Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 6. Isu Kelompok Pengaduan Gadis


__ADS_3

Dengan terpaksa Jonny Evans memberikan lima lembar uang bergambar Soekarno dan Muhammad Hatta kepada wanita paruh baya. Rasa penasaran ingin mengetahui sosok orang yang telah menolong gadis yang melarikan diri. Karena jika dipikir dengan logika tidak mungkin seorang gadis mampu melompat pagar sendiri.


"Ini uangnya ... cepat ceritakan!"


"Nah ini baru benar, saya boleh duduk dulu, Bos?"


"Silahkan duduk di situ!" Jonny Evans menunjuk kursi yang ada di depan meja kerja.


Ibu paruh baya mulai bercerita dengan diawali saat sedang lewat di jalan belakang kafe. Ada satu mobil dan dua motor yang berhenti di pinggir jalan. Yang memakai motor satu laki-laki dan satu wanita.


Yang ada di dalam mobil tidak terlihat wajah mereka. Ada tiga orang yang ada di dalamnya. Hanya terlihat mereka memakai topi dan kaca mata.


Ibu paruh baya juga melihat saat ada wanita yang memakai baju kebaya pengantin berlari mendekati pagar. Hanya seorang laki-laki yang menolong gadis itu. Dengan cara gadis itu memanjat terlebih dahulu kemudian di gendong setelah kakinya menginjak pagar paling atas.


Gadis itu langsung membonceng motor milik laki-laki yang telah menolongnya. Mereka langsung meninggalkan tempat dengan kecepatan tinggi. Sayangnya ibu paruh baya itu tidak bisa melihat wajah penumpang yang ada di dalam mobil.


"Apakah Ibu mencatat nomor mobil itu?" tanya Jonny Evans.


"Saya hanya melihat saja, Bos. Saya tidak membawa alat tulis."


"Katakan berapa nomor polisi mobil itu?"


"Maaf saya hanya teringat dua angka belakang saja, Bos."


"Aaaaah ... percuma, bagaimana bisa melacaknya?"


"Apa lagi yang ingin Bos tanyakan?"


"Tidak ada, sana keluar!"


"Terima kasih, Bos."


Isu tentang kelompok pengaduan gadis semakin santer terdengar. Banyak gadis yang sudah diselamatkan oleh mereka. Namun sulit untuk mencari informasi tentang tokoh dibalik kelompok itu.


Semua gadis yang pernah ditolong oleh mereka memilih tutup mulut. Tidak ada yang membocorkan identitas mereka. Masih simpang siur anggota antara laki-laki atau wanita.


Satu bulan berlalu Jonny Evans meningkatkan keamanan kafe. CCTV dipasang lebih banyak termasuk di belakang kafe. Lahan kosong di bersihkan dan dimanfaatkan sebagai lahan parkir tambahan.


Tidak ada peristiwa lagi setelah kafe semakin ramai. Usaha Jonny Evans mencari gadis desa untuk para wisatawan berduit. Berkedok nikah sirri padahal memuaskan hati berjalan lancar tanpa hambatan.


Juan Mahardika sudah beberapa kali tidak lagi memanfaatkan kafe Jonny Evans untuk mencari mangka. Jarang mengunjungi villa karena kesibukan pekerjaan. Dia lebih sering mencari gadis kota yang mau diajak kencan.


Setelah satu bulan berlalu, Juan Mahardika bosan dengan gadis kota. Dia ingin mencari suasana baru dalam berkencan. Hari Sabtu sore pergi ke villa, tetapi tidak berkunjung ke kafe Jonny Evans.

__ADS_1


Tanpa sengaja dia bertemu dengan seorang laki-laki tua yang sedang berjalan bersama anak gadisnya. Laki-laki tua itu menarik tangan putrinya dengan paksa. Gadis yang sangat cantik walaupun hanya berdandan sederhana.


"Pak tua, mau dibawa ke mana putrinya?" tanya Juan Mahardika dari atas mobilnya.


"Dia mau kabur, Tuan."


"Kenapa kabur?"


"Tadi dia akan di nikahi konglomerat tetapi dia memilih kabur."


"Bagaimana kalau dia aku nikahi sekarang?"


"Anda berani bayar mahar berapa, Tuan?"


"Pokoknya lebih besar dari konglomerat itu."


