Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 97. Tiba di Australia


__ADS_3

Menjelang sore waktu di Jakarta dan setelah sholat subuh di Riyadh. Papi Alfarizi dan Mami Mitha sedang berada di depan para wartawan. Sedang mengadakan konferensi pers tentang pernikahan Elfa dan Juan Mahardika.


Mengumumkan sudah menikah dua minggu yang lalu di Ngawi. Akan mengadakan dua kali pesta pernikahan. Yang pertama di Australia di kediaman keluarga Mahardika. Yang kedua di Bekasi yang akan digelar di mall milik Papi Alfarizi.


Elfa dalam pelukan Juan Mahardika ikut melihat tayangan konferensi pers melalui you tube di salah satu televisi swasta terkenal. Menyimak sambil memperhatikan banyaknya wartawan yang hadir. Sampai ada sesi pertanyaan dari wartawan yang sedang meliput acara itu.


Pertanyaan demi pertanyaan terdengar biasa dan wajar dari wartawan dan dijawab lugas oleh Papi Alfarizi. Ada pertanyaan yang sangat riskan dan sangat ditakutkan oleh Elfa selama ini. Seolah pertanyaan itu mewakili kata hati Elfa saat ini.


"Kami sangat tahu sepak terjang menantu Anda, Apakah Anda tidak takut jika suatu saat nanti putri Anda dikhianati?" tanya Seorang Wartawan muda.


Papi Alfarizi tersenyum sambil memandang Mami Mitha sesaat, "Kami sangat tahu sifat dan masa lalu Juan Mahardika, Insyaallah dia sekarang ini sudah berubah. Kami sudah menegaskan sebelum menerima dia menjadi menantu kami."


"Apakah saya boleh tanya satu lagi. Tuan?" tanya salah satu Wartawan Wanita yang berdiri di paling ujung bagian depan.


"Silahkan satu lagi?"


"Apa yang membuat Anda sangat yakin jika Tuan Juan Mahardika sudah berubah?"


"Semua orang memiliki masa lalu entah itu kelam ataupun baik, tetapi sebaik-baik manusia adalah insan yang menyadari kesalahannya dan mau berubah demi masa depan yang lebih baik. Kami menyaksikan sendiri proses itu pada diri manantu kami."


Elfa ikut mengangguk mendengar jawaban Papi Alfarizi. Seolah hatinya juga ikut mendapatkan jawaban yang dari kemarin tidak didapatkan. Bahkan, kata-kata dari Papi Alfarizi terus diulang oleh Elfa untuk memantapkan hati jika itu yang terbaik.


"Sayang ... Sayang, kok melamun sih" tanya Juan Mahardika menepuk pipi Elfa.


"Akak bikin kaget saja, ada apa sih?"


"Mengapa El melamun?"


"El memikirkan semua yang dikatakan Papi tentang Akak."


"Apakah El msih meragukan cinta Akak?"

__ADS_1


"Bukan ragu, Akak. El masih takut sama seperti yang ditanyakan wartawan tadi."


Juan Mahardika tersenyum kecut sambil mengecup seluruh wajah Elfa. Sampai Elfa tergelak karena merasa geli baru menghentkan aksinya. Walau ada rasa kecewa di hati, tetapi berusaha ikhlas dan menyadari, jika kepercayaan tidak didapat dalam waktu sesaat saja.


"Akan Akak buktikan seiring waktu. Akak menyadari tidak mungkin akan percaya kalau hanya dalam waktu singkat saja."


"Hhmm."


"Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk Akak berubah, terima kasih untuk semua yang Akak rasakan sampai saat ini, Akak hanya manusia biasa yang banyak salah dan dosa, tolong bimbing Akak menjadi lebih baik dan lebih layak untuk El!"


Elfa tersenyum dan beberapa kali mengangguk sambil memandang wajah suami dengan lekat. Pancaran cinta mulai terlihat dari sorot matanya. Semakin hari rasa cinta semakin terpupuk dalam dada.


"Ya Allah, bahagianya hati Akak sekarang."


Baru memajukan badan untuk beraksi mencium bibir Elfa. Ada ketukan pintu dari luar dan terdengar suara bibi memanggil, "Tunggu di sini, Akak saja yang membuka pintu!"


Ada bibi yang sedang berdiri di depan pintu saat Juan Mahardika membuka pintu, "Ada apa, Bibi?"


