
Mood ibu hamil memang susah ditebak. kali in Juan Mahardika harus berangkat setelah puas beraksi. Waktu belum ada tengah malam saat berangkat menuju kedai mie godog Jogja yang diinginkan Elfa.
Elfa terus merengek ingin makan mie godog itu tidak mau pindah kedai. Harus sesuai yang dilihat di media sosial. Padahal kedai sudah tutup dan akan buka besok pagi.
"Sayang sekarang sudah tutup, apa mau nunggu sampai besok pagi di kedai sana?"
"El maunya makan sekarang, Akak. Tadi sudah berjanji akan mengajak ke sana setelah beraksi, El kira Akak tahu cara memesannya sekarang ini." Elfa cemberut sudah siap berangkat memakai gaun hamil dan jaket tebal.
Juan Mahardika mengerutkan keningnya berpikir cara agar bisa menghubungi Administrasi kedai yang ada di media sosial. Seharusnya bisa menghubungi lewat pribadi yang terpenting ada nomor ponsel yang tertera. Paling tidak sudah mencoba masalah gagal atau berhasil yang penting sudah usaha.
"Ayo kita berangkat!" ajak Juan Mahardika setelah selesai memakai baju.
Elfa langsung tersenyum mengembang dan tidak cemberut lagi. Membayangkan mie godong air liurnya serasa akan menetes. Seolah keinginan langsung terpenuhi tanpa menunggu sampai besok pagi padahal langkahnya baru sampai garasi rumah.
"Ayo cepat, Akak. El sudah tidak sabar ingin makan mie godog!"
"Sabar dong, Sayang. Sekarang ini kita masih di garasi rumah Mami."
Elfa kembali cemberut dan kesal. Pikirannya selalu tertuju pada tampilan mie yang berkuah dengan toping telur, ayam dan sayuran. Ada Mami Mitha yang pandai memasak. Ada bibi yang selalu masak dengan lezat, tetap saja El ingin mie buatan kedai yang ada di Jakarta Barat.
Juan Mahardika masih belum mendapatkan solusi dan cara mewujudkan keinginan Elfa. WA pada nomor admin kedai belum dijawab. Mencari info miie godog yang buka dua puluh empat jam belum ada yang tampilannya seperti yang dilihat Elfa.
"Jangan cemberut begitu dong, Sayang. Akak masih berusaha ini. Sabar ya perjalanan juga masih jauh."
"Akak cepat nyetir mobilnya dong!"
"Iya yang sabar ya!"
"Iya, tetapi jangan lama-lama."
"Kalau seandainya kita cari kedai yang buka dua puluh empat jam, tetapi menu yang sama. Apakah El mau?"
"Tidak, El maunya di kedai yang ada di Jakarta Barat."
"Baiklah, kita menuju ke sana sekarang."
Belum ada setengah perjalanan, Elfa mulai mengantuk. Menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil, "Akak El ngantuk," katanya sambil menguap.
__ADS_1
Juan Mahardika tersenyum sambil mengusap lengan Elfa, "Mau berhenti dan istirahat dulu atau terus melanjutkan perjalanan?"
"Berhenti di mana?"
"Itu di depan ada hotel!"
Elfa sudah tidak kuat untuk membuka mata, menegok hotel saja rasanya sudah tidak kuat lagi, "Jalan terus, Akak!" perintahnya dengan suara pelan.
"Baiklah, sesuai perintah Tuan Putri."
Tidak sampai sepuluh menit mobil melaju, Elfa sudah terlelap. Yang sangat berubah pada diri Elfa selama hamil adalah mudah lapar, mudah tertidur dan mudah emosi. Juan Mahardika sering jungkir balik menuruti semua keinginan ibu hamil apalagi dalam mode sensi.
Juan Mahardika menghentikan mobinya sejenak di pinggir jalan di rest area. Mengirim pesan kepada Mami Mitha izin mencari makanan yang diinginkan istri tercinta. Mengirim pesan sekalian pulang karena posisi dekat rumah yang ada di Jakarta.
