Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 154. Seolah Bercermin pada Diri Sendiri


__ADS_3

Sudah dipastikan keterangan dan alasan Dokter Yohan Carnett adalah bohong. Elfa dan Rena tidak pernah meninggalkan sedetik pun Kris sendirian di kamar. Keduanya sepakat menjaga bergantian saat ingin ke kamar mandi atau keperluan lainnya.


Juan Mahardika terus berkoordinasi dengan teman polisi yang ada di Bali. Meminta laporan ke mana rombongan itu setelah meninggalkan Bali. Dari keterangan bandara mereka naik pesawat komersil dengan tujuan Jakarta.


Asisten Dwi Saputra langsung menggerakkan anak buanya untuk mengawasi area rumah orang tua Kris. Mengungsikan sementara keluarga Kris di tempat yang aman. Memerintahkan anak buahnya yang menempati rumah Kris dengan alasan rumah di kontrakkan.


Memerintahkan mencari infomasi tempat yang akan dituju setelah sampai di ibu kota Jakarta nanti. Harus mengawasi rombongan itu dan melaporkan semua tujuan mereka terutama Dokter Yohan Carnett. Harus segera melaporkan setiap mengetahui kabar terbaru tentang rombongan dokter itu.


Sesampainya di rumah baru di Australia, klinik baru saja selesai diisi perabotan medis lengkap yang diperlukan. Walau sebagian besar belum dioperasikan peralatan medisnya. Namun, semua sudah siap dan tinggal diatur.


Kris langsung di tempatkan di kamar khusus pasien di klinik pribadi. Elfa ikut masuk ke ruang rawat inap didampingi Juan Maharika. Diikuti Rena dan Asisten Dwi Saputra yang melihat tim dokter bekerja dengan cepat.


"Ayo istirahat dulu, Sayang!"


"El ingin menunggu Kris di sini, Akak."


"Biarkan Kris istirhat dulu, ada tim dokter yang akan menjaga dia selama dua puluh empat jam di sini. El dan baby kita juga perlu istirahat, Sayang."


Dokter Emy mendekati Kris dan membetulkan selimut yang dipakainya, "Kemungkinan besok pagi Nyonya Kris baru akan terjaga, Nyonya. Sebaiknya Anda istirahat dulu!"


"Ooo baiklah, jika terjadi sesuatu cepat kabari kami ya Dok!"


"Tentu saja, Nyonya."


"Ayo kita istirahat, Akak."


"Ayo, Sayang." Juan Mahardika melangkah sambil menggandeng Elfa, langsung berhenti sejenak saat melewati asistennya, "Dwi, Rena sebaiknya kalian istirahat juga!"


"Baik terima kasih, Tuan."


Juan Mahardika dan Elfa langsung menuju kamar utama. Asisten Dwi Saputra dan Rena menempati kamar utama tiga. Beristirahat karena banyak menguras emosi dan tenaga hampir seharian ini.


Juan Mahardika memeluk dan mengusap pipi Elfa sampai terlelap. Yang awalnya suara Elfa masih sesekali terisak, lama-kelamaan bisa tertidur pulas juga. Bahkan Juan Mahardika sampai pura-pura terpejam agar istri tercinta bisa beristirahat dengan tenang.

__ADS_1


Juan Mahardika sama sekali itdak bisa memejamkan matanya. Vedio Rama yang seperti kerasukan setan melakukan hal yang tidak terpuji, selalu terbayang di pelupuk mata. Hanya membayangkan kemungkinan obat yang dicampur pada minuman itu sampai over dosis.


Juan Mahardika merasa nyeri sendiri seolah sedang bercermin pada diri sendiri. Pernah melakukan itu kepada istri tercinta. Rasa bersalah seolah selalu menghantui pikiran sampai menyesakkan dada.


Perlahan Juan Mahardika melepas pelukan Elfa. Ingin segera ke luar dan menemui Asisten Dwi Saputra. Ingin bertanya tentang anak buah yang saat ini mengawasi rombongan dokter yang bekerja di bidang sosial itu.


Asisten Dwi Saputra sudah menunggu Juan Mahardika di ruang keluarga. Dari masih di pesawat dan di bandara tadi terus berkoordinasi dan selalu menerima laporan dari mereka. Ingin melaporkan tentang pengawasan yang dilakukan oleh anak buah yang ada di Indonesia.


"Dwi, apakah sudah ada kabar dari Indonesia?"


"Sudah, Tuan."


"Katakan?"


