Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 55. Jadi Rebutan


__ADS_3

Helikopter mendarat di tempat kemarin lagi, setengah kilometer dari tenda Elfa. Sampai di lokasi bencana sebagian besar relawan sudah berada di lapangan. Hanya ada Pak Jamal dan dua temannya yang menjaga tenda.


Pak Jamal berdiri menyambut Elfa, dan rombongan dengan berdiri dan membungkukkan badan. "Selamat siang, Tuan dan Nona El!"


Elfa langsung mengentikan langkahnya memandangi Pak Jamal yang bersikap tidak seperti biasa. Laki-laki berbadan tinggi dan tegap itu lebih sopan dan hormat padahal biasanya akrab dan perhatian.


"Pak Jamal, mengapa ...?" Elfa tidak melanjutkan ucapannya setelah Asisten Dwi Saputra mendekati Pak Jamal dan temannya.


"Tidak jadi, El sudah bisa menebak, permisi El mau istirahat," pamit Elfa sambil berjalan masuk ke tenda.


"Tunggu El!" teriak Juan Mahardika.


"Ada apa?" tanya Elfa menghentikan langkahnya, tetapi tidak menoleh melihat ke belakang.


Juan Mahardika mendekati Elfa dan berbisik di telinga, "Jangan lupa hubungi Akak nanti dan kalau terjadi apa-apa panggil nama Akak JM, mengerti?"


"Ogah, di sini tidak ada sinyal."


Elfa langsung melenggang masuk tenda tanpa mengucapkan terima kasih ataupun berpamitan. Juan Mahardika hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tanpa kata. Menunggu sesaat setelah Elfa di dalam berharap dia mengucapkan sesuatu dari dalam tenda.


"Sudahlah, ayo kembali ke helikopter!" perintah Juan Mahardika.


"Baik, Tuan."


"Jamal katakan apa yang terjadi setelah El kemarin aku jemput!"


Sambil berjalan menuju helikopter, Pak Jamal menceritakan yang terjadi setelah Elfa dijemput Juan Mahardika. Hanya Dokter Yohan Charnett yang tahu kejadiannya. Relawan yang lain mendengar kabar jika Pak Jamal mendapatkan bantuan helikopter dari perusahaan tempat dia bekerja.


Pak Jamal memiliki alasan yang kuat karena malam itu helikopter tidak ada di tempat. Helikopter sedang mendistribusikan sembako dan sumbangan lain ke tempat yang tidak terjangkau jalan darat. Tidak ada yang menyadari jika Elfa tidak berada di rumah sakit kota.


Laporan dokter dan tim dokter dari rumah sakit Aljuzeka sebagian besar rekomendasi dari Pak Jamal. Sehingga keluarga yang ada di rumah tidak terlalu khawatir. Terkadang Asisten Dwi Saputra mengambil foto Elfa dikirm ke Pak Jamal dan diteruskan ke group relawan agar tidak khawatir.

__ADS_1


Ponsel Elfa sama sekali tidak diaktifkan dengan alasan tertinggal di tenda saat berangkat ke rumah sakit yang ada di kota. Dengan adanya relawan yang dikirim ke rumah sakit kota menambah semua lancar. Yang dikirim adalah teman Pak Jamal.


"Bagaimana dengan dokter itu, Pak Jamal?" tanya Asisten Dwi Saputra.


"Dokter Yohan aman, Laki-laki itu tidak berani berkutik setelah melihat Tuan Juan. Disamping itu saya juga sudah mengancam untuk tidak mendekati nona lagi."


"Bagus, selama di sini kamu tetap yang bertanggung jawab keselamatan Nona El, jangan sampai dokter itu mendekat!" perintah Asisten Dwi Saputra.


"Satu lagi, Jamal. Kamu harus secepatnya memberi kabar kalau terjadi apa-apa dengan El!" perintah Juan Mahardika.


"I ... iya baik, Tuan." Pak Jamal menjawab dengan ragu-ragu karena mengingat jarak antara pantai dan tenda sangatlah jauh.


Waktu Elfa sakit satu hari Pak Jamal harus bolak-balik tenda ke pantai sehari lebih dari empat kali. Kakinya seperti kram karena selalu berlari. Sudah melebihi pelari profesional hanya demi mencari sinyal ponsel saja.


"Mengapa menjawab ragu begitu?" tanya Asisten Dwi Saputra.


