriak mereka.
"Bagus, kalau begitu silakan pergi dari sini!"
Dua laki-laki berbeda usia itu saling pandang sesaat. Menggerakkan pundak pundak tanda tidak ingin pergi dari hadapan gadis yang di sukai. Masih ingin berjuang paling tidak ingin mengenal keluarga dari orang tua Elfa.
"Mengapa malah bengong, silakan pergi dari sini, El tidak memilih salah satu di antara ...?" Sengaja Elfa tidak melanjutkan ucapannya.
"Apakah boleh saya bertemu dengan orang tua El, please!" rengek Atheer Ahmed.
"Tidak, kami sudah akan pulang dan kembali ke Indonesia sekarang juga."
Elfa langsung meninggalkan dua laki-laki yang sedang memegang buket bunga. Keduanya hanya tertegun melihat Elfa yang melenggang pergi tanpa kata. Lidah keduanya seolah kelu, tidak sanggup berkata sepatah pun karena banyak orang yang memperhatikan mereka.
Untung orang tua dan keluarga jaraknya masih lumayan jauh. Mereka tidak mendengar karena disamping suasana ramai juga karena di antara keduanya ada terhalang tiang pilar besar. Sehingga saat Elfa mengajak orang tua dan keluarga pulang mereka tidak sempat saling bertemu.
"Yes ...!" Tiba-tiba Juan Mahardika kegirangan setelah melihat Elfa meninggalkan dua laki-laki yang saling berebat.
Asisten Dwi Saputra langsung mengerutkan keningnya memandang Juan Mahardika terlihat senang. Seolah dialah pemenang yang sebenarnya di antara tiga laki-laki. Apalagi melihat dua laki-laki yang wajah mereka terlihat sangat kecewa.
"Mengapa Anda senang sekali, Tuan?"
Juan Mahardika tersentak kaget saat mendengar pertanyaan Asisten Dwi Saputra. Tanpa sadar sangat bahagia setelah mendengar sendiri Elfa menolak dua laki-laki yang menyukai. Kepuasan hati terasa berlipat-lipat saat ini.
"Lupakan saja, ayo pulang!"
Berjalan keluar gedung, Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra menghentikan langkahnya saat melihat keluarga Elfa. Mereka langsung dijemput oleh mobil mewah. Mobil khusus untuk menjemput para pemilik pesawat pribadi ke bandara.
"Apakah mereka akan langsung pulang ke Indonesia, Tuan?"
"Mana aku tahu, coba kamu hubungi bandara!"
"Betul juga, tunggu sebentar."
__ADS_1
Dengan cepat Asisten Dwi Saputra mendapat informasi dari bandara. Bagi orang yang bekerja pada bos besar dan memiliki pesawat pribadi. Biasanya dengan mudah mendapatkan informasi karena sebagian besar diutamakan oleh pegawai bandara.
Asisten Dwi Saputra mendapat kabar jika pesawat pribadi keluarga Zulkarnain sedang lepas landas menuju Riyadh. Seluruh keluarga tanpa kecuali berangkat bersama. Ada juga penumpang yang ada di pesawat adalah info terakhir dari orang yang bekerja di bandara.
"Mereka langsung terbang ke Riyadh, Tuan."
"Aku mau pulang ke apartemen saja," kata Juan Mahardika.
Sampai apartemen, Juan Mahardika langsung masuk kamar, tanpa bercerita tentang pertemuannya dengan Elfa. Merebahkan tubuhnya di tempat tidur big size yang empuk. Mata terpejam pikiran berkelana entah ke mana.
Bibirnya terus menyunggingkan senyuman saat teringat Elfa. Ibarat kata, Juan Mahardika baru saja mendapatkan oase di tengah gurun pasir. Selama dua tahun berlalu baru sekali ini mengalami pelepasan padahal tidak beraksi.
Belum ada satu jam Juan melamun dan termenung di kamar. Tiba-tiba dikagetkan dengan ketukan pintu dari luar. Suara Asisten Dwi Saputra bersahutan dengan suara pintu yang terdengar keras.
Dengan kesal, Juan Mahardika turun dari tempat tidur dan membuka pintu, "Ada apa sih mengganggu saja?"
