Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 81. Tamu Bulanan


__ADS_3

Juan Mahardika tertegun mendengar syarat yang diajukan oleh calon abang ipar. Tidak menyangka syarat yang diajukan menghafal surah yang sering didengar selama di Ngawi. Pakde Sarto sering melantunkan tiga surah Al Qur'an yaitu Ar Rahman, Al Waqiah dan Yasiin.


Belajar membaca Al Qur'an baru hitungan hari. Ibarat kata baru saja belajar mengeja dan menyambung huruf. Surah pendek hanya dihafal dengan cara mendengar dengan memanfaatkan teknologi.


"Kamu tidak sanggup?" tanya Alfian Alfarizi lagi.


"Insyaallah sanggup, Bang."


"Bagus, sekarang ...!" Alfian Alfarizi tidak jadi melanjutkan ucapannya. Nada dering ponsel miliknya berbunyi. Bergegas mengangkat dan menekan tombol hijau, "Assalamualaikum, Pi."


" ...."


"Baik, Abang juga sudah selesai kok."


"...."


"Iya akan Abang sampaikan padanya, Walaikum salam."


Sambil mematikan dan menekan tombol merah pada ponselnya, Alfian Alfarizi turun dari batu besar yang ada di pinggir sungai, "Orang tua kamu sudah datang, cepat temui mereka!"


"Iya, Bang. Terima kasih."


Juan Mahardika berlari dengan kencang menuju rumah Pakde Sarto. Ada rasa lega dan bahagia satu ujian sudah terlewat. Sekarang tinggal melanjutkan perjuangan agar semua rencana berjalan dengan lancar.


Tanpa diduga, keluarga yang datang tidak hanya Mommy Vera, Daddy Hans Mahardika dan Jasmine Mahardika. Ada Auntie Fira dan Uncle Marcelino juga ikut dalam rombongan. Pertemuan dua keluarga langsung terlihat akrab.


"Dad, Mom." Juan Mahardika langsung meraih dan mencium punggung tangan kedua orang tua dan tante serta omnya.


Yang paling tercengang dan kaget melihat apa yang dikalkukan Juan Mahardika adalah Jamine Mahardika. Seumur hidup kakaknya itu tidak pernah sesopan dan sehormat itu kepada orang tua. Biasanya saat bertemu hanya mengucapkan say hallo sambil berlalu saja.


"Jasmine tidak salah lihat, ini Kak Juan atau orang lain?" bisik Jasmine Mahardika saat Juan Mahardika memeluk adiknya.


"Hus, diam kamu. Jamine harus seperti itu saat ketemu orang tua, itu namanya berbakti kepada orang tua."


"Waaah calon kakak ipar Jasmine, wanita yang hebat bisa merubah Kak Juan menjadi orang."


"Sembarangan, memang Kakak dulu bukan orang?"


"Bukan, Kak Juan dulu drakula pemakan gadis."


"Berisik, diam lo!"


Yang tidak ada di ruang tamu adalah Elfa saja. Gadis pujaan hati Juan Mahardika itu masih di kamar belum menemui calon mertua. Saat dipanggil untuk menemui tamu masih berada di kamar mandi.

__ADS_1


"El di mana, Pi?" tanya Juan Mahardika kepada Papi Alfarizi.


"Dia masih di kamar mandi, tadi katanya sakit perut."


"Sakit perut, tidak dibawa ke dokter, Pi?"


"Tidak perlu, El sedang kedatangan tamu bulanan, itu biasa terjadi setiap bulan," jawab Mami Mitha.


Juan Mahardika mengerutkan keningnya karena tidak memahami sama sekali perkataan Mami Mitha. Masih bingung hubungan tamu dan sakit perut yang rutin setiap bulan. Pasalnya tidak pernah tahu dan tidak pernah melihat saat Elfa sakit perut.


Juan Mahardika meminta izin ke kamar sebentar. Ingin menghubungi pujaan hati dari kamar saja. Tidak mungkin berani mengetuk pintu kamar Elfa di saat ada keluarga sedang berkumpul.


Setelah sampai di dalam kamar, Juan Mahardika langsung menghubungi Elfa. Pikirannya sudah panik tidak karuan memikirkan siapa tamu yang membuatnya selalu sakit perut setiap bulan. Rasa cemburu seakan tidak bisa dibendung lagi.


"Ada apa, Kak. El sebentar lagi ke luar?" tanya Elfa setelah menerima panggilan telepon.


"Kata Mami, El sedang kedatangan tamu bulanan, siapa dia Akak cemburu nich?"