"Ibu dan dua adik Kris sekarang sudah diungsikan ke tempat yang aman."


"Bagus, bagaimana dengan rumah mereka?"


"Ada empat orang kita yang sdang menunggu di sana."


Asisten Dwi Saputra melaporkan berdasarkan laporan dari anak buah, mereka saat ini ada di Tangerang. Rombongan itu langsung menyewa satu rumah besar di Tangerang. Target dan tujuan mereka tetap sama yaitu anak-anak yang kurang gizi.


Setelah mereka masuk ke rumah yang disewa para dokter langsung berkunjung ke puskesmas terdekat. Termasuk Johan Carnett mengikuti semua kegiatan tanpa ketinggalan. Sikapnya seolah-olah tidak terjadi sesuatu dengan Kris yang tidak lagi bersamanya.


Para istri ke luar rumah setelah rombongan dokter berangkat ke puskesmas. Mereka berbelanja keperluan rumah tangga di mall ternama di Tangerang. Tidak ada satu orang pun yang ada di rumah yang disewa.


Asisten Dwi Saputra memerintahkan anak buah untuk menyelidiki rumah itu. Terutama kamar yang ditempati oleh Dokter Yohan Carnett. Ingin mencari informasi tentang laki-laki yang telah menghancurkan hidup sahabat Elfa.


Hanya ada satu dokmen penting yang ditemukan di kamar dokter urologi itu. Surat keterangan bahwa laki-laki itu telah berpindah keyakinan. Dalam surat keterangan itu tertulis jika keyakinannya sudah sama dengan mayoritas keyakinan orang Indonesia.


Juan Mahardika langsung mengerutkan keningnya sambil melihat surat keterangan itu dari ponsel Asisten Dwi Saputra. Jika laki-laki itu sudah berpindah keyakianan dan menikah resmi dengan warga Indonesia. Otomatis dia bisa mengajukan pindah menjadi warga Indonesia jika sudah berturut-turut tinggal di Indonesia selama minimal lima tahun.


"Kegiatan dokter gila itu sudah berapa tahun, Dwi?"

__ADS_1


"Belum lama, Tuan. Kalau tidak salah setelah acara resepsi pernikahan Anda di Jakarta."


"Itu sudah satu tahun lebih, Dwi. Bahaya jika dia mengajukan menjadi warga negara Indonesia."


"Dia harus memenuhi syarat dari peraturan di negara Indonesia, Tuan. Jangan khawatir sebentar lagi dia sudah akan menjadi bergedel kalau bertemu dengan orang kita."


"Awasi dan laporkan setiap gerakan dokter gila itu, terutama jangan sampai dia bertemu dengan ibu dan kedua adik Kris!"


"Siap."


Sampai sepertiga malam Elfa beru terjaga. Badan terasa segar dan fit setelah istirahat. Namun, otak dan pikiran Elfa yang merasa lelah.


Elfa bersimpuh dan berdoa untuk kebaikan dan keselamatan dua sahabat yang sudah dianggap seperti saudara. Meminta agar diberikan kebahagiaan dan keselamatan. Dijauhkan dari segala cobaan dan segala keresahan jiwa.


Satu jam berlalu Elfa bersimpuh, langsung ke luar kamar setelah melepas mukena yang dipakainya. Juan Mahardika yang baru saja terlelap mendengar sang istri ke luar kamar perlahan, "Mau ke mana, Sayang?"


"El mau melihat Kris."


"Pasti dia belum bangun, kalau masih mengantuk lebih baik El tidur dulu, Sini Akak peluk!"


"El sudah tidak mengantuk, Akak. Ayo antar El saja ke klinik!"


"Baiklah."


Juan Mahardika dan Elfa masuk ke klinik dan masuk ke kamar Kris. Tidak menyangka sudah ada Rena dan Asisten Dwi Saputra juga sedang duduk sambil memandang Kris yang masih terlelap, "Kalian sudah ada di sini?"


"Rey tidak bisa tidur kepikiran Kris terus, Tuan."


Belum sempat Elfa duduk di samping Rena, Ada suara notifikasi pesan WA di ponsel Kris. Ponsel itu tergeletak disamping kantong gaun hamil Kris. Suara notifikasi itu tidak hanya sekali, tetapi lebih dari sepuluh kali, "Dwi, buka saja pesan itu, siapa tahu dari dokter gila itu?"


BERSAMBUNG


Yok mampir ke novel teman yang rekomen ini

__ADS_1



__ADS_2