"Maaf, ini penting sekali, Tuan. Coba lihatlah!" Asisten Dwi Saputra menyerahkan ponselnya yang berisi sebuah berita infotaiment di salah satu televisi swasta di Indonesia.
Jika diperhatikan sepasang model itu dalam keadaan tanpa sehelai benang pun. Walau hanya terlihat wajah keduanya, dan badan di samarkan. Namun, mereka masih bisa terlihat hanya samar-samar.
Dengan sendirinya, Nama Juan Mahardika juga ikut tranding saat ini. Banyak sekali foto Juan Mahardika saat menyematkan cincin tunangan ke tangan Sherly Crash beredar. Disandingkan dengan foto perselingkuhan Sherly Crash dan Brian Prayoga.
Ada banyak berita mengungkap kehidupan masa lalu dari dua model yang sedang kasmaran. Semua berita terfokus tentang perselingkuhan. Seorang model yang menghianati tunangan dan berselingkuh dengan sesama model.
Sebagian masyarakat berempati kepada Juan Mahardika. Seorang laki-laki tampan, tajir dan CEO, tetapi memiliki nasib yang sial. Dikhianati tunangan dengan terang-terangan.
Nama Juan Mahardika semakin bersinar dan banyak pujian. Laki-laki casanova hanya tinggal nama itu terlihat hanya sebagai korban. Menjadi pesakitan yang mendapatkan empati karena dikhianati.
Berita Sherly Crash semakin booming karena melakukan perselingkuhan di Indonesia. Mayoritas masyarakat yang mengatakan itu masih tabu dan tidak bermoral. Masih menjunjung tinggi sebuah hubungan yang harus dilandasi dengan keyakinan dan pernikahan.
"Apa tindakan Anda sekarang, Tuan?"
"Apakah Sherly masih di Jakarta?"
__ADS_1
"Masih di sana, Tuan. Dari berita yang saya dengar, tunangan Anda masih di apartemen."
"Ayo pulang ke rumah Mom saja, aku mau bicara penting dengan Mom dan Dad."
Asisten Dwi Saputra seolah bisa membaca yang ada di pikiran Juan Mahardika. Pasti akan meminta membatalkan pertunangan. Akan berkomentar tunangan dengan wanita yang kurang pantas untuknya.
"Apakah Anda akan bilang jika tunangan bukan wanita baik untuk Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra.
"Kamu kok bisa membaca pikiran aku?"
"Apakah boleh saya memberikan saran, Tuan."
"Katakan!"
"Saya pernah dinasehati oleh nenek setiap makhluk akan menemukan pasangan dan jodoh karena sejatinya semua diciptakan berpasangan, tetapi laki-laki yang baik akan berjodoh dengan gadis yang baik dan sebaliknya ...?"
"Maksud kamu Sherly adalah jodoh aku yang paling tepat?" Juan Mahardika langsung memotong ucapan Asisten Dwi Saputra.
"Bukan begitu juga. Maksud saya percuma Anda akan protes dan meminta membatalkan pertunangan saat ini, itu tidak akan menyelesaikan masalah."
Juan Mahardika mengerutkan keningnya sambil memandang sang asisten dengan lekat. Terkadang ucapan dan pemikiran sangat berbeda dengan pikiran yang dimiliki. Pandangan hidup seolah saling bertolak belakang dengan dirisendiri.
"Jadi apa maksud kamu?"
"Dari awal kita di sini tidak ada yang tahu, jangan hanya karena emosi sekarang langsung muncul, lebih baik kita pulang ke Jakarta, menyelesaikan masalah dengan tunangan Anda."
Asisten Dwi Saputra terdiam saat melihat wajah Juan Mahardika tenang dan tidak emosi. Baru kali ini melihat tidak emosi padahal persoalan dengan tunangan sedang tranding topik. Biasanya selalu mengamuk dan melempar apa saja yang ada saat marah dan emosi.
"Saya suka Anda hari ini, Tuan. Tenang dan tidak emosi saat ada masalah."
"Betulkah, apakah ini karena Elfa tadi ya?"
"Apa yang terjadi Anda dengan Nona El, Tuan?"
__ADS_1