Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 41. Cerita Sang Asisten


__ADS_3

Elfa langsung menutup mulut saat Krisnawati bertanya, tanpa sadar keceplosan mengatakan hal yang selama  ini disembunyikan. Sampai sekarang masih ingin merahasiakan persoalan pribadi dengan laki-laki brengsek yang sangat dibenci, apalagi sekarang mengetahui Rena dekat dengan asisten laki-laki itu.


"Maksudnya, El juga kemarin didekati oleh seorang dokter dan teman satu kampus bersamaan. El jadi insecure sendiri."


"Siapa yang El pilih?"


"Tidak dua-duanya."


"Eee mengapa begitu?"


"Mereka terlalu memaksa, El tidak suka. Coba ceritakan gebetan Rena dong, siapa tahu El kenal kali-laki itu!" Elfa mengalihkan perhatian.


"Kris juga tidak terlalu kenal, yang Kris tahu dia asisten seorang pengusaha keturunan Australia yang terkenal bernama Juan Mahardika."


Elfa mengerutkan keningnya berpikir tentang kedekatan antara Rena dan Asisten Dwi Saputra. Menebak kemungkinan ada tujuan tertentu mendekati Rena. Kemungkinan si asisten sedang menyelidiki sesuatu yang berhubungan dengan mati suri pusaka Juan Mahardika.


"Apakah gebetan Rey tahu kalau kalau Rey adalah salah satu pendiri pejuang gadis?"


"Tidak, Rey tidak pernah mengungkap identitas kita kepada siapapun."


Sedang asyik berbincang, ponsel Krisnawati ada suara notifikasi pesan WA masuk. Tulisan pesan dari Rena, "Kris di mana, mengapa tidak ada di markas?" di baca keras oleh Krisnawati.


"Vedio call saja, tetapi lihat apa dia masih berdua dengan gebetan!" perintah Elfa.


"Baik."


Krisnawati menekan tombol vedio call menghubungi Rena. Awalnya hanya menunjukkan wajah sendiri sambil berbincang. Setelah memastikan Rena ada di kamar yang ada di markas, Krisnawati memunjukkan wajah Elfa yang sedang rebahan di tempat tidur.


"Aaa, Rey sangat merindukan El, kalian di mana?"


"Di villa El, ada apa?" tanya Krisnawati.


"Rey mau curhat."


"Ke sini saja sekarang, El juga kangen!"

__ADS_1


Kurang dari seperempat jam Rena sudah sampai villa. Diantar oleh security penjaga villa sampai kamar Elfa. Tiga sahabat langsung berpelukkan melepas rasa rindu karena lama tidak bertemu.


Tanpa menunggu atau bercerita yang lain, Rena langsung meminta pertimbangan dua sahabat. Tentang kasih dan asmara yang lama terpendam. Karena terhalang kesucian dan kehormatan yang pernah di renggut paksa dulu saat menikah sirri.


Baru saja Asisten Dwi Saputra mengutarakan isi hati setelah sekian lama. Laki-laki yang menjadi asisten pribadi itu membutuhkan waktu lama untuk meyakinkan hati. Pasalnya jarang bergaul dengan wanita karena memang sangat tertutup.


Rena juga menyukai laki-laki yang bekerja sebagai asisten pribadi itu. Rena memutuskan untuk berterus terang tentang masa lalu. Bercerita jika sudah pernah menikah sirri dengan bandot tua yang tajir karena paksaan orang tua.


Bercerita juga setelah akan dinikahkan untuk yang ketiga kalinya. Rena kabur dengan membawa uang mahar yang jumlahnya fantasis. Melarikan diri  ke Australia kuliah di salah satu universitas ternama di sana.


Rena memberikan waktu yang tidak terbatas kepada Asisten Dwi Saputra untuk mempertimbangkan lagi. Tidak ingin menyesal di kemudian hari atau menjadi alasan saat sudah menikah dan terjadi konflik. Walau sebenarnya Rena juga mengatakan juga mencintai sang asisten tidak bertepuk sebelah tangan.


"Bagaimana jawaban dia, Eee siapa namanya?" tanya Elfa setelah Rena selesai bercerita dan pura-pura tidak mengenal sang asisten.


"Namanya Aa Dwi, El," jawab Krisnawati.


