Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 219. Keadilan Bagi Pusaka Bumerang


__ADS_3

"Aku tidak tahu di mana keberadaan Kris, mungkin Rena dan El yang tahu, tetapi mereka tidak mau memberikahukan pada siapapun, mengapa kamu tidak tanya pengacara itu lagi?" Juan Mahardika menjawab sekaligus bertanya dengan tujuan mengetahui identitas pengacara yang disebut.


Jonny Evans tersenyum kecut sambil melihat ke seluruh ruangan rumah Rena. Dua wanita yang disebut oleh sahabat lamanya itu tidak muncul sama sekali. Tidak ada satu orang pun yang tahu tentang Kris saat bertanya.


"Aku sudah tidak memakai jasa pengacara lagi, hartaku sebagian disita dan usahaku bangkrut. Mana sanggup aku bayar pengacara itu lagi," jawab Jonny Evans.


Harta yang didapat dari cara yang salah tetap tidak akan berkah. Akan tidak banyak manfaat dan jika menikmati harta yang tidak halal akan menjadi penyakit hati dan tidak akam berkah seperti yangt dialami Jonny Evans. Dulu modal awal didapat dari memperdaya kekasih hati dengan alasan cinta.


"Maaf, aku tidak bisa membantu tentang hal itu. Silakan tambah lagi kalau masih lapar, permisi aku mau masuk dulu!"


"Tolong tanyakan pada istrimu di mana Kris?"


"Maaf aku tidak bisa, aku tidak pernah mencampuri tentang persahabatan istriku." Juan Mahardika langsung meninggalkan Jonny Evans yang masih menikmati buah semangka.


Di dalam rumah, Rena dan Elfa sengaja melihat perbincangan dua sahabat lama. Sengaja enggan untuk ke luar dan menemui mereka. Menebak kemungkinan ingin mendekati Kris lagi agar bisa jaya seperti dulu lagi.

__ADS_1


"Sayang!" panggil Juan Mahardika saat melihat Elfa mengintip Jonny Evans lewat pertisi pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga.


"Teman Akak itu masih mencari Kris?"


"Iya, biarkan saja dia mencari sendiri. Ayo kita pulang ke villa!"


"Ayo, El sudah kangen dengan Zi dan Za."


Doa bersama hanya berlangsung kurang dari dua jam. Dengan sengaja Elfa Dan Juan Mahardika tidak membawa serta twins baby. Akan lebih tenang tidur di villa daripada diajak ke rumah Rena.


Sambil bergandengan tangan berjalan menyusuri jalan aspal saling berbincang. Juan Mahardika selalu saja membahas tentang beraksi yang tidak sebebas dulu. Setelah berbuka puasa sekilas sore itu sampai sekarang baru beraksi dua kali saja.


Ada saja halangannya saat berniat beraksi. Terkadang twins baby yang rewel minta ASI. Terkadang twins baby yang tidak mau ditinggal dan ingin ditemani serta ada orang yang berbicara disekitar twins baby.


"Malam ini Akak minta waktu khusus ya, Sayang?"

__ADS_1


"Waktu khusus untuk apa?"


"Untuk mensejahterakan pusaka bumerang Akak, sudah satu minggu dia selalu meriang merindukan kasih sayang."


"Bukankah sudah buka puasa dan sudah tambah juga kemarin?"


"Sayang, dalam satu minggu ini pusaka bumerang cuma dapat jatah tiga kali saja," gerutu Juan Mahrdika.


"Disyukuri saja, Akak. Itu sudah lumayan lo."


"Lumayan bagaimana, dulu sehari tiga kali. mengapa sekarang jadi seminggu tiga kali? Itu tidak ada keadilan bagi pusaka bumerang."


Elfa tergelak mendengar ada keadilan bagi pusaka bumerang. Awal memiliki bayi belum bisa menyesuaikan jadwal bayi istirahat, terjaga atau memberikan ASI. Mungkin itu yang membuat Elfa susah untuk memberikan waktu suami tercinta menyalurkan rasa cintanya.


villa hanya tinggal beberapa meter lagi, berjalan sambil berbincang tidak terasa. Saat berbelok masuk jalan utama villa ada suara langkah kaki yang terdengar di belakang. Dengan spontan keduanya menengok ke belakang, hanya sayangnya tidak ada seorang pun yang terlihat, "Mana suara langkah kaki tadi, Akak?"

__ADS_1


__ADS_2