
Juan Mahardika meringsek masuk di kerumunan warga yang sedang emosi. Ada laki-laki dewasa yang penuh dengan tato sedang tertunduk memeluk kotak besar. Ada tulisan kotak infaq masjid Ar Rahman yang berisi penuh uang.
"Cepat pangggil polisi!"
"Hajar saja dia!"
"Pateni wae!"
"Maling kok di masjid, seret dan arak kampung wae!"
Masih ada banyak lagi yang emosi karena maling infaq. Ada yang sudah ingin mengayunkan tangan untuk mulai memukul si maling. Ada juga yang mengomel sambil menunjuk kepalanya.
"Kok bisa tertangkap, Pakde?" tanya Juan Mahardika.
"Tidak sengaja tertangkap."
Pakde Sarto bercerita jika maling itu awalnya tidak ada yang tahu karena kejadian setelah solat subuh. Setelah para jama'ah masjid selesai solat berjamaah dan pulang ke rumah. Maling itu beraksi sendirian dengan mencongkel menggunakan obeng.
Karena kesiangan dengan terpaksa maling itu naik pohon sawo. Entah karena ketiduran atau capek duduk di dahan pohon. Maling itu terjatuh saat pemilik pohon sedang menyapu di bawahnya.
Dengan spontan pemilik pohon memukul maling dengan gagang sapu. Ditambah terlihat sedang memeluk kotak infaq laki-laki itu tidak bisa berkutik setelah diteriaki maling. Banyak warga yang langsung datang mendengar teriakan pemilik pohon sawo.
Awalnya pemilik pohon mengira laki-laki itu akan mencuri sawo. Setelah terbukti memeluk kotak infaq dan ada tulisan milik masjid. Semakin geram warga melihat maling itu.
"Jangan main hakim sendiri, tunggu pak RT dan kepolisian datang!" teriak Pakde Saro setelah selesai cerita.
"Pakde sudah menghubungi pak RT?"
"Sudah, tetapi ini baru mau menghubungi polisi dan pihak masjid."
"Itu kotak masjid belum sempat dibuka ya?"
"Benar, Mas Bule. Kemungkinan dia belum sempat membuka isinya."
Juan Mahardika teringat tadi sebelum ke pasar, jika tadi diperbolehkan mengambil buah sawo tanpa izin. Pasti akan ada dua orang yang akan tertangkap. Satu maling sawo dan satu maling kotak infaq.
__ADS_1
Juan Mahardika tersenyum sendiri saat membayangkan itu terjadi. Untung istri tercinta melarang untuk tidak mengambil milik orang lain tanpa izin. Bersyukur terhindar dari perbuatan yang tidak baik.
Membayangkan tertangkap saja rasanya hati merasa bersalah. Tanpa sengaja memiliki niat yang tidak baik hanya karena keinginan sesuatu. Akhirnya Juan mengucapkan istigfar berkali-kali sebagai tanda rasa bersalah karena memiliki pikiran yang kurang baik.
Maling digelandang ke kantor polisi dengan pengawalan yang ketat. Ada banyak warga yang tidak sabar dan memberikan bogem mentah. Tidak perduli ada polisi yang mengawal tetap saja ingin menghajar maling.
Pasalnya di masjid tidak hanya sekali kehilangan kotak amal. Sudah berkali-kali maling mencongkel kotak amal. Padahal ada CCTV yang dipasang, tetapi malingnya lebih lihai lagi.
Warga masih bergerombol walau maling sudah ditangkap polisi. Elfa ke luar kamar dan bergegas ke teras saat mendengar ada suara ramai di halaman rumah, "Akak, ada apa?"
"Sini, Sayang. Akak ceritakan!"
Elfa tergelak setelah Juan Mahardika selesai bercerita. Membayangkan suami dipukul dengan gagang sapu. Pasti akan terlihat lucu wajah bule di sangka maling.
"Mengapa tersenyum sendiri begitu, Sayang?"
"El membayangkan Akak dipukuli pakai gagang sapu, pasti lucu," jawab Elfa sambil tergelak.
"Tega banget sih, Sayang. Akak yang tampan paripurna ini dituduh maling."
"Akak," jawabnya singkat.
"Naah itu, lain kali jangan satu kali pun memiliki niat yang tidak baik, untung Akak tadi El larang."
"Iya terima kasih, Sayang. Akak tidak akan berpikir seperti itu lagi."
