
Setelah tangan Juan Mahardika terlepas dan laki-laki itu kembali bertanya. Elfa hanya tersenyum devil seolah mengejek. Menatap mata dengan tajam sambil menggelengkan kepala karena tahu betul yang ada dipikiran laki-laki yang ada didepannya.
"Cepat jawab apa yang kamu lakukan?" kembali Juan Mahardika bertanya dengan suara yang meninggi.
Juan Maharika semakin memajukan tubuhnya mendekati Elfa. Tangannya bertumpu pada tembok dan kedua kaki menekan kaki Elfa agar tidak bisa bergerak. Wajah Juan Mahardika hanya berjarak beberapa centi dari wajah Elfa.
Sambil tersenyum devil, Elfa mempersiapkan diri dengan tangan yang mengepal, "Pikir saja sendiri dong, itu akibatnya berani main-main dengan Elfa," jawab Elfa santai.
"Kurang ajar, kamu ...?"
Belum sempat Juan Mahardika melanjutkan ucapan dan melampiaskan amarahanya. Tangan dan kaki kiri Elfa bergerak bersamaan. Tangan mendorong tubuh Juan Mahardika, sedangkan kaki langsung menendang tenah-tengah di antara dua kaki.
"Terima ini sekali laki, hug!"
"Argh!" Juan Mahardika langsung tertunduk memegangi pusaka yang baru saja terkena tendangan.
Elfa langsung melenggang pergi sambil tersenyum dan melambaikan tangan, "Itu baru permulaan, selamat tinggal, Tuan!" teriak Elfa.
"Gadis brengsek," jawabnya lirih.
Juan Mahardika bukan merasa kesakitan saat menjawab dengan bahasa kasar. Namun, baru saja merasakan pelepasan setelah dua tahun tidak merasakan indahnya wanita. Hal yang sangat aneh tetapi nyata dan benar-benar terjadi.
Saat sedang memepet ke tembok Elfa tadi, pusaka menegang dengan sempurna. Saat Juan Mahardika menekan dua kaki Elfa rasa mulai memuncak dan terasa melayang seolah berada di atas awan. Bertepatan kaki Elfa mengenai pusaka, bersamaan pula Juan Mahardika merasakan puas seolah sedang mengajak Elfa beraksi.
Aneh dan ajaib, Juan Mahardika langsung menyenderkan badan di tempat Elfa tadi bersandar sambil memejamkan mata. Mulutnya tersungging senyuman yang tidak bisa diartikan bahkan dirinya sendiri. Antara benci dan puas di hati seolah menjadi satu.
Bergegas meninggalkan koridor yang sepi, berniat menyusul Elfa. Hanya sayangnya gadis itu sudah tidak terlihat lagi. Bergabung kembali dengan Asisten Dwi Saputra yang yang masih berdiri di tempat semula.
Sedangkan Elfa berjalan menyusul kedua orang tua dan keluarga. Sambil terus tersenyum puas dan terus bermonolog sendiri, "Pecah-pecah situ kantong menyan elo, Tuan. Sudah El bilang itu bukan salah Elfa!" Untung ucapan Elfa tidak didengar oleh siapapun juga.
"Selamat ya, Nak. Putri Mami memang yang terbaik." Mami Mitha memeluk Elfa dengan erat dan penuh kasih.
Setelah Papi Alfarizi memberikan selamat kepada Elfa. Satu persatu abang dan keluarga memberikan selamat kepada Elfa.
Sampai proses wisuda berakhir, berfoto dengan teman dan keluarga dengan ceria. Termasuk Elfa yang sangat merasa bahagia sekarang ini. Ucapan selamat dari teman dan pengajar terus mengalir, apalagi di media sosial resmi rumah sakit dan perusahaan juga memberikan selamat.
__ADS_1
Dari semua aktifitas Elfa baik bersama teman mahasiswa ataupun keluarga. Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra hanya mengawasi dari kejauhan. Sesekali sang asisten mengambil foto Elfa secara diam-diam.
Hanya sayangnya, Juan Mahardika masih sering melamun dan jarang mengajak Asisten Dwi Saputra berbincang. Seolah pikiran laki-laki pimpinan perusahaan MAHARDIKA CORP itu tidak pada tempatnya. Masih membayangkan yang baru saja terjadi sambil berkali-kali memejamkan mata.
"Tuan, apa yang terjadi tadi, mengapa Anda melamun saja dari tadi?"
