
Rena bercerita pada Elfa tentang Krisnawati dua bulan yang lalu. Sahabatnya itu datang ke markas pejuang gadis dalam keadaan kusut. Pelipis sudah di perban dan ada bekas darah di perban itu.
Mata sembab dan merah karena terlalu banyak menangis. Namun, dia tidak mengaku sebenarnya yang terjadi. Hanya bercerita jika terpeles di kamar mandi dan terbentur pinggiran pintu.
Saat itu hampir dua hari tidak ke luar kamar. Tidak juga pulang ke rumahnya sendiri. Ponsel dimatikan, wajahnya selalu murung, termenung dan menyendiri.
Rena mendesak Krisnawati untuk bercerita. Tetap saja sahabatnya itu diam seribu bahasa. Krisnawati mengalihkan perhatian dengan bercerita keberhasilan mendapatkan bukti akurat tentang Jonny Evans.
Sepasang mantan kekasih yang sekarang menjadi musuh bebuyutan pernah bertemu satu kali tanpa sengaja. Bertemu di sebuah mall saat Krisnawati sedang menghadiri teman yang sedang berulang tahun. Melihat sang mantan sedang menggandeng gadis belia belanja baju bermerk.
Tidak ingin gadis belia itu menjadi korban seperti yang dialami. Krisnawati menemui gadis belia itu dan mengajak kerjasama. Mencari informasi alamat dan tempat gadis belia yang baru lulus SMK.
Awalnya dengan memberikan imbalan uang gadis itu setuju membantu. Setelah semua bukti direkam, di vediokan dan menyaksikan sendiri. Gadis belia itu tidak mau diberikan imbalan dengan alasan sudah terselamatkan karena kerjasama itu.
Tepat Rena selesai bercerita, Krisnawati masuk bersama MUA yang akan membantu pengantin untuk berganti baju adat Sunda. Membawa pesan juga dari Juan Mahardika agar Elfa menemui sang suami. Membuat dua sahabat tidak sempat bertanya kepada Krisnawati.
Elfa ke luar dari kamar menemui suami yang sedang duduk bersama Papi Alfarizi dan Mami Mitha serta Alfian Alfarizi, "Akak mencari, El?"
"Iya, sini duduk, Abang Al mau mengatakan sesuatu!"
"Ada apa, Bang?"
"Ada anak buah Abang tadi melihat Dokter Yohan Charnett di sekitar rumah sakit, kalian harus waspada!"
"Kapan mereka melihat dokter itu, Bang?" tanya Juan Mahardika.
"Satu jam yang lalu, mereka melaporkan jika dokter itu sedang bersama rombongan dokter yang sedang bekerja sosial membantu anak balita yang kekurangan gizi."
"Dia tinggal di mana, Bang?" tanya Elfa.
__ADS_1
"Mereka menyewa dua villa dari villa milik Juan, untuk menghindari masalah Dwi saja malam ini yang menginap di villa Juan, El dan Juan tinggal di salah satu villa Abang Al!" perintah Papi Alfarizi.
"El menginap di villa Mami dan Papi saja, boleh, 'kan Akak?"
"Boleh dong, Sayang. Kita menginap di villa Papi dan Mami sesuai keinginan El."
"Terima kasih."
"Kalian jangan khawatir, anak buah Abang mengawal kalian dari jauh, jika terjadi apa-apa cepat hubungi Abang atau Asisten Julio!"
"Siap terima kasih, Bang!"
Acara resepsi pernikahan digelar menggunakan adat Sunda. Prosesi demi prosesi dilalui dengan lancar tanpa ada kendala. Beristirahat sejenak saat tiba waktunya solat zuhur.
Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra berbincang sejenak setelah selesai menunaikan kewajiban. Bercerita tentang Dokter Yohan Charnett yang sekarang ini ada di selkitar villa. Menyusun rencana jika sesuatu terjadi dengan dokter yang masih teropsesi dengan Elfa.
