
Dengan hati yang ragu, Juan Mahardika tetap bertekad untuk berjuang. Pusaka yang tidak pernah mau berpindah ke lain hati. Hati dan pikiran yang mulai bisa menyatu adalah semangat untuk terus berjuang.
Tidak memperdulikan abang yang tidak merestui. Tidak perduli dengan penolakan gadis yang dicintai. Niatnya hanya satu berjuang sampai batas kemampuan yang dimiliki.
"Apakah saya boleh berjuang, Tuan?" tanya Juan Mahardika.
"Katakan satu alasan yang bisa meyakinkan kami untuk mengizinkan Anda mendekati putri kami!" perintah Papi Alfarizi.
"Masa lalu saya memang buruk, banyak berpacaran dengan banyak gadis, tetapi tidak pernah mengalami getaran cinta seperti yang saya rasakan dengan putri Anda. Saya akan memperbaiki diri, saya akan berjuang untuk bisa mendapatkan cinta itu apapun resikonya."
"Benarkah, apa contoh resiko itu?"
"Harta, kedudukan, nama baik atau apapun yang Anda inginkan?"
"Termasuk keyakinan?"
Juan Mahardika teringat keluarga besar yang berada di Australia. Mommy Vera berasal dari Indonesia dan berkeyakinan seperti mayoritas masyarakat Indonesia. Daddy Hans Mahardika adalah asli keturunan suku asli penduduk Asutralia dan berbeda keyakinan.
Dalam identitas kependudukan keluarga Juan Mahardika, anak laki-laki mengikuti Mommy Vera. Dan anak perempuan mengikuti Daddy Hans Mahardika. Hanya sayangnya dari kecil tidak pernah sekali dibekali pendidikan tentang keyakinan dengan benar.
"Saya berkeyakinan sama dengan Anda, hanya saya tidak pernah melaksanakan seperti yang Anda lakukan karena tidak diajari sejak kecil. Saya tidak menyalahkan siapapun, tetapi saya berjanji saya akan berusaha agar layak untuk putri Anda."
Sesaat Papi Alfarizi teringat masa lalu seolah sedang bercermin pada diri sendiri. Cinta yang dimiliki rekan bisnis yang ada di depannya persis yang dirasakan dulu. Hanya bedanya dulu sangat terlambat menyadari cinta yang tumbuh.
"Silahkan saja berjuang, tetapi ingat semua tergantung putri kami. dan satu lagi kami akan memberikan kesempatan yang sama untuk laki-laki selain Anda."
Kembali Juan Mahardika mengambil napas panjang dan langsung mengembuskan perlahan. Kesempatan yang dimiliki akan semakin kecil karena yang berjuang tidak hanya dirinya. Setidaknya tahu ada dua laki-laki lain yang sangat mencintai Elfa saat ini.
"Baik, saya mengerti."
"Tetapi ingat, jangan sekali-kali mempermainkan putri kami. dia adalah putri kesayangan keluarga."
__ADS_1
"Tentu saja, saya bisa menjamin dengan nyawa kalau perlu, apakah saya bisa bertemu dengan Elfa sekarang, Tuan?"
"Untuk saat ini maaf, El sedang beristirahat."
Juan Mahardika keluar kantor Papi Alfarizi dengan kecewa. Ditunggu Asisten Dwi Saputra dan empat pengawal di UGD rumah sakit. Harus mengobati luka di wajah sebelum pulang ke Jakarta.
Elfa sedang beristirahat sendirian di ruang rawat inap sendirian. Keluarga pulang ke rumah Alfian untuk beristirahat termasuk Mami Mitha dan Papi alfarizi. Elfa tidak mengetahui peristiwa Juan Mahardika datang dan dipukuli oleh Alfian.
Dokter Atha tugas sore hari ini, sebelum masuk kantor datang melihat keadaan Elfa. Putri angkat Papi Alfarizi itu tidak tahu jika Elfa tidak mengetahui Juan Mahardika datang ke rumah sakit. Dengan santai meledek Elfa yang sedang termenung sendirian.
"Yang baru saja bertemu pujaan hati, melamun terus sih?" kata Dokter Atha duduk di samping Elfa.
"Bertemu siapa sih, Kak Atha?"
"Si pangeran yang harus melewati dua pengawal El."