Berpesan untuk Nany Sofia besok pagi akan sudah mulai bekerja. Meminta sopir untuk mengantar pengasuh calon twins baby ke rumah yang ada di Jakarta. Tidak lupa mengucapkan terima kasih selalu memperhatikan kesehatan istri tercinta selama di sana.
Waktu hampir menjelang tengah malam saat Juan Mahardika melajukan kembali mobilnya menuju kedai mie godog yang diinginkan Elfa. Masih berpikir bisa memenuhi keinginan istri saat membuka mata nanti. Beberapa kali melihat jawaban pesan yang dikirim pada Admin kedai walau sudah lewat tengah malam.
Sudah lebih dari setengah perjalanan menuju kedai. Elfa belum juga terjaga dari tidurnya. Sekarang ini tertidur pulas dengan meletakkan kepala di pangkuan Juan Mahardika.
Tidak menyangka pesan yang dikirim mendapatkan jawaban walau tengah malam lebih. Dengan mengirim pesan jika istrinya sedang ngidam dan rela membayar berapa saja. Admin menjawab akan membuka kedai setelah persetujuan pemilik kedai.
"Kok baik betul ya pemilik kedai itu?" monolog Juan Mahardika sendiri sambil menyetir.
Elfa terjaga mendengar suami berbicara sendiri, "Sampai mana sekarang, Akak?"
"Sebentar lagi sampai, Sayang. Mau bangun atau bobok lagi?"
"El sudah tidak mengantuk, jam berapa sekarang?"
"Jam satu."
"Lama betul sih, Akak. Mengapa sampai tengah hari belum juga sampai?" Elfa masih dalam pangkuan Juan Mahardika tidak melihat luar mobil.
"Sayang ini jam satu dini hari, bukan tengah hari!"
"Oooo."
__ADS_1
Elfa duduk dan bersandar di pundak Juan Mahardika. Setelah terlelap keinginan makan mi godog sudah tidak menggebu lagi seperti tadi, "Kalau kedainya masih tutup kita pulang saja, Akak," katanya sambil menutup mulut karena menguap.
"Eeee, mengapa berubah pikiran?"
"Ini sudah lebih tengah malam, mana mungkin kedainya mau buka?"
Juan Mahardika tergelak sambil mengusap pipi Elfa, "El meragukan kemampuan Akak ya?"
"Apakah Akak berhasil mengubungi pemilik kedai itu?" tanya Elfa dengan semangat.
"Berhasil, bahkan pemilik kedai itu sudah menuju ke kedai menunggu kita."
"Akak memang hebat."
Juan Mahardika tersenyum manis di puji istri tercinta. Namun, masih berpikir tentang pemilik kedai yang dengan suka rela bersedia memenuhi keinginan seorang wanita hamil yang sedang ngidam. Padahal sama sekali tidak mengenal pemilik kedai itu.
Dari awal Juan Mahardika menghubungi bagian admin dengan nama seorang laki-laki. Tidak mengetahui pemilik kedai laki-laki atau wanita. Tadi lupa tidak menanyakan pada Admin tentang identitas pemilik kedai.
"Akak kenal pemilik kedai itu?"
"Tidak."
"Tahu dia laki-laki atau wanita?"
"Tidak juga."
Elfa terdiam dan mengerutkan keningnya. Ada yang aneh jika dengan mudah pemilik kedai bersedia membuka dan melayani pelanggan di tengah malam, "Akak bayar berapa?"
"Tidak bayar sama sekali, tadi Akak mengatakan berani bayar berapa pun, tetapi setelah Akak bercerita untuk istri yang sedang ngidam dia memberikan dengan gratis."
Elfa terdiam teringat masa lalu, pikirannya mulai berpikir kemungkinan pemilik kedai itu adalah seorang wanita. Bisa jadi wanita mantan masa lalu yang pernah dikencani dulu. Atau wanita yang sekarang ini masih ingin mengejar suaminya lagi.
"Mana ponsel, Akak!"
"Untuk apa, Sayang?"
"El mau melihat dulu siapa pemilik kedai itu sebelum makan di sana."
__ADS_1
"Ini ambil sendiri di kantong celana!"
Elfa langsung melihat postingan mie godog yang tadi di lihat, "Akak kenal dia, lihatlah ini pemiliknya?"