"Sama-sama, ayo temani El makan. El lapar banget!"
"Ayo, Sayang."
Setelah dua hari melakukan persiapan, hari ini adalah hari syukuran tujuh bulan Elfa untuk twins baby. Acara dilakukan pada malam hari setelah isya. Dengan mengundang warga sekitar, yatim piatu dan lansia.
Keluarga besar Papi Afarizi datang dengan menggunakan helikopter. Sedangkan kedua orang tua Juan Mahardika tidak bisa hadir karena masih ada di Amerika Serikat. Mereka hanya mendoakan untuk kelancaran dan kesehatan keluarga.
Sengaja tidak memakai adat jawa, hanya mengirim doa kepada orang tua yang sudah mendahului kita. Membuat rujak serut dan es dawet yang dibagikan. Rujak yang terdiri dari tujuh macam buah.
__ADS_1
Yang paling antusias melihat rujak serut yang di buat dalam jumlah banyak adalah Juan Mahardika. Belum saja rujak itu dibagikan kepada tetangga sekitar dan keluarga. Juan Mahardika sudah habis dua piring kecil.
Yang dulu sangat menyukai rujak bebeg. Sekarang merasakan beda lagi sensasi makan rujak serut. Sekarang menjadi makanan idola baru.
"Sayang, apakah isi dari rujak ini mengapa sangat berbeda sekali dengan rujak bebeg?"
"Beda dong, Akak. Cara buatnya juga berbeda walau bahannya hampir sama."
"Apa bedanya, Sayang?"
Elfa menjelaskan ada perbedaan yang terlihat dari cara membuatknya. Jika rujak bebeg ditumbuk di lesung kecil. Rujak serut umumnya di parut atau di potong kecil memanjang.
Yang lebih mencolok dari perbedaan rujak itu jika rujak bebeg tidak banyak mengandung air masih terlihat warna asli buahnya. Sedangkan rujak serut cenderung berair dan warna terlihat coklat kehitaman. Rujak serut terdiri dari tujuh macam buah, tetapi rujak bebeg tergantung musim dan tidak terpatok dengan jumlah buahnya.
Rujak serut untuk acara syukuran tujuh bulanan umumnya berjumlah tujuh buah. Disesuaikan dengan umur bayi dalam kandungan yaitu berumur tujuh bulan. Acara yang diadakan sebagai tanda syukur kepada Ilahi Robbi atas kesehatan yang melimpah.
"Akak mau rujak lagi?"
Belum sempat Juan Mahardika menjawab tawaran Elfa, Pakde Sarto memanggil dari ruang keluarga, "Mas Bule!" teriaknya.
"Injih, Pakde?"
"Ayo acara akan segera di mulai, sana duduk disamping Papi Al!"
"Injih, matur suwun."
Juan Mahardika duduk di samping Papi Alfarizi dengan duduk bersila. Sesaat kemudian Alfian Alfarizi juga duduk di samping Juan Mahardika. Dua laki-laki berwajah Arab sedang mengapit bule dan ketiganya memakai baju koko dan songkok.
Tiga generasi yang berbeda tetapi masih terlihat tampan. Setiap mata yang memandang selalu mengagumi mereka. Tidak cuma wajah yang dikagumi, kebersamaan dan ramah serta dermawan adalah nilai lebih yang selalu dikagumi.
Acara demi acara berjalan dengan lancar mulai dari awal sampai akkhir. Termasuk ceramah oleh ustadz kondang yang diundang khusus untuk memberikan siraman rohani untuk keluarga dan warga sekitar. Dilanjutkan dengan makan bersama dengan hidangan yang sudah disediakan.
Saat pulang para undangan diberikan paket sembako. Selain sembako anak yatim piatu mendapatkan amplop. Para lansia juga tidak ketinggalan mendapatkan hal yang sama seperti anak yatim piatu yang hadir.
Juan Mahardika duduk di samping Elfa setelah selesai acara. Elfa yang semakin terlihat cabi dan perut yang besar tidak hanya mudah lelah sekarang. Terkadang saat pergerakan bayi yang aktif dari dalam, Elfa sering meringis karena tenangan dari dalam yang kuat.
__ADS_1
Juan Mahardika semakin khawatir jika Elfa merasa kelelahan atau kesakitan. Saat melihat Elfa menarik napas panjang, meringis dan mengusap perutnya menjadi panik dan gugup, "Ada apa, Sayang. Apakah mau lahir twins baby kita?"