"El tidak punya pangeran seperti itu, Kak. Jangan ngawur dong!"
"Tunggu dulu, Kak. Apa maksud Kak Atha pangeran yang dipukuli Abang Al. Siapa sih kok El jadi bingung?"
Elfa tertegun teringat siang tadi melihat Asisten Julio datang tergesa-gesa. Berbicara berbisik dengan Papi Alfarizi setelah itu keluar dan berpamitan. Dengan alasan ada hal yang penting yang harus dikerjakan.
Hanya bisa menduga jika saat itu Juan Mahardika datang dan bertemu dengan Alfian Alfarizi, "Siapa namanya Kak?"
"Lo gimana sih, El. Nama pangeran sendiri lupa, itu CEO MAHARDIKA CORP."
"Dia bukan pangeran El, Kak. El tidak ada hubungan spesial dengan laki-laki itu."
"Yang benar?"
"Benar, mana mungkin dia jadi pangeran El. Pacaran saja tidak."
__ADS_1
"Dia rela dipukuli Al sampai babak belur tanpa melawan. Tidak mungkin kalau tidak cinta sama El."
Elfa semakin bingung dengan berita silih berganti tentang Juan Mahardika. Laki-laki yang pernah merenggut kehormatan itu selalu saja membuat kejutan baru. Dulu selalu membuat kesal dan sakit hati, sekarang selalu saja berbuat yang tidak masuk akal.
"Kak Atha tahu dari siapa cerita itu?"
"Seluruh rumah sakit tahu semua, Al memukuli dia di depan kantor. Wajahnya babak belur tetapi pengusaha itu tidak membalas sedikitpun."
"Ooo El malah tidak tahu."
Elfa kembali termenung setelah Dokter Atha bertugas masuk ruang operasi. Masih bingung memikirkan perubahan sikap Juan Mahardika. Dulu penuh kebencian, sekarang selalu muncul dan seolah selalu memuja.
Elfa tersentak kaget terbangun dari lamunan tiba-tiba ada pesan WA masuk di ponsel. Sudah tertulis nama Akak JM dan nomor tersimpan, "Siapa yang memasukkan nomor ponsel ini dengan nama Akak JM?" tanya Elfa sendiri sambil membuka pesan WA.
"Apa kabar, El. Akak JM ingin bertemu?" tulis pesan Juan Maardika.
Hanya dibaca saja oleh Elfa, enggan untuk menjawab atau membalas pesan. Dibiarkan dan diletakkan di meja ponselnya agar tidak mengirim pesan WA lagi. Baru saja ingin diletakkan ada masuk dua pesan sakaligus dari orang yang sama.
"El, Akak ingin bertemu, please!"
Pesan WA yang kedua hanya emot kepala kuning yang tersenyum dan tangan yang bersatu. Kembali Elfa hanya membaca saja, "Bodo amat, El ngantuk," monolog Elfa langsung meletakkan ponsel di meja.
Setelah diletakkan di meja, suara notifikasi pesan WA terus berbunyi. Dalam satu jam ada puluhan suara itu masuk. Elfa tetap membiarkan tanpa dilihat ataupun dibaca.
Sampai menjelang senja, Elfa masih enggan membuka ponsel miliknya. Masih tergeletak di meja dan tidak sedikitpun disentuh. Memilih menggunakan laptop untuk iseng menghabiskan waktu menunggu saat menunaikan kewajiban senja hari.
Belum ada satupun keluarga yang datang, hanya perawat dan dokter yang sesekali memeriksa dan menanyakan hal yang diperlukan. El lebih banyak menghabiskan waktu bermain game menggunakan laptop agar tidak terfokus dengan ponsel yang masih sering berdering.
"Emang enak El cuekin?" kata Elfa saat mendengar kesekian kali suara dering notifikasi masuk di ponsel.
Elfa terus saja asyik bermain game dan tidak menyentuh ponsel. Ada suara ketukan pintu kamar rawat inap dengan suara pelan berkali-kali. Elfa mengerutkan keningnya berpikir dan heran siapa yang sedang mengetuk pintu.
__ADS_1
Dari kemarin menginap di ruang rawat inap, baru kali ini ada yang mengetuk pintu. Biasanya jika keluarga atau perawat dan dokter datang, mengucapkan salam dan langsung mendorong pintu, "Siapa?" teriak Elfa.