Juan Mahardika tidak mendengar pertanyaan Asisten Dwi Saputra. Padahal hanya berdiri bersebelahan saja dari tadi. Suara berisik keceriaan para mahasiswa terkadang menyamarkan orang yang sedang berbincang.
"Tuan ...!" teriak Asisten Dwi Saputra sambil menyenggol pundak Juan Mahardika.
"Ada apa sih, Dwi?"
"Apa yang terjadi tadi?"
"Nanti saja ceritanya."
"Anda sedang melihat siapa?"
Mata Juan Mahardika jelalatan memutari area sekitar. Dari tadi melamun tanpa melihat Elfa yang sedang ceria berfoto dengan keluarga. Tidak tahu juga saat sang asisten selalu mengambil foto ketika Elfa sedang berpose cantik.
"Di mana gadis itu?" tanya Juan Mahardika.
Ada Sheilla Jannes bersama keluarga mendekati keluarga Elfa. Mereka terlihat berbincang dengan akrab. Berfoto bersama juga dengan penuh kebehagiaan.
Baru saja selesai foto bersama, dari kejauhan datang Dokter Yohan Charnett sendirian sambil membawa buket bunga. Sheilla Jannes langsung menyenggol lengan Elfa sambil memberikan kode lirikkan mata.
Dengan spontan Elfa berlari sambil menarik Sheilla Jannes menjauhi orang tua, keluarga dan keluarga sahabatnya, "Mami, El ada perlu sebentar ya!" terikanya berlari menjauh dan berlawanan arah dari datangnya dokter Yohan Charnett.
Sesaat dokter itu menghentikan langkahnya melihat Elfa berlari menjauh. Mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi diurungkan. Kembali melanjutkan berjalan mendekati keluarga Papi Alfarizi.
"Tuan, lihatlah itu laki-laki yang suka dengan Nona El tadi!" Asisten Dwi Saputra menunjuk arah sebelah kanan.
"Ayo kita dekati dia!"
"Anda mau apakan dia, Tuan?"
__ADS_1
"Itu dipikirkan nanti saja, ayo cepat!"
Bersamaan Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra melangkah. Ada juga mahasiswa yang mengenakan baju toga membawa buket bunga. Dia juga ingin mendekati keluarga Elfa dan Sheilla Jannes bersamaan.
"Tunggu dulu, Tuan!"
"Ada apa?"
"Lihatlah mereka berdua!"
Antara Dokter Yohan Charnett dan Atheer Ahmed tidak jadi mendekati keluarga Elfa. Karena Athe langsung menghadang dokter itu dengan sengaja. Mata mereka menunjukkan persaingan yang sangat sengit merebutkan satu gadis.
"Siapa lagi mahasiswa itu?" tanya Juan Mahardika.
"Ayo kita mendekat ke arah mereka!"
"Untuk apa, Dwi?"
"Kita dengarkan apa yang mereka bicarakan."
Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra berjalan mendekat berpura-pura sambil berjalan dan berbincang. Mendengar dua orang yang terlihat berseteru. Mata mereka terlihat saling membenci dan saling bersaing.
"Dokter tidak perlu mencari muka pada keluarga El."
"Apa maksud kamu?"
"El itu hanya milik Atheer Ahmed seorang. Ingat Anda sudah di tolak oleh El, Dokter Yohan!"
"Apakah kamu sudah diterima oleh El?"
Atheer Ahmed terdiam sejenak, teringat saat Elfa menolak waktu itu. Langsung menggelengkan kepala tidak ingin saingan tahu yang ada dipikiran, "Itu bukan urusan Anda, sebaiknya Anda mundur!"
"Aku tahu kamu juga ditolak oleh El, lebih baik kita bersaing secara sehat. Itu baru laki-laki gantleman."
"Ok kita bersaing secara sehat!"
__ADS_1
Elfa dan Shella Jannes yang tadi ingin meninggalkan tempat tidak jadi karena melihat Atheer Ahmed juga datang. Setelah mereka bersitegang yang awalnya tidak ingin bertemu mereka. Dengan terpaksa Elfa harus memberikan ketegasan kepada kedua laki-laki yang masih berharap.
"Tunggu!" teriak Elfa sambil berjalan mendekati mereka, "Tidak perlu Anda berdua bersaing secara sehat, apakah jawaban El kurang jelas atau perlu diulang lagi di depan banyak orang?"