"Baiklah ... di mana Tuan akan menikahi putri saya?"


"Ayo naik ... ikut ke villa saya!"


"Baiklah ...."


Gadis cantik nan sederhana itu dipaksa masuk ke mobil milik Juan Mahardika. Ayah gadis itu tidak memperdulikan tangisan dan penolakan putrinya sendiri. Dia hanya tergiur oleh tawaran uang mahar yang akan di dapat.


Datang wanita cantik berdandan menor dan berkaca mata hitam. Rambutnya pirang sebahu dengan mengenakan gaun panjang tanpa lengan. Membawa koper berisi kosmetik dengan ukuran sedang turun dari mobil yang berhenti di depan pintu gerbang.


"Permisi ...!"


"Ya ada apa?" tanya Security.


"Saya perias pengatin yang akan ...?" Wanita itu tidak melanjutkan ucapannya karena security langsung membuka pintu gerbang, "Masuk!" perintahnya.


"Terima kasih."


"Ayo aku antar ke kamar calon pengantin wanita!"


Perias pengantin mengikuti langkah security masuk ke salah satu kamar yang ada di dalam villa, "Ini kamarnya, silahkan masuk!"


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama."


Perias pengantin masuk langsung membuka kaca mata hitam, "Atin ... kamu bernama Atin Suprihatin?"

__ADS_1


"Iya saya Atin."


"Saya Kak El. dari kelompok pejuang gadis."


"Alhamdulillah ... terima kasih. Kak El mau menolong Atin."


Setengah jam yang lalu Atin Suprihatin mengirim pesan WA kepada kelompok pejuang gadis. Untung Atin menyembunyikan ponsel di celana dobel yang di kenakan. Saat di kamar sendirian bisa mengirim pesan.


Dengan mengirim lengkap alamat villa. Membutuhkan bantuan segera, kelompok pejuang gadis langsung merespon. Kali ini Elfamitha yang bertugas menyelamatkan Atin dengan menyamar menjadi perias pengantin.


"Apa rencananya, Kak?" tanya Atin.


"Tunggu ... Kak El mempelajari situasi villa dan penghuninya."


Atin bercerita di villa ada dua security, ayahnya, dua pembantu wanita dan tuan rumah yang akan menikahi. Pernikahan akan dilaksanakan satu jam lagi. Hanya tinggal menunggu penghulu datang.


Sambil mendengarkan cerita Atin. Elfa memeriksa area kamar dan seluruh isinya. Tidak lupa melihat dan masuk kamar mandi dan terakhir berdiri di dekat cendela.


Saat berdiri di dekat cendela, Elfa bisa melihat ke luar. Di luar ada taman kecil, bunga bunga yang sedang mekar dan ada satu kursi panjang dekat pagar. Pagar yang hanya setinggi bahu dan terbuat dari perpaduan besi dan semen.


Elfa tersenyum devil karena sudah menemukan solusi untuk bisa keluar dari kamar villa. Dia langsung membuka koper kecil berisi kosmetik. Di koper paling bawah ada obeng kecil yang diselipkan di bawah alat kosmetik.


"Apa itu, Kak?"


"Obeng ... ini untuk membuka tralis dan kaca jendela."


"Kak El bisa melakukannya?"


"Bisa dong, ini sangat mudah."


Obeng yang menggunakan tenaga baterai itu dengan mudah membuka satu persatu paku yang menanjap. Tidak ada suara sedikitpun saat obeng sedang digunakan. Kurang dari sepuluh menit tralis sudah bisa terlepas dari tempatnya.


"Ayo bantu angkat, Atin!"


Baik, Kak. Diletakkan di mana?"


"Tunggu sebentar!"


Elfa mengerutkan keningnya sambil berpikir. Harus diletakkan di tempat yang tidak terlihat. Tidak dicurigai jika ada yang datang dan masuk kamar. Elfa melihat ada celah kecil yang ada di bawah tempat tidur.


"Angkat dan letakkan di bawah tempat tidur saja!"


Baru tiga langkah kaki mengangkat tralis untuk di letakkan di bawah tempat tidur. Ada suara kunci pintu diputar dari luar. Elfa dan Atin kaget dan bingung, "Aduh bagaimana ini, Kak?"

__ADS_1


__ADS_2