"Maaf, Asisten Dwi, di sini belum ada sinyal telekomunikasi. Saya harus berlari ke pantai yang jaraknya lima kilometer setiap melapor pada Anda."


"Apakah tidak ada kendaraan bermotor di sini?" tanya Juan Mahardika.


"Kendaraan banyak, tetapi bahan bakar yang tidak ada sama sekali yang jual."


"Dwi, apakah kamu bisa atur kendaraan untuk El?"


Asisten Dwi Saputra mengerutkan keningnya memikirkan perintah Juan Mahardika kali ini. Pasalnya tidak sembarang orang bisa mendistribusikan bahan bakar dengan cepat. Harus memiliki izin khusus dari pihak instansi yang terkait.


Jika bahan bakar langsung dikirim pasti akan dianggap ilegal. Apalagi di tempat bencana yang sulit tranporyasinya di tempuh dengan jalan darat. Akan lebih mudah jika mengaktifkan saluran telekomunikasi dengan pihak yang terkait termasuk untuk penerangan.


"Akan saya usahakan, Tuan. Lebih baik saya menghubungi pihak yang menangani telekomunikasi sehingga jika Nona El tidak harus berjalan ke pantai jika akan berhubungan dengan Anda."


"Iya bagus itu. Kamu kerjakan sekarang."

__ADS_1


Belum sempat sampai di helikopter milik Juan Mahardika. Datang Dokter Yohan Charnett berlari mendatangi rombongan. Dengan cepat Pak Jamal menahan dokter itu agar tidak mendekat, "Ada perlu apa Anda ke sini, Dok?"


"Minggir, aku mau bertemu dengan Tuan Juan Mahardika!" teriak Dokter Yohan Charnett.


"Lepaskan dia, Jamal. Silahkan apa yang akan kamu katakan!" Juan Mahardika ikut bertiak karena mulai emosi.


"Apa maksud Anda Elfa milik Anda, bukankah Anda sudah bertunangan dengan Sherly Crash."


"Itu bukan urusan kamu, yang jelas jangan sekali-kali kamu dekati Elfa. Dia hanya milikku kamu mengerti!" teriak Juan Mahardika sambil mendorong Dokter Yohan Charnett dengan kesal.


Dokter Yohan Charnett bukan ciut nyalinya, tetapi justru tergelak seolah mengejek. Sambil menggelengkan kepala dan memajukan langkah mendekati Juan Mahardika, "Aku tahu betul bagaimana sepak terjang seorang casanova Juan Mahardika. Banyak wanita yang sudah anda takhlukkan, tetapi tidak untuk Elfa."


"Apa maksudmu tidak untuk Elfa?"


"Elfa gadis baik-baik, gadis jujur dan baik hati, dia tidak cocok untuk Anda. El hanya akan pantas bersanding dengan dokter Yohan saja."


Juan Mahardika menoleh melihat Asisten Dwi Saputra. Beberapa waktu yang lalu sang asisten itu juga mengatakan hal sama. Namun, pasti akan bisa merubah diri agar bisa labih baik agar bisa mendapatkan gadis yang direbutkan.


Sekarang gantian Juan Mahardika yang tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Dokter Yohan Charnett yang percaya diri, "Kamu kira aku tidak tahu seorang Dokter Yohan Charnett? dasar bodoh, sadar diri sedikit, Bro. Sudah berapa kali kamu di tolak oleh El?"


Dokter Yohan Charnett terdiam sesaat mendengar Juan Mahardika tertawa. Tidak menyangka laki-laki pengusaha kaya-raya yang tinggal satu negara itu sudah mengetahui tentang penolakan Elfa, "Tidak masalah aku ditolak, selagi belum ada ikatan dengan siapapun, aku masih bisa berjuang."


Karena semakin emosi, Juan Mahardika mengayun tangan ingin memukul wajah Dokter Yoyan Charnett. Dengan cepat Asisten Dwi Saputra menahan tangan tuannya, "Jangan, Tuan!" teriaknya.


"Laki-laki seperti dia perlu diberikan bogem mentah agar bisa mengerti, Dwi!"


"Anda tidak perlu mengotori tangan hanya demi dia, Tuan. Saya yang akan memberikan pelajaran agar dia mengerti!"


"Dasar laki-laki tidak gantlemant, sebaiknya kembali saja pada gadis model itu saja. Jangan dekati Elfa karena dia hanya milikku!"


"Apa katamu?"

__ADS_1


__ADS_2