
Dengan tersenyum devil, Juan Mahardika berdiri tidak buru-buru mengambil handuk yang terjatuh. Senjata Bumerang tiba-tiba terbangun sempurna. Elfa langsung berjongkok mengambil handuk sambil memalingkan wajahnya ke samping.
"Maaf, Sayang. Akak tidak bisa jongkok, jempol rasanya perih banget. Apakah bisa tolong lilitkan handuk Akak ke pinggang!"
"Akak ini, yang sakit jempolnya, mengapa malas ambil handuk sih, cepat sini El bantu!"
Elfa melilitkan handuk ke pinggang Juan Mahardika. Saat tangan melingkar ke pinggang bagian belakang. Juan Mahardika memeluk erat Elfa sambil menempelkan tubuh dan pusaka bumerang di badan Elfa.
"Aaa Akak, mengapa senjata bumerang menempel di kaki El?"
"Maaf, Akak tidak sengaja. Mungkin senjata bumerang Akak ingin berkenalan."
"Iiih alasan saja, cepat pakai baju!"
"Obati dulu jempol Akak!"
Elfa duduk jongkok mengoleskan obat luka di jempol yang memerah. Kepala tertunduk tidak berani mendongak karena masih memakai handuk saja. Takut terlihat kebetulan Juan Mahardika duduk dengan sedikit membuka kaki.
"Sudah, Itu bajunya di pakai!"
"Iya, tolong bantu Akak memakai celana, sakit nich jempol Akak!"
Elfa mengerutkan keningnya tidak tahu celana yang mana yang diminta untuk dipakaikan. Ada dua celana yaitu celana CD dan celana panjang. Saat mengambil dua celana tadi saja rasanya sangat malu.
"Sini El bantu, celana yang mana?"
"Celana CD dulu dong, Sayang. Akak ini bukan Superman yang memakai celana CD di luar."
Elfa tergelak sambil membantu Juan Mahardika memakai celana CD. Walau matanya diarahkan di lain tempat. Elfa dengan cepat membantu sampai di posisi yang sebenarnya walau masih tertutup handuk.
"Ini celana panjang dulu atau kaos?"
"Sayang, Akak ini mau sholat subuh, tolong ambilkan sarung dan baju koko saja itu yang menggantung di sana!"
"Oya lupa."
__ADS_1
Elfa mengambil baju yang dimaksud oleh Juan Mahardika. Bergegas kembali setelah mengambil baju kok yang tergantung dan sarung yang diselipkan ditengah gantungan baju, "Ini, Kak."
"Sekalian dipakaikan dong, Sayang!"
"Baju koko saja, El bisa bantu, kalau sarung tidak bisa."
"Tidak apa-apa." Juan Mahardika mengusap lembut dua pipi Elfa.
Pipi Elfa dingin, tetapi tidak sedingin kemarin. Setidaknya ada perubahan sedikit dari hari pertama kemarin. Sekarang ini terlihat ceria dan tidak murung saat melihat pusaka bumerang tanpa sengaja.
Mengikuti gerakan tangan Elfa yang memakaikan baju koko. Melamun sambil memandang wajah Elfa dengan penuh cinta. Terkadang hampir tidak bisa tahan saat bibir mungil yang terlihat menggoda, ingin sekali menikmati dengan segenap jiwa raga.
"Sudah, cepat pakai sarung. Sebentar lagi azan akan berkumandang!"
"Terima kasih."
Juan Mahardika memakai sarung sambil berdiri di depan Elfa. Sambil termenung dan berpikir untuk bisa mengubah sakit hati menjadi cinta. Rasa takut menjadi mendamba serta dingin menjadi cinta membara.
Hari ini seluruh keluarga kembali ke Jakarta, termasuk Mami Mitha dan Papi Alfarizi. Dua Asisten juga ikut pulang ke Jakarta karena pekerjaan yang menumpuk. Hanya Elfa, Juan Mahardika dan Abi Ali yang tinggal di desa. Lusa berencana berangkat ke Riyadh untuk menunjungi makam Almarhumah Umi Anna dan berangkat dari Bandara Internasional Adi Sucipto Surakarta.
"Apakah akan masuk pasar lagi sekarang, Sayang?"
"Tidak, El hanya akan ke toko yang kemarin saja dan toko oleh-oleh yang berada di sebelah toko itu."