Tidak ada yang tahu tentang rencana itu kecuali berdua saja. Saat itu juga disela-sela acara resepsi Asisten Dwi Saputra masih harus menunaikan tugasnya sebagai asisten pribadi. Yang terpenting ada imbalan yang menanti setelah resepsi dan rencana itu sukses.
Acara dilanjutkan sampai batas waktu jam lima sore. Masih berkumpul di rumah pengantin wanita pasangan Juan Mahardika sampai menjelang senja. Bersama Krisnawati yang beristirahat di kamar sendirian.
Setelah pada malam hari, Asisten Dwi Saputra dan Rena tidak tinggal di kamar pengantin. Mereka tinggal di villa milik Juan Mahardika seperti perintah Papi Alfariizi. Yang menempati kamar pengantin malam ini adalah Krisnawati seorang diri.
Juan Mahardika pulang ke villa Papi Alfarizi bersama kedua mertua dan istri tercinta. Penjagaan diperketat dan dijaga oleh anak buah Alfian Alfarizi. Yang tidak dijaga oleh anak buah Alfian Alfarizi hanya rumah Rena saja.
Orang tua Rena memilih menginap di rumah anak pertama yang berada di sebelah kiri. Ada banyak anggota pejuang gadis yang menginap di rumah Rena. Sebagian besar tidak ada yang pulang karena momen bahagia ketua dan panutan mereka.
Sampai tengah malam semua berjalan dengan lancar dan tidak ada yang mencurigakan. Pada waktu sepertiga malam listrik sebagian wilayah villa mati total. Termasuk rumah warga yang ada di sekitar villa tidak terkecuali rumah Rena.
Bertepatan Elfa terbangun saat listrik padam, "Akak," Elfa membangunkan suami yang masih terlelap.
__ADS_1
"Ada apa, lo kok gelap, Sayang?" tanya Juan Mahardika dengan suara lirih.
"Listrik padam, Kak. El mau ke kamar mandi."
"Tunggu, Akak menghubungi security."
Saat Juan Mahardika menghubungi security, kebetulan security sudah berada di tempat generator yang ada di belakang villa. Langsung terang setelah generator cadangan di nyalakan.
"El mau wudhu, ayo Akak temani!"
"Sudah terang, El berani, AKak."
"Tidak apa, ayo Akak juga mau wudhu juga!"
Setiap villa pasti memiliki generator cadangan. Setelah generstor dinyalakan di villa Juan Mahardika, Asisten Dwi Saputra mengirim pesan WA kepada tuannya bahwa semua keadaan aman-aman saja. Villa yang ditempati dokter Yohan Charnett tidak ada aktivitas yang mencurigakan.
Hanya rumah warga yang masih gelap gulita tanpa penerangan. Apalagi saat sepertiga malam adalah waktu yang paling indah orang terlelap di dalam mimpi. Waktu paling nikmat menarik selimut bagi orang yang malas memanfaatkan waktu untuk bersujud.
Tanpa diduga rumah yang tidak dijaga ketat oleh Alfian Alharizi justru yang tidak aman. Walau ada dua anak buah Asisten Dwi Saputra yang menjaga rumah itu. Namun, mereka ikut terlelap di teras rumah tidur di kursi pelaminan yang dipakai tadi siang.
Ada dua laki-laki yang mengendap-endap dari dapur masuk kamar pengantin. Berjalan melewati para gadis yang tertidur di lantai dengan menggunakan karpet tebal. Membuka pintu perlahan agar tidak ada yang terbangun.
Suara itu terdengar samar oleh Krisnawati yang sebenarnya sudah terbangun. Masih malas ingin bangun dan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu karena gelap.
Karena sangat gelap, Krisnawati tidak bisa melihat sama sekali. Hanya bisa menebak ada dua suara laki-laki yang masuk kamar dan berjalan mendekati tempat tidur. Wanita yang pandai bela diri seperti Elfa dan Rena itu mulai bersiap-siap dengan hanya mendengar saja.
Tanpa diduga ada ayunan kayu yang menghantam tengah tempat tidur, "Hyiiiaaat!" teriak salah satu Laki-laki itu.
"Auw ... kakiku, brengsek siapa kalian!"
__ADS_1