
Bukan cuma peralatan milik penghulu yang berserakan di lantai. Kue dan minuman yang ada di meja sebelah meja penghulu juga berserakan di lantai. Emosi Juan Mahardika dilampiaskan dengan mendorong semua barang sampai berserakan di lantai.
Tidak ada yang berani berucap sepatah kata pun. Semua tertunduk tidak berani menatap wajah Juan Mahardika yang marah besar. Termasuk ayah kandung dari Atin Suprihatin.
"Kalian kerjanya apa sih, mengapa bisa kabur?" Juan Mahardika bertanya dengan berteriak.
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan tuan yang sedang marah besar. Menjawab sama saja membangkang dan bunuh diri. Tidak menjawab akan terkena amukan dan hukuman tanpa terkecuali.
"Cepat periksa CCTV, bawa sini rekamannya!"
Dua security berlari ke kantor pusat pengendali CCTV. Tidak ingin majikan marah berkepanjangan. Mereka hanya akan bekerja tanpa kata dan tanpa membantah.
"Ini silahkan Anda lihat, Tuan!"
Dua security meletakkan laptop yang berisi rekaman CCTV. Rekaman yang diambil di seluruh ruangan dan luar ruangan. Kecuali yang ada di dalam kamar villa karena tidak dipasang CCTV.
Yang pertama Juan Mahardika lihat adalah rekaman setengah jam yang lalu. Di saat Elfa dan Atin keluar dari cendela. Melompat pagar dengan bantuan kursi taman.
"Buka rekaman saat perias itu masuk villa!" Perintah Juan Mahardika.
"Baik ... Tuan."
Yang dilihat Juan Mahardika pertama kali bukan wajah perias itu. Melainkan mobil yang mengantar perias sampai di depan gerbang villa.
"Catat nomor polisi mobil dan kirim kepada Asisten Dwi sekarang!"
"Ya Tuan."
Tangan Juan Mahardika menggerakkan mouse laptop setelah security sedang mencatat dan mengirimkan ke Asisten Dwi Saputra. Sengaja membesarkan dan melihat wajah perias. Di fotonya berkali-kali menggunakan ponsel.
Juan Mahardika meninggalkan villa begitu saja tanpa kata setelah semua CCTV dilihat. Bahkan ayah kandung Atin juga tidak di tegurnya. Keluar villa menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi.
Juan Mahardika langsung menuju kafe milik Jonny Evans untuk mencari pelampiasan. Kafe yang menyediakan pelanggannya wanita cantik itu selalu ramai pengunjung. Kafe hanya sebagai kedok untuk menutupi prostisusi terselubung.
"Bro ...!" teriak Juan Mahardika saat melihat Jonny Evans sedang briefing dengan karyawan yang sedang berganti sift.
__ADS_1
Bergegas Jonny Evans mengajak dia ke kantor pribadi setelah memerintahkan asisten untuk melanjutkan briefing, "Ayo ikut gue aja!"
Sampai kantor Juan Mahardika menceritakan kejadian yang terjadi di villa baru saja. Kemungkinan perias itu adalah salah satu dari kelompok yang sedang trending saat ini. Walaupun dia adalah seorang wanita tidak laki-laki seperti rumor yang beredar.
"Elo mau tidak mencari gadis perias itu?" tanya Juan Mahardika.
"Maksudnya apa sih, Bro?"
"Gue mau balas dendam pada gadis itu."
"Cari tahu identitas gadis itu, temukan dia di manapun dia berada."
"Gue bisa mengerahkan anak buah, tetapi elo harus membayar mahal."
"Berapapun yang elo minta gue kasih, gu kasih waktu elo dua puluh empat jam saja!"
"Baik ... sini rekaman CCTV dan foto gadis perias itu!"
"Ini ...."
Saat itu juga Jonny Evans menyebar anak buah di berbagai tempat. Dengan memegang foto gadis itu sebagai referensi. Mencari di setiap sudut kota sekitar villa dan kafe.
Sementara itu di markas kelompok pejuang gadis. Elfa sedang mencari informasi pemilik villa. Dari keterangan awal yang diceritakan oleh Atin.