"Terima kasih, Bibi."


Elfa yang mendengar Abi Ali sudah pulang langsung berlari keluar pintu. Sambil menarik tangan Juan Mahardika ikut berlari juga, "Ayo Kak, Opa sudah pulang!" teriaknya.


Juan Mahardika terbelak dan menggelengkan kepala sambil mengikuti langkah panjang Elfa, "Jangan buru-buru, El. Nanti tersandung lo!"


"Opa ...!" teriak Elfa menuju ruang makan.


"Assalamualaikum, cucu Opa yang sholeha."


"Walaikum salam."


"Ayo sarapan dulu, Opa lapar, Mana suami El?"

__ADS_1


"Juan di sini, Opa." Juan Mahardika tidak ikut berlari Elfa sehingga dia ketinggalan.


"Ayo sarapan, setelah ini kita langsung berangkat saja ke Australia!"


"Baik Opa," jawab Elfa dan Juan Mahardika bersamaan.


Tidak banyak yang dipersiapkan oleh Elfa untuk berangkat ke Australia. Semua keperluan Elfa sudah dipersiapkan oleh ahlinya. Desainer Mommy Vera yang membantu semua keperluan Elfa. Sampai baju tidur, lingerie, baju santai sampai baju pesta sudah di sediakan.


Ibarat kata, Elfa hanya tinggal melenggang masuk dan menjentikkan jari semua sudah tersedia. Tinggal tunjuk yang dimau, tinggal perintah yang diinginkan langsung ada yang melakukan. Mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki sudah pasti produk berkualitas tinggi.


Sampai di rumah mewah Juan Mahardika, hanya Jasmine Mahardika yang menyanbut pasangan pengantin baru. Kedua orang tua sedang di kantor walau waktu sudah senja.


Abi Ali langsung beristirahat di kamar tamu. Elfa langsung diajak oleh Juan Mahardika masuk kamar. Kamar yang terlihat maskulin perpaduan putih dan biru.


Elfa hanya beristirahat sejenak di kamar Juan Mahardika. Setelah senja Daddy Hans Mahardika datang bersama keluarga besar. Elfa diperkenalkan satu persatu keluarga yang ayah kandung suami.


Berbincang akrab dengan mereka, walau Elfa banyak diam dan hanya menanggapi sambil tersenyum. Banyak ditanya tentang keluarga, terkadang Juan Mahardika yang menjawab. Justru Abi Ali yang lebih bisa menyesuaikan diri karena sebagian besar keluarga yang datang sudah berkeluarga.


Semakin bertambah ramai saat saat Mommy datang bersama rombongan. Sebagian rombongan yang datang adalah wanita muda dan ibu-ibu sosialita teman arisan. Dengan berdandan menor dan terlihat sangat mewah seperti sedang menghadiri pesta pernikahan.


Datang dengan suara berisik seperti di pasar. Tanpa mengucapkan salam, mereka langsung datang dan masuk bergabug. Bahkan, mereka cipika-cipiki dengan Daddy Hans tanpa sungkan.


Abi Ali hanya berdiri terpaku melihat rombongan wanita sosialita sambil melipatkan tangan di dada. Sehingga para wanita sosialita itu tidak memeluk dan cipika-cipiki seperti Daddy Hans. Mereka ikut melipatkan tangan di dada juga.


Elfa hanya tersenyum saat Abi Ali bisa membuat wanita sosialita itu merasa segan dan hormat. Mungkin karena mereka tahu wajah Abi Ali yang keturunan Arab. Adat kebiasaan setiap negara memang berbeda-beda.


Elfa melotot kesal saat ada salah satu wanita sosialita mendekati Juan Mahardika dengan merentangkan tangan, "Juan My darling!"


Juan melirik Elfa yang cemberut sebelum wanita sosialita itu datang dan memeluknya. Dengan sengaja Juan Mahardika berbalik badan memeluk Mommy Vera. Sehingga wanita dewasa itu menghentikan langkahnya.


Sebelum semua rombongan mendekati Juan Mahardika dan memeluknya. Juan Mahardika berbalik badan dan memeluk Elfa dengan erat, "Jangan menolak, El tahu kan kebiasaan warga di sini, nanti mereka semua pasti akan memeluk Akak," bisinya di telinga.

__ADS_1


"Awas aja kalau Akak memeluk mereka!"


__ADS_2