Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 215. Baby Blues


__ADS_3

"Sayang, pusaka bumerang Akak ini sekarang pengertian, semenjak tahu bagaimana rasanya kontraksi dia pintar. Apalagi melihat El yang sakit dan terlihat pucat begini mana tega dia mengajak beraksi."


"Terima kasih, ayo antar El ambil air wudhu mumpung twins baby belum bangun."


"Apa perlu digendong?"


"Tidak usah, El baik-baik saja."


Ternyata sampai jam tujuh pagi infus yang ada di tangan Elfa belum juga habis. Yang seharusnya berjanji setelah dari kantor untuk meeting langsung ke desa Mami Mitha lagi. Dengan terpaksa Juan Mahardika membatalkan janji tidak bisa hadir pada doa bersama.


Mengirim foto Elfa yang dipasang selang infus tidak hanya kepada Asisten Dwi Saputra. Mengirim juga kepada Papi Alfarizi agar tidak dikatakan menantu yang tidak menepati janji. Tadi malam sudah berjanji akan datang lagi dalam acara doa bersama di rumah Rena.


Tidak Juan Mahardika namanya kalau tidak membuat semua orang panik. Karena melihat foto Elfa yang tertidur dengan dipasang selang infus. Keluarga berbondong-bondong datang ke Jakarta. Dokter Atha, Mami Mitha, Bibi Esih dan Teteh Rania datang hampir bersamaan, hanya para laki-laki yang ikut berdoa di rumah Rena kecuali Juan Mahardika.


Karena semua keluarga berkumpul, Seharian ini Juan Mahardika tidak memiliki kesempatan untuk berbincang dan bermesraan. Walau hampir tengah hari infus sudah dilepas dari tangan Elfa, perhatian keluarga masih besar dan Elfa dilarang beraktifitas seperti biasa. Elfa diminta untuk beristirahat total dan hanya boleh memberikan ASI kepada twins baby saja.

__ADS_1


Juan Mahardika hanya mempunyai waktu berdua dengan Elfa saat membantunya ke kamar mandi. Itu pun terkadang tetap di tunggu di depan pintu kamar mandi. Kekhawatiran karena kekurangan cairan melebihi kekawatiran paska melahirkan kemarin.


"Sayang, mengapa mereka sangat khawatir padahal dulu saat El melahirkan tidak sampai seperti ini?"


"Beda kasus, Akak. Dulu El belum menjadi ibu, Mami dan yang lain takut El mengalami baby blues."


"Baby blues, apa itu?"


"Nanti Akak tanya sama Kak Atha, atau boleh juga cari informasi di media sosial tentang baby blues."


"Nanti bodyguard yang ada di dipan pintu mengira kita sedang esek-esek di sini."


"Itu baru ada dipikiran Akak," jawab Juan Mahardika sambil tergelak.


"Tidak boleh berpikir macam-macam, ayo ke luar!"

__ADS_1


"Cium saja sedikit," Juan Mahardika mencium bibir sekilas berpindah ke leher dan memberikan kiss mark juga sekilas.


Juan Mahardika duduk di ruang kerja mencari keterangan tentang Baby blues. Baby blues adalah depresi ringan dan gangguan kecemasan yang terjadi pada ibu di masa awal paska persalinan. Sekitar lima puluh sampai delapan puluh persen wanita mengalami kondisi baby blues setelah melahirkan.


Walau terbilang ringan, tetapi patut diwaspadai agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan pada bayi dan ibu. Biasanya gejala mulai muncul pada hari pertama setelah melahirkan dan kemudian reda dalam sepuluh hari. Sebagian besar terjadi karena setelah melahirkan tidak ada yang menemani atau membimbing.


Ada juga wanita yang kemudian mengalami kondisi yang disebut gangguan kecemasan atau depresi perinatal. Kondisi ini berkembang dari baby blues dan memerlukan penanganan profesional seperti obat-obatan dan terapi psikologis. Bila dibiarkan tanpa penanganan, kondisi itu akan membahayakan ibu dan bayi.


Baby blues diyakini berkaitan dengan perubahan emosional dan fisik yang terjadi seiring dengan persalinan. Walau merupakan kondisi yang lazim terjadi pada kalangan ibu setelah melahirkan. Perasaan sedih, marah, khawatir, cemas, dan semacamnya itu membutuhkan perhatian dari suami dan agar dapat ditangani secara mandiri.


Sebagian besar wanita yang mengalami baby blues memang cenderung bisa pulih sendiri tanpa penanganan profesional. Juan Mahardika langsung terhubung dengan belum ada kesempatan beraksi, "Apakah dengan beraksi bisa menjadi salah satu menyembuhan baby blues?"


BERSAMBUNG


__ADS_1


__ADS_2