
"Tidak harus menyamar jadi wanita juga dong, Tuan. Anda bisa menyamar menggunakan cambang atau kumis palsu, memakai wig dan berpenampilan seperti mahasiswa."
"Ooo aku kira suruh pakai baju perempuan."
Asisten Dwi Saputra tertawa terbahak-bahak sambil membayangkan Juan Mahardika memakai baju kebaya. Pasti akan terlihat lucu, badan maco, kulit putih akan sangat kontras berpadu dengan make-up yang mencolok. Jadi teringat wanita jadi-jadian yang sering mangkal di kegelapan malam.
"Kamu sudah mencari acara wisuda gadis itu diadakan di mana?"
"Sudah, sekalian susunan acara itu lengkap ada di laptop."
"Ok, selain itu jangan lupa kamu persiapkan keperluan untuk penyamaran besok. Aku mau istirahat!"
"Beres, Tuan. "
Esok harinya Elfa berdandan cantik dengan mengenakan pakaian kebaya rancangan Mami Mitha. Seragam dengan Mami Mitha, Rania dan si Cantik Arshiya putri bungsu Alfian. Sedangkan Papi Alfarizi, Alfian dan si kasep Al memakai baju batik.
Acara demi acara wisuda dimulai tepat pukul sepuluh pagi waktu Australia. Seluruh mahasiswa yang wisuda hari ini berkumpul di tempat masing-masing. Termasuk Elfa dan Shella Jannes, sedangkan orang tua berada di sisi pinggir.
Pengukuhan dan simbul sebagai mahasiswa yang sudah lulus dimulai dari fakultas ekonomi dan bisnis. Fakultas jurusan Elfa termasuk hampir paling belakang. Sehingga setelah satu jam berlalu Elfa baru naik panggung.
Selesai acara pengukuhan selesai juga disiarkan langsung yang dilakukan oleh Alfian Alfarizi. Acara selanjutnya ada pengumuman juara umum. Elfa mendapatkan dua juara hari ini. Rengking ke tiga dari ribuan mahasiswa dibidang akademik. Juga menjadi juara mahasiswi favorit pilihan seluruh kampus.
Dalam acara wisuda di deretan tamu undangan ada wakil dari rumah sakit tempat Elfa menyalurkan ilmunya kemarin. Salah satu tamu itu ada Dokter Yohan Charnett. Bersama dengan Direktur utama rumah sakit yang menghadiri acara tersebut.
Tanpa diduga ada sambutan dari wakil rumah sakit yang menyampaikan pesan. Dokter Yohan Charnett memberikan pidato khusus meminta untuk mahasiswa yang akan bekerja melamar ke rumah sakit. Tidak lupa meminta khusus bagi para mahasiswa yang pernah magang untuk kembali.
Saat Dokter Yohan Charnett meminta para mahasiswa yang pernah bergabung dengan rumah sakit untuk kembali. Laki-laki mapan itu khusus memandang Elfa dengan wajah berbinar. Seolah mengisyaratkan hati masih terpaut dengan Elfa.
__ADS_1
"El, lihatlah mata dokter tampan kamu, cintanya masih membara," bisik Sheilla Jannes.
"Bodo amat, El tidak tertarik."
Dokter Yohan Charnett turun dari panggung dan melewati Elfa juga melirik sambil tersenyum. Sheilla Jannes lah yang kegirangan melihat senyum mempesona dokter urologi itu. Sedangkan Elfa tidak melihat sama sekali dan lebih memilih melihat panggung.
Pembawa acara memanggil satu persatu juara yang tadi diumumkan. Meminta untuk naik panggung secara bersamaan. Termasuk Elfa yang mendapatkan dua juara.
Diberikan penghargaan dan karangan bunga oleh panitia. Awalnya penghargaan diberikan oleh pimpinan universitas. Tanpa diduga yang memberikan karangan bunga adalah pimpinan rumah sakit dan Dokter Yohan Charnett.
Ada sorak bergemuruh saat dokter tampan itu memberikan karangan bunga kepada Elfa. Sudah menjadi rahasia umum di kampus jika sang dokter sangat mengidolakan Elfa. Dengan terpaksa Elfa menerima jabat tangan Dokter Yohan Charnett dengan senyum yang terpaksa.