Elfa tertawa terbahak-bahak mendengar suara Juan Mahardika di ponsel. Laki-laki mantan casanova, tetapi tidak mengetahui arti dari tamu bulanan. Enggan untuk menjelaskan hal yang selalu dialami oleh wanita dewasa.


"Akak ini jangan bikin orang ilfil, matikan ponselnya sekarang!"


"Tetapi, Sayang. Akak ...?"


Ponsel langsung dimatikan oleh Juan Mahardika dan berlari ke luar kamar. Bersamaan Elfa juga membuka pintu kamar, "Sayang Garwoku," panggilnya.


"Iiih, Akak ini."


"Katakan dong siapa dia, jangan bikin Akak cemburu?" tanya Juan Mahardika sambil berbisik dan mengikuti Elfa berjalan ke ruang tamu.


"Jangan dibahas sekarang, kenalkan El sama keluarga Akak!"


"Iya baiklah."


Satu persatu Elfa dikenalkan dengan keluarga Juan Mahardika. Mencium punggung tangan mereka secara bergantian sambil tersenyum dan mengangguk hormat, "Waah cantiknya calon menantu Mom." Mommy Vera mengusap dengan lemput rambut dan pipi Elfa.


"Assalamualaikum, Nyonya."


"Walaikum salam, jangan panggil Nyonya, panggil Mommy aja seperti Juan!"


"Baik, Mom."


"Bersyukur sekali kami memiliki menantu seperti Nak El. Terima kasih besan, putraku sangat beruntung sekali."

__ADS_1


"Sama-sama."


"Tidak cuma beruntung, Mom. Juan sangat bahagia dan bersyukur."


Yang terakhir ditemui Elfa adalah Jasmine Mahardika, gadis itu langsung memeluk Elfa dengan erat, "Jasimine sangat mengenal Kak El."


"Oya kapan?"


"Kak El satu kampus dengan Jamine, Kak El adalah idola kampus. Banyak yang mengenal Kakak tetapi mana mungkin Kak El kenal adik tingkat yang baru masuk kampus."


Keluarga kembali merencanakan acara akad nikah dan persiapan pernikahan. Termasuk Alfian Alfarizi yang baru bergabung bersama Asisten Julio. Masih banyak yang akan dipersiapkan untuk acara nanti.


Mami Mitha berbincang dengan Mommy Vera dan Auntie Fira. Membahas tentang baju pengantin dan baju untuk akad nikah. Mommy Vera berencana akan mengadakan pesta juga di Australia nanti setelah acara di Ngawi.


Papi Alfarizi dan Daddy Hans Mahardika serta keluarga yang lain lebih banyak membahas bisnis. Berbincang tentang otomotif dan sekitar hobi laki-laki. Menyerahkan rencana kepada keluarga Pakde Sarto dan para wanita saja.


Elfa memilih membantu Bude Marmi membuat menu makan malam untuk keluarga. Sekalian membuatkan steak untuk Juan Mahardika dan keluarga. Bude Marmi membuat garang asem ayam kampung pesanan Alfian Alfarizi.


Juan Mahardika menyusul Elfa ke dapur. Berpura-pura membantu Elfa membuat menu steak danging. Padahal masih penasaran dan cemburu dengan tamu bulanan.


"Mana tamu bulanan itu, Akak ingin bertemu?" bisik Juan Mahardika di telinga Elfa.


"Eee masih itu yang ditanyakan."


"Akak ingin bertemu dia, Akak ingin mengatakan jangan membuat El sakit perut setiap bulan."


"Iiih Akak ini semakin tidak jelas lo."


Elfa berdiri di samping kompor membalik steak agar matangnya merata. Juan Mahardika juga ikut berdiri di sampingnya, "Sini Akak yang balik steak nya!"


"Ini terima kasih."


"Ayo sambil bercerita tentang tamu itu?"


"Ya Allah ya Rob, Akak!" teriak Elfa.


Elfa merasa kesal ditanya terus-menerus tentang tamu yang datang setiap bulan. Akan bercerita tentang hal yang dialami setiap wanita kepadanya rasanya aneh. Namun, jika tidak dikatakan pasti akan bertanya terus sampai mendapatkan jawaban yang pasti.


Karena malas menjelaskan Elfa membuka ponsel dan mencari informasi tentang tamu yang datang yang dimaksud oleh Mami Mitha, "Ini Akak lihat dan baca sendiri tentang tamu itu!"


"Tamunya hanya lewat online?"


"Jangan banyak tanya baca dulu, Akak Jm!"

__ADS_1


"Maaf, jangan marah."


__ADS_2