
Hampir dua hari, Juan Mahardika merawat Elfa dengan sabar. Hanya akan keluar kamar jika perawat mengganti baju jika basah karena keringat dingin. Sisanya Juan Mahardika sendiri yang akan melakukan semua yang diperlukan Elfa.
Mulai dari mengambil minum jika haus. Sesuap dua suap makan sebelum minum obat. Membetulkan selimut dan bantal jika Elfa merasa tidak nyaman.
Dengan pasrah harus diterima oleh Elfa saat hanya Juan Mahardika yang merawat. Badan Elfa yang masih lemah dan tidak berdaya tidak sanggup untuk menolak bantuan dari laki-laki yang dibenci. Walau sebenarnya enggan menerima bantuan dari Juan Mahardika.
Bahkan, saat Juan Mahardika terus mengusap keringat yang membasahi wajah. Elfa tidak bisa menolak dan hanya bisa diam saja. Tidak memiliki tenaga untuk melawan dan menolak.
Satu jam bagai satu minggu rasanaya buat Elfa. Harus satu kamar dengan orang yang paling dibenci dalam hidup. Pikiran selalu was-was dan takut terjadi sesuatu seperti dulu lagi.
Hanya sayangnya, Elfa hanya bisa pasrah diperlakukan dengan lembut oleh Juan Mahardika. Seolah melihat Juan Mahardika dengan kepribadian yang berbeda. Biasanya setiap bertemu selalu marah dan bertanya tentang pusaka yang mati suri.
Sudah dua hari Elfa terkulai lemah tidak berdaya. Dua hari ini pula Elfa mendapatkan perlakuan yang manis dan penuh perhatian. Walau terkadang semua yang dilakukan Juan Mahardika tanpa kata.
Sorot mata Juan Mahardika tidak seperti dulu. Dulu terlihat tajam dan penuh kebencian. Sekarang ini terlihat teduh dan penuh kasih sayang.
Beda lagi dengan pikiran Juan Mahardika saat ini. Tangan dan tenaga hanya dicurahkan untuk merawat Elfa saja. Selalu mencurahkan perhatian hanya untuk gadis yang terlihat lemah tak berdaya.
Yang lebih aneh lagi adalah pusaka miliknya. Selalu tenang dan jarang terbangun bahkan menggeliat pun jarang. Seolah pusaka itu tahu jika pemiliknya sedang sakit dan memerlukan perhatian.
Tim dokter hanya akan masuk kamar sehari tiga kali. Terkadang datang ketika dipanggil, atau mengganti cairan infus yang habis. Mengambil sample darah dilakukan setiap sore hari setelah Elfa berganti baju.
__ADS_1
Yang paling sering masuk kamar adalah Asisten Dwi Saputra. Selalu menginformasikan tentang situasi perusahaan. Atau tentang kabar tempat bencana setelah ditinggal Elfa.
Para Tim dokter rombongan dari rumah sakit Aljuzeka hanya tahu jika saat ini Elfa berada di rumah sakit kota. Kebetulan saat dievakuasi kemarin pagi. Dokter Sintya dalam perjalanan kembali ke lokasi bencana.
Setelah dua hari berlalu, belum ada yang menyadari posisi Elfa saat ini. Tidak ada yang tahu jika saat ini berada di pulau pribadi milik keluarga Mahardika. Hanya Pak Jamal yang mengetahui posisi Elfa saat ini.
Di hari ketiga malam ini dalam kamar, Juan Mahardika awalnya memandangi Elfa, mengusap pipi dan bibirnya. Perasaan hati saat ini semakin tenang setelah bisa merawat Elfa. Semakin haru Elfa semakin membaik, keringat dingin kini mulai menghilang dan suhu tubuh mulai normal.
"Entah apa yang akan kamu lakukan setelah sehat nanti?" monolog Juan Mahardika sambil mengusap lengan Elfa.
Juan Mahardika membaringkan tubuhnya di samping Elfa yang masih terlelap. Miring mendekatkan wajahnya dengan wajah Elfa yang masih terlihat pucat, "Jangan marah ya kalau sudah sehat nanti, aku hanya ingin ada di dekat El saja kok," kata Juan Mahardika sendiri dengan lirih.
