Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 205. Moment Penting Henry


__ADS_3

Henry Alexander tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Kyai Din. Laki-laki tua yang terliha bijaksana itu selah bisa membaca pikirannya. Dulu memang tujuan awal karena ingin menikah dengan Kris.


"Dua bulan lalu memang tujuan awal ingin menikah, tetapi sekarang tidak lagi."


"Baiklah, berarti sudah siap untuk mengucap dua kalimat syahadat?"


"Siap, Kyai."


"Akan kami persiapkan dulu, sebaiknya Nak Henry menghubungi keluarga atau teman di Jakarta!"


"Baik, Henry akan panggil teman yang ada di sini."


Henry Alexander mengirim beberapa foto diri sendiri bersama Kyai Din. Mengirim juga lokasi saat ini berada di masjid Istiqlal. Dan ditambah menulis pesan WA, "Henry ada di sini, apakah bisa menjadi saksi saat Henry mengucap syarat pindah keyakinan?"


Juan Mahardika sedang berjemur dengan twins baby saat mendapatkan pesan WA dari Henry Alexander. Melhat foto yang dikirim dari masjid Istiqlal, Juan Mahardika melepas kacamata, "Mengapa kemarin tidak ngomong kalau ke Jakarta?" tanya Juan Mahardika pada ponselnya.


Datang Nany Sofia dan Elfa bersamaan untuk mengambil twins baby untuk mandi, "Ayo kita mandi!"

__ADS_1


"Tunggu dulu, Sayang. Coba lihat ini Henry baru saja mengirim pesan WA!"


"Ada apa, Akak?"


"Ini lihat sendiri!"


Mata Elfa terbuka lebar karena kaget, laki-laki yang mencintai sahabatnya itu ada di Indonesia. Padahal baru saja Kris mengirim pesan dan bercerita jika Henry Alexander ada di Singapura. Selain akan mencari dagangan yang akan dijual di supermaarket, juga ziarah mengunjungi makam ayah kandung.


"Henry ada di masjid Istiqlal, padahal baru saja El chatting sama Kris katanya dia ke Singapura?"


"Tidak tahu, coba baca sendiri WA dia!"


"Akak mandi sana, Akak dan Asisten Dwi saja yang mendampingi, kalau Rey mau ajak saja!"


"El tidak iikut?"


"Maaf, El belum berani meninggakan twins baby. Nanti El titip amplop saja untuk masjid."

__ADS_1


Juan Mahardika mengerutkan keningnya sambil membayangkan harus membawa amplop yang isinya gendut dan penuh, "Tidak elit banget sih, Sayang titip amplop, pakai QR saja nanti. El tinggal bilang mau sodaqoh berapa?"


Elfa tersenyum dan mengangguk, pada zaman modern sekarang ini semua dipermudah oleh tegnologi. Tidak perlu membawa uang cash saat berbelanja atau bersedekah. Tersedia pembayaran digital dan hanya mengarahkan barkot pada ponsel.


Ada satu lagi pesan yang dikirim Henry Alexander saat ponsel Juan Mahardika dipegang Elfa. Meminta untuk merahasiakan moment penting ini pada Kris dan Mama Cristine. Ingin memberikan kejutan nanti setelah kembali ke Italia.


Rena berada di desa saat Elfa menghubungi dan meminta untuk menjadi saksi pada peristiwa penting Henry Alexander. Ibu kandung Rena sakit dan tidak bisa ditinggal. Sudah dua hari yang lalu Rena tinggal di rumah orang tua, sedangkan dengan terpaksa Asisten Dwi Saputra bolak-balik desa ke Jakarta.


Waktu kurang seperempat jam Asisten Dwi Saputra dan Juan Mahardika sampai di masjid Istiqlal Jakarta. Langsung bergabung dan menjadi waktu yang bersejarah dalam hidup Hendry Alexander. Pengucapan dua kalimat syahadat berjalan lancar tanpa halangan.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini Henry?" tanya Juan Mahardika setelah acara sakral itu selesai.


"Henry akan belajar dulu di sini dengan Kyai Din."


"Maksud kamu akan tinggal di Indonesia untuk sementara?"


BERSAMBUNG

__ADS_1



__ADS_2