"Ooo, jangan lupa pakai kartu Akak."
"Ini El ada uang cash."
"Jangan, itu biarkan saja di dompet."
Dari sekian belanjaan Elfa, ada satu yang menjadi perhatian Juan Mahardika yaitu pembalut. Teringat kemarin tidak faham tentang istilah tamu bulanan. Kata-kata itu tidak ada di bahasa sehari-hari negara Australia, adanya hanya menstruasi.
"Sayang, apakah Akak boleh merasa iri?" bisik Juan Mahardika.
"Iri sama siapa?"
__ADS_1
"Sama itu!" Mata Juan Mahardika digerakkan sambil melihat pembalut yang sedang di scan barkot oleh kasir.
"Mengapa iri sama pembalut?" tanya Elfa juga dengan berbisik.
"Dia enak bisa nangkring di sana tanpa merasa takut, tetapi El sangat takut dengan pusaka bumerang Akak," bisiknya lagi.
Elfa mengerucutkan bibirnya mendengar bisikan Juan Mahardika. Sambil mengulurkan black card milik suami kepada kasir, Elfa melirik pembalut yang baru dimasukkan ke dalam tas belanjaan. Berpindah melirik suami yang menunggu jawaban sambil tersenyum devil.
"Kok tidak di jawab?"
"Memang Akak tahu fungsinya bantal kecil itu?"
Juan Mahardika tersenyum mendengar Elfa mengatakan bantal kecil. Ada saja istilah bahasa yang tidak difahami selama bersama Elfa, "Tahu sedikit sih, agar tidak bocor ke mana-mana kata Jasmine.
Gantian Elfa yang tersenyum sekarang, "Memangnya pipa bisa bocor?"
Sore ini, Alfian Alfarizi mengirim pesan kepada Juan Mahardika untuk pertama kali sebagai adik ipar. Memberikan kabar jika Dokter Yohan Charnett dikabarkan mengetahui posisi Elfa saat ini. Mengabarkan juga jika dokter urologi itu belum juga pulang ke negaranya sendiri.
Tidak ditemukan tinggal di Bekasi ataupun di Bogor. Kemungkinan sekarang ini Dokter Yohan Charnet berada di sekitar villa. Kabar itu didapat setelah tiga hari yang lalu anak buah Asisten Julio melihat dokter itu di sebuah kafe.
Juan Mahardika tersenyum devil setelah mendengar kabar itu. Mempunyai rencana untuk mencari informasi tentang dokter saingan beratnya melalui teman lama yaitu si pemilik kafe Jonny Evans. Dengan cepat mengirim data dan foto Dokter Yohan Charnett melalui pesan WA.
"Kamu selidiki laki-laki di foto yang aku kirim!" perintah Juan Mahardika dalam tulisan pesan WA.
Jonny Evans tidak mengetahui kabar Jika Juan Mahardika sudah menikah dan sudah berubah. Setelah pusaka bumerang tidak bisa beraksi dulu. Sejak saat itu tidak pernah lagi berkunjung ke kafe, yang pemilik kafe itu tahu sedang sibuk mengurus bisnis.
Jonny Evans meminta imbalan yang besar dan meminta untuk datang ke villa sebagai syarat mencari informasi tentang Dokter Yohan Charnett. Juan Mahardika menebak pemilik kafe itu sudah lama tidak mendapatkan uang yang banyak lagi semenjak tidak berkunjung ke sana.
"Aku mau memberikan imbalan yang banyak, tetapi aku tidak bisa datang ke sana." Juan Mahardika menulis jawaban persyaratan yang dikirim oleh Jonny Evans.
Sambil mengiirim foto banyak wanita seksi dan setengah tidak memakai benang sehelaipun, Jonny Evans menjawab pesan WA Juan Mahardika, "Lihatlah, koleksi gadis yang baru di kafe Jonny, apakah tidak ada yang menarik, Bro?"
Juan Mahardika baru ingin menjawab pesan yang dari Jonny Evans. Datang Elfa langsung duduk di samping Juan Mahardika, "Sedang melihat apa sih kok tegang banget?"
Tanpa sengaja Elfa melihat foto gadis seksi yang berpakaian minim, "Akak, wanita itu siapa?"
__ADS_1