Di sepertiga malam, Elfa mulai mengerjapkan mata, yang pertama dirasakan adalah perut, ada sesuatu di atasnya. Diraba ternyata tangan, Elfa langsung menengok ke samping ada wajah yang tidak asing dekat dari wajahnya. Digeser perlahan dari perut, hanya sayangnya tangan terhalang ada infus yang tersambung pada tiang penyangga infus.
Elfa mencoba untuk duduk dan menjauh dari Juan Mahardika yang masih terlelap. Memandangi sekeliling kamar yang ditempati. Ada foto Juan Mahardika tergantung di dinding dengan ukuran besar. Wajahnya terlihat tampan dengan stelan jas dan tersenyum manis.
Ada dua foto lagi yang berada di sebelah Juan Mahardika. Yang sebelah kanan adalah pasangan suami istri yang wajahnya mirip dengan Juan Mahardika. Ada satu lagi foto seorang gadis belia yang menggunakan gaun cantik dan elegan berwarna pink.
Kamar yang super mewah dengan fasilitas yang sangat lengkap. Luas kamar itu tiga kali lipat kamar Elfa pribadi yang ada di Bekasi. Kamar mandi yang paling menonjol dari seluruh kemewahan yang ada. Seperti kamar seorang pangeran dalam negeri dongeng.
Lemari besar panjang berada di samping kamar mandi. Televisi berukuran besar di pojok kamar. Ada juga satu sofa panjang di depan televisi.
__ADS_1
Elfa mencoba turun dari tempat tidur dengan berpegangan tiang infus. Mencoba berdiri dengan susah payah, sudah tidak turun dari tempat tidur dua hari rasanya badan sakit semua.
Elfa menarik paksa jarum infus yang menempel di tangan kiri. Ada darah mengalir sesaat dan ditahan menggunakan selimut. Perlahan meletakkan jarum infus itu di tiang infus walau kepala masih terasa pusing.
Berdiam dan berdiri sesaat untuk menstabilkan keseimbangan tubuh agar tidak terjatuh. Mencoba setenang mungkin agar tidak membangunkan Juan Mahardika yang masih berada dalam mimpi. Berjalan keluar kamar dengan membuka pintu kamar perlahan.
Setelah sampai di luar kamar keadaan sangat sepi dan semua lampu menyala terang, "El di mana sekarang ini?" monolog Elfa sendiri sambil berjalan sempoyongan.
Berjalan beberapa langkah, Elfa berdiri didepan lift. Langsung menekan tombol buka dan masuk dengan cepat. Yang di tekan setelah di dalam lift adalah lantai dasar.
Keluar dari lift ternyata sama seperti yang di atas tadi lampu penerangan berada di mana-mana. Memandang kejauhan ada deburan ombak yang terdengar bergantian. Elfa terus berjalan tanpa alas kaki dan sempoyongan, tetapi terus memaksakan diri untuk terus berjalan. Tidak seorangpun ditemuai dalam setiap langkahnya sampai kaki menginjak pantai.
"Pinggir pantai, sebenarnya El berada di mana ini?" monolog Elfa lagi.
Udara dingin langsung menusuk tulang dan kulit Elfa. Sepanjang mata memandang hanya ada laut yang terlihat berkilauan karena cahaya terang lampu. Pasir putih yang menghapar di pinggir pantai hanya terlihat samar-samar.
Elfa terus berjalan sempoyongan menelusuri pantai. Sesekali kakinya terkena deburan ombak yang berkejaran. Elfa tetap berjalan tanpa arah tujuan dan tujuan.
"Apakah ini pantai tempat bencana itu, kapan dipasang lampu-lampu itu?" tanya Elfa sendiri sambil terus berjalan.
Samar-samar Elfa mendengar suara langkah kaki dengan napas yang memburu. Elfa langsung berbalik badan dan bersamaan ada suara bariton menggema dari belakang Elfa, "Kamu mau ke mana?"
__ADS_1