"Awalnya dia pura-pura tenang, tetapi Rey bisa membaca dari raut wajahnya sangat kecewa," jawab Rena sambil berkaca-kaca.


"Eleh ... eleh, mengapa mau menangis begitu sih? sini Kris peluk!" Rena dan Krisna berpelukan dengan erat.


"Jangan bersedih, insyaallah jika Aa Dwi memang jodoh Rey pasti dia akan menerima apa adanya."


Rena menggelengkan kepala dengan cepat, "Saat Aa Dwi pamit, dia tidak banyak bicara dan sikapnya berubah. Rey sampai bingung."


"Ingat, Rey. Semua makhluk Allah di ciptakan berpasang-pasangan,"  nasihat Krisnawati lagi sambil mengusap punggung Rena.


Elfa hanya menelaah dan memahami nasihat Krisnawati untuk Rena. Contoh seperti yang Rena alami yang sangat ditakutkan selama ini. Takut jika tahu apabila dirinya tidak memiliki hal yang berharga akan dicampakkan oleh pasangan.


'Adakah laki-laki yang tulus menerima apa adanya?' batin Elfa dalam hati.


"Rey sangat mencintai Aa Dwi, tetapi jika melihat dia tadi kemungkinan dia mundur. Rey harus bagaimana dong?"


Elfa tetap saja termenung tidak memiliki jawaban dari pertanyaan Rena. Berharap tidak akan mengalami yang namanya jatuh cinta. Tidak ingin mengalami seperti yang Rena alami jatuh cinta yang kemungkinan terhalang masa lalu yang kelam.


"El, tolong bantuin menasihati agar Rey tenang, mengapa melamun?" tanya Krisnawati.

__ADS_1


"Maaf ya, El juga bingung apa yang harus dilakukan. El belum pernah jatuh cinta."


"Setidaknya katakan sesuatu dong, El. Rey lagi galau ini."


Elfa mencoba berpikir seperti sedang berhadapan dengan pasien yang mengalami masalah. Biasanya bisa menasihati menggunakan alasan yang sesuai logika. Alasan yang mudah diterima oleh pikiran dan hati.


"Orang yang mencintai itu sejatinya bisa menerima apapun kekurangan pasangan, jika tidak bisa menerima berarti bukan cinta, tetapi nafsu atau hanya obsesi," kata Elfa.


Rena mengusap air mata yang menggenang di pelupuk mata. Langsung mendekati Elfa dan memeluknya dengan erat. Krisnawati juga ikut memeluk mereka bersamaan.         


"Terima kasih, El. Kamu benar," jawab Rena.


"El memang paling bijak." Krisnawati juga setuju dengan nasehatnya.


Elfa hanya tersenyum dan mengangguk. Hati dan pikiran sebenarnya juga galau seperti yang dirasakan Rena. Bahkan lebih pelik lagi karena persoalan tak seorangpun yang tahu.


"Jadi apa yang harus Rena lakukan sekarang, El?"


Elfa teringat waktu direnggut kehormatannya dulu. Walau sampai sekarang masih sakit hati dan marah saat mengingat itu. Namun seiring waktu hati mulai terbiasa merasakan sakit.


"Hanya waktu yang akan mengobati hati, percayalah semua akan menjadi pengalaman walau pahit pada awalnya."


"El benar, Rey. Dulu Kris hampir gila saat di nikahkan paksa dengan laki-laki asing. Sekarang ini mulai ikhlas dan hanya bisa menerima takdir, semoga suatu saat nanti kita mendapatkan pasangan yang mau menerima apa adanya, bukan ada apanya."


Sedang asyik saling menasihati dan berbincang. Ada suara ketukkan pintu dari luar beberapa kali. Bersamaan terdengar suara salah satu security yang yang mengucapkan salam, "Assalamualaikum, Nona."


"Siapa itu yang mengetuk pintu, El?" tanya Krisnawati.


"Pak Hasan si security." Elfa membuka pintu dengan sepat.


"Maaf, Nona. Di luar ada tamu yang mencari Anda?"


"Siapa, Pak?"


Rena juga ikut mendekati security takut Asisten Dwi Saputra yang bertamu, "Orangnya seperti apa, Pak?"

__ADS_1


"Saya tidak kenal, Nona. Kalau dilihat penampilannya sih orang kota."


__ADS_2