
Elfa tidak membawa apapun kecuali tas kecil berisi identisas dan ponsel saat berangkat ke kantor. Seperti biasa sudah ada keperluan di apartemen yang ada di Samarinda, Kalimantan Timur. Hanya berganti baju, membetulkan make-up sedikit langsung berangkat dengan hati yang sangat bahagia.
Saat masuk ke pesawat pribadi milik Juan Maharika, Elfa langsung menuju ke kamar kabin milik suami. Melewati rombongan yang ikut pesawat dan duduk rapi sambil bercanda. Hanya menyapa sambil melipat tangan di dada sambil tersenyum.
"Akak kok tahu kalau El ingin ke Titik nol IKN sekarang?" tanya Elfa saat duduk di sofa panjang dalam pelukan Juan Mahardika.
"Kita ini pasangan sejati, Sayang. Langsung nyambung aja batin Akak pada kemauan istri," jawab Juan Mahardika sambil tangannya juga bekerja.
"Jangan modus, pesawat belum take-off. Kalau Akak sedang beraksi sampai puncak terus menggelinding ke bawah jadi tidak lucu!"
Juan Mahardika tergelak spontan menarik tangannya. Hanya memeluk dengan erat dan mencium seluruh wajah Elfa dengan gemas, "Akak jadi membayangkan baru masuk dan belum sampai puncak terus terlepas begitu saja, aneh kali ya?"
"Akak bisa aja," jawab Elfa juga ikut regelak.
"Nanti saja deh, Akak hanya peluk saja."
Elfa teringat rombongan yang ikut dalam pesawat yang dilewati tadi, ada sekitar enam orang diantaranya dua laki-laki dan empat wanita. Mereka tidak memakai seragam perusahaan, tetapi memakai jas dan blezer. Tidak satu pun yang dikenal wajah dari rombongan itu.
"Siapa yang ikut kita ke Kalimantan itu, Akak?"
"Yang mana, Sayang?"
"Itu yang ada di luar, apakah mereka akan ikut meeting di Samarinda?"
Juan Mahardika mengeratkan pelukan sambil menggelengkan kepala, "Mereka itu tim dokter yang baru saja Akak buat."
"Tim dokter buat apa, siapa yang sakit?"
"Tim dokter untuk memeriksa El, dokter kandungan, bidan, suster, pegawai laborat dan apoteker."
"Ada laki-lakinya, El tidak mau diperiksa dokter laki-laki, Akak."
Juan Mahardika tersenyum sambil mengusap pipi Elfa degan gemas, "Akak juga tidak rela istri cantik Akak di sentuh laki-laki yang bukan muhrim."
"Jadi siapa yang dua orang laki-laki itu?"
"Satu apoteker dan satu lagi pegawai laborat. Dan yang wanita satu dokter kandungan, satu bidan dan dua suster."
"Ooo." Elfa membulatkan bibirnya sambil mengangguk.
Hari ini tamu bulanan belum juga datang, terkadang memang mundur satu atau dua hari. Dari pada kecewa nantinya lebih baik ditunda satu atau dua hari dulu pemeriksaaannya, "Akak, apa boleh El usul?"
__ADS_1
"Tentu saja boleh, permintaan atau usul El itu merupakan titah bagi Akak, katakan!"
"El tidak mau diperiksa sekarang, nanti saja setelah El foto selfi di Titik nol IKN."
"Mengapa harus nanti?"
"El seharusnya hari ini datang bulan, tetapi terkadang mundur."
"Ok, periksanya nanti saja."
"Alhahamdulillah, Akak memang yang terbaik."
"Kalau itu sudah dari dulu, siapa dulu dong suami tercinta Elfamitha."
"Yeee langsung besar kepala."
Juan Mahardika bercerita jadwal selama di Samarinda dan Balikpapan. Mendarat di Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda. dan akan pulang melalui di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Spinggan Balikpapan.
Akan meeting di Samarinda selama dua hari. Dan akan berwisata di Balikpapan juga dua hari. Setelah itu berencana menjemput pasangan pengantin baru di Bali.
"Apakah jauh jarak antara Samarida dan Balikpapan?"
"El mau cepat ke Titik Nol IKN, Akak."
"Kalau itu sabar sedikit ya, Sayang. Akak tidak mungkin tega El ke sana tanpa Akak."