Dengan mudah Elfa bisa mencari keterangan lebih lanjut. Setelah diketahui nama dan alamat villa. Karena Abang Alfian juga seorang pengusaha villa yang terkenal.
Dengan ditambah informasi dari media sosial. Elfa menemukan sosok seorang CEO kaya raya yang terkenal casanova. Laki-laki yang memiliki prinsip tidak akan menikah selama wanita bisa didapat dengan mudah ada dalam pelukan.
Terkenal pebisnis ulung dan memiliki pusat bisnis di Australia. Perusahaan yang di Jakarta sangat besar dan terkenal. Termasuk deretan sepuluh besar pebisnis muda di Indonesia.
Keesokan harinya saat malam Minggu, Elfa tidak ada kegiatan di kelompok pejuang gadis. Dia menghilangkan penat dengan nongkrong di kafe. Kafe kecil tetapi terlihat ramai pengunjung khususnya anak muda-mudi yang sedang pacaran.
Elfa duduk di pojok paling belakang sambil searching mencari informasi tentang kuliah. Rencana akan melanjutkan kuliah S2. Lebih memilih untuk mengambil bea siswa dan tidak ingin menunjukkan identitas keluarga.
Elfa banyak mendaftar kampus dengan tes online. Kemampuan otaknya tidak diragukan lagi. Saat S1 juga dengan jalur bea siswa dan mendapatkan nilai tertinggi.
__ADS_1
Saat sedang sendirian tanpa disadari ada dua laki-laki yang memperhatikan sejak tadi. Mereka sengaja duduk di belakang Elfa. Memperhatikan hampir setengah jam tanpa disadari oleh Elfa.
Mengambil foto secara diam-diam baik dari belakang atau dari samping. Pura-pura berjalan ke kamar mandi juga mengambil foto wajah Elfa tanpa di ketahui.
Dua laki-laki itu bolak-balik menghubungi seseorang menggunakan ponsel. Mata mereka terus mengawasi Elfa seolah tanpa berkedip. Selalu mengambil foto setiap gerakan yang dilakukan oleh Elfa.
Hampir satu jam lEfa masih berkonsentrasi pada laptopnya. Sambil menikmati kentang goreng dan jus mangga yang di pesan. Tanpa disadari makanan dan minuman habis tanpa sisa.
Tangan Elfa diangkat memanggil pramusaji yang kebetulan lewat tidak jauh dari tempatnya, "Permisi ...!"
"Iya ada yang bisa saya bantu, Kak?"
"Saya pesan jus mangga satu lagi ya."
"Baik di tunggu, atau barangkali pesan makanan lagi, Kak?"
"Boleh juga, pesan steak satu porsi deh."
"Baik ... di tunggu ya, Kak."
"Iya terima kasih."
Elfa kembali konsentrasi pada laptop sesaat pramusaji meninggalkan meja. Dua laki-laki itu kembali menghubungi seseorang dengan ponselnya. Dan salah satunya berlari mengikuti pramusaji yang baru saja menerima pesanan Elfa.
Pesanan datang setelah sepuluh menit berlalu, "Ini pesanannya, Kak. Selamat menikmati."
"Terima kasih."
Elfa makan steak dan minum jus mangga sambil tetap konsentrasi pada laptop. Hampir satu jam berlalu steak dan jus mangga habis tanpa sisa. Bersamaan dengan semua tes yang dilakukan lewat online selesai.
Setelah menutup laptop dan memasukkan ke dalam tas. Elfa membayar makanan yang baru saja dinikmati di kasir. Waktu hampir pukul sepuluh malam Elfa keluar dari kafe.
Elfa sampai di parkiran terasa pusing dan berjalan sempoyongan. Awalnya mengira karena terlalu lama di depan laptop dan melakukan tes secara online terlalu lama. Namun lama kelamaan badan Elfa terasa panas dan keluar keringat dingin.
"Aduh ... mengapa badanku panas?" monolog Elfa.
__ADS_1
Datang dua laki-laki langsung memegang tangan Elfa kanan dan kiri, "Ayo ikut kami!"
"Ee siapa kalian?"