Bertepatan sorak sorai dari para mahasiswa, Ada Juan Mahardika yang memandang dari kejauhan. Matanya melotot saat melihat dokter itu memandang dengan penuh cinta kepada Elfa. Sambil melihat semua mahasiswa yang bersiul dan berteriak.
"Apa maksud dari mahasiswa itu, Dwi?" tanya Juan Mahardika bingung.
Juan Mahardika melihat Dokter Yohan Charnett tanpa berkedip. Wajah laki-laki itu berseri-seri, tersenyum sambil terus memandang Elfa. Sorot matanya sangat terlihat memuja walau tanpa kata.
Berbeda lagi saat melihat wajah Elfa. Gadis itu terlihat hanya tersenyum sekilas dan seolah terpaksa. Wajahnya datar dan mengalihkan pandangan mata melihat tempat lain.
"Coba kamu lihat wajah Elfa?"
"Iya wajah dia terlihat kesal walaupun mencoba tersenyum, kemungkinan gadis itu tidak menyukai laki-laki yang memberikan karangan bunga itu, Tuan."
Asisten Dwi Saputra melihat Juan Mahardika tersenyum sekilas. Senyum yang terlihat puas dan bahagia. Hanya bisa berharap ada perubahan setelah mengetahui gadis itu banyak yang suka.
Juan Mahardika hanya berdiri jauh dari panggung di belakang para mahasiswa yang di wisuda. Tidak ada seorang pun yang mengenali mereka berdua. Karena penampilan mereka sangat jauh berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Juan Mahardikamemakai celana jeans, baju batik, kumis tebal, jambang yang lebat, rambut dengan belahan tengah serta kaca mata hitam. Sedangkan Asisten Dwi Saputra memakai celana jeans dan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku. Memakai wig rambut model mohag dengan diikat sedikit di belakang.
Elfa turun dari panggung langsung menyerahkan penghargaan dan karangan bunga kepada Sheilla Jannes. Dia langsung berjalan cepat ke belakang panggung. Tanpa melihat dokter yang masih terus memandang sampai tidak terlihat lagi.
"Aku mau mengikuti gadis itu, kamu awasi laki-laki itu jangan sampai menyusul ke sana!"
"Siap ...."
Juan Mahardika mengikuti Elfa dengan langkah panjang. Banyak mahasiswa yang memandang Juan Mahardika dengan pandangan yang berbeda. Tidak ada satu orang pun yang mengenali penampilan dosen tamu yang pernah mengisi mata kuliah ekonomi dan bisnis itu.
Terlihat dari kejauhan Elfa masuk toilet wanita. Juan Mahardika menghentikan langkahnya sambil memperhatikan area sekitar toilet. Masih banyak orang yang berlalu-lalang berjalan keluar masuk toilet bergantian.
Berhenti pura-pura bermain ponsel sambil melirik pintu toilet wanita setiap ada yang ke luar dari sana. Sampai setengah jam berlalu baru terlihat Elfa keluar dengan berjalan perlahan. Gadis itu berjalan sambil menunduk dan konsentrasi dengan ponsel tanpa melihat ke depan.
Antara toilet dan panggung ada lorong koridor yang menghubungkan area parkir menuju aula yang digunakan untuk wisuda. Juan Mahardika berjalan mengikuti Elfa sesaat sampai di lorong koridor. Terlihat tidak ada seorang pun yang lewat.
Dengan cepat Juan Mahardila menarik tangan Elfa dan di dorong sampai tembok. Saat Elfa akan berteriak, Juan Mahardika langsung mendekap mulut Elfa, "Jangan berteriak!"
Walau Elfa tidak mengenali wajah Juan Mahardika, tetapi sangat mengenal suara itu, "Kamu ...?" tanya Elfa dengan suara yang tidak jelas karena mulut masih dalam dekapan tangan Juan Mahardika.
"Ini aku, Juan Mahardika."
"Lepaskan!" Suara Elfa masih tidak jelas.
"Akan aku lepaskan asal kamu katakan apa yang kamu lakukan padaku dua tahun yang lalu?" Elfa menjawab dengan mengangguk.
Juan Mahardika melepas tangan yang ada di mulut Elfa, "Katakan apa yang kamu lakukan dulu?"
__ADS_1