"El bisa dikawal oleh tim dokter."
"Sayang, Akak juga ingin ke sana, Akak jadi penasaran karena El ingin sekali mengunjungi Titik nol IKN itu. Sabar ya please!"
"Baiklah, El tunggu Akak saja."
Ternyata meeting di Samarinda sangat menyita waktu. Juan Maharika tidak sempat mengajak Elfa berwisata di sekitar ibu kota propinsi Kalimantan Timur itu. Elfa hanya jalan-jalan dan melihat luasnya Sungai Mahakam karena apartemen dekat dengan sungai yang terkenal ramai lalu lintas airnya.
Berdiri di pinggir sungai sambil melihat aktifitas lalu-lalang alat transportasi air. Berharap bisa melihat pesut mahakam yang sekarang sudah langka. Hanya sayangnya, hewan itu tidak muncul di permukaan.
Tim dokter tinggal di hotel yang tidak jauh dari apartemen. Tugas mereka mengawal dan menjaga Elfa saat ke luar apartemen. Harus memberikan laporan setiap setengah jam sekali dengan bukti foto.
Hari kedua sore ini, Juan Mahardika belum pulang dari perusahaan tambang miliknya, Elfa kembali berwisata dengan duduk di pinggir Sungai Mahakam. Kali ini hanya ditemani oleh dokter kandungan saja. Yang lain sedang mengunjungi mall terkenal di Samarinda.
Dokter Emy Hartanti duduk di samping Elfa yang masih melihat di tengah sungai yang tenang, "Apakah Anda melihat ada hewan yang langka itu, Nyonya?"
__ADS_1
"Tidak, sepertinya kita tidak beruntung lagi hari ini."
"Kata penduduk asli sini, kita harus sabar."
Elfa membaca berita tentang ikan lumba-lumba air tawar ikon Sungai Mahakam di media sosial. Ikan yang langka itu sekarang hanya tinggal sekitar delapan puluh ekor saja. Akan muncul dan berenang bergerombol ke hulu saat musim kemarau tiba.
"Kemungkinannya kecil akan muncul, Dok. Sangat langka ikan itu."
"Semoga akan berkembang biak dengan baik agar anak cucu kita nanti masih bisa melihatnya."
"Aamiin."
"Oya apakah boleh saya bertanya, Nyonya?" tanya Dokter Emy.
"Silakan mau bertanya apa, Dok?"
"Tentang kehamilan."
"Ooo, sebenarnya El masih ragu, Dok."
"Mengapa ragu?"
Elfa bercerita belum belum mengalami telat datang bulan. Tidak merasakan tanda-tanda kehamilan seperti yang dibaca kemarin. Hanya melihat sang suami yang mengalami mual dan muntah setelah mencium bau sesuatu.
Alasan belum yakin betul jika sekarang sedang hamil karena dulu sang suami pernah muntah saat di pasar tradisional. Suami tidak pernah masuk pasar tradisional. Demikian juga tidak pernah mencium minyak khas yang kemarin dipakai.
"Terkadang memang tidak disadari tanda-tanda kehamilan itu, karena hanya seperti tanda-tanda akan datang bulan, seperti pusing, nyeri punggung, mudah lelah dan sering buang air kecil atau ada perubahan pada payu*ara."
"Perubahan yang seperti apa itu, Dok?"
"Perubahan terasa lebih kencang, nyeri, sensitif dan terasa tidak nyaman. Selain itu pada puncaknya akan cenderung memerah, menonjol, dan menjadi lebih gelap."
"Apa yang menyebabkan perubahan itu, Dok?"
"Disebabkan oleh peningkatan jumlah hormon progesteron dan estrogen. Di samping itu, aliran darah pada area puncak untuk mempersiapkan produksi ASI sehingga biasanya terlihat garis-garis urat di sekitar puncaknya."
Tanpa disadari saat Elfa bertanya tentang tempat favorit saat suami beraksi. Suami tercinta sudah berada di belakang mendengar dengan jelas. Juan Mahardika langsung duduk di samping Elfa dan berbisik, "Nanti Akak saja yang memeriksa apakah ada ciri-ciri yang dikatakan Dokter Emy."
"Eeee ...?"
__ADS_1