
Di lokasi bencana keadaan benar-benar memprihatinkan. Masih banyak warga yang belum ditemukan. Masih banyak yang belum tersentuh bantuan baik sandang maupun pangan.
Lokasi bencana porak-poranda hampir rata dengan tanah. Suara jeritan dan tangisan selalu terdengar di mana-mana. Kesedihan dan ratapan pilu terus terdengar karena kehilangan anak, istri, suami, dan keluarga.
Air bersih langka, kondisi jalan becek dan dan licin. Listrik dan penerangan mati total tidak satupun yang berfungsi. Sinyal ponsel juga tidak tersambung sehingga lost contact semua dengan dunia luar.
Tidaak ada gunanya membawa peralatan elektronik terutama ponsel. Merk apapun ponsel itu jika tidak ada sinyal semua akan tidak berguna. Bagi siapapun yang ingin menghubungi menggunakan ponsel harus berjalan mendekati pantai berjarak sekitar lima kilo meter jauhnya.
Hari pertama relawan tiba di tempat bencana. Langsung terjun di lapangan tanpa terkecuali. Tidak memandang jabatan, pangkat, semua sama hanya dibutuhkan tenaga untuk mengevakuasi baik yang sudah tiada atau yang selamat.
Elfa dan rombongan dengan sigap membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Di tempat bencana seperti ini tidak pernah memandang atasan, bawahan ataupun pemilik perusahaan. Semua hanya berstatus relawan yang melakukan pekerjaan dengan tulus dan ikhlas tanpa pamrih.
Elfa sedang menggendong balita yang selamat dari bencana. Balita itu menangis di bawah meja sendirian saat ditemukan. Sedangkan, seluruh keluarga balita itu tidak selamat dan terbaring di bawah reruntuhan kayu yang penuh dengan lumpur.
"Sayang, ayo ikut Kak El ya?"
Balita yang badannya basah kuyup dan penuh lumpur itu, terlihat mulai menggigil kedinginan. Elfa mulai membersihkan lumpur dari wajah balita dengan mengusap menggunakan tangan. Membuka baju yang basah dan berlumpur dan dililitkan baju blezer yang dipakai pada balita itu.
"Sudah hangat, jangan menangis lagi ya?" Elfa mendekap balita itu dengan penuh kasih.
Dokter Sintya yang selalu berdua dengan Elfa langsung memeriksa balita malang itu. "Diperiksa sebentar ya, Sayang?"
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Elfa.
"Dia hampir mengalami hipotermia, tolong dekap terus agar suhu tubuhnya normal kembali!"
__ADS_1
"Iya."
Datang laki-laki membawa selimut berlari mendekati Elfa dan Dokter Sintya. Laki-laki berbadan tinggi dan tegap membungkuk dengan sopan, "Neng, ini selimut untuk adiknya!"
"Terima kasih, Pak." Elfa langsung menyelimuti balita itu dan kembali memeluknya.
"Sama-sama, nama saya Pak Jamal. Kalau membutuhkan sesuatu bisa panggil Pak Jamal ya, Neng. atau Ibu Dokter!"
"Baik, Pak. Terima kasih."
Setelah suhu tubuh balita itu menghangat, Elfa bergegas menuju dapur umum. Ingin mengambilkan makan untuk balita yang kedinginan dan belum diketahui namanya.
Pak Jamal mengambil banyak foto baik terang-terangan atau secara diam-diam. Semua kegiatan dan pertolongan yang dilakukan selalu diabadikan. Terkadang sambil bercanda saat mengarahkan kamera mengabadikan momemt.
Hampir dua hari para relawan meng-evakuasi para korban. Terutama yang masih selamat dari bencana. Dan yang tidak selamat langsung dibawa ambulance ke rumah sakit untuk diidentifikasi.
"Neng, Dokter!" teriak Pak Jamal.
Elfa mengurungkan tidak jadi melingkarkan lengan laki-laki itu. Spontan menengok ke belakang mendengar suara Pak Jamal. Ada satu teman Pak Jamal yang ikut berlari mendekat.
"Ada apa, Pak Jamal?" tanya Elfa,
"Sini Pak Jamal saja yang membantu pemuda kasep ini ke posko!"
"Oo baik terima kasih, Pak."
__ADS_1
Elfa dan Dokter Sintya mengikuti korban berjalan di belakang dengan khawatir. Berusaha mengarahkan dengan berbincang memberi nasihat Pak Jamal dan temannya. Pasalnya kaki korban hanya di topang kayu yang diikat agar tidak semakin parah.
Setiap Elfa dan Dokter Sintya turun lapangan, Pak Jamal selalu hadir tanpa absen. Elfa jarang terjun langsung di bagian sembako dan sumbangan. Elfa lebih konsentrasi menyelamatkan korban, sehingga tidak mengetahui ada bantuan dari perusahaan MAHARDIKA CORP.
Sudah empat hari berlalu Elfa fokus membantu bencana tsunami. Tanpa ponsel, tanpa internet dan tanpa bisa berhubungan dengan dunia luar. Minimnya alat komunikasi, mati penerangan dan menara untuk sambungan Internet juga rata dengan tanah.
Ada banyak relawan yang rela berjalan ke pantai yang jaraknya tidak dekat. Hanya untuk bisa mendapatkan Internet dan menghubungi kekasih atau keluarga. Elfa hanya selalu menitip laporan kepada dokter laki-laki satu rombongan yang bertugas melapor setiap hari ke rumah sakit Aljuzeka.
Setiap dua hari sekali, Elfa bersama dokter yang lain sering mengadakan couseling untuk para pemuda dan siapa saja yang mau bergabung. Memberikan motivasi dan dorongan untuk menghadapi bencabna. Memberikan hypnoterapy masal sekali dalam setiap pertemuan.
Tidak lupa Pak Jamal selalu hadir, mengambil foto, terkadang mengabadikan dengan merekam vedia. Ikut juga duduk mendengarkan motivasi khususnya saat Elfa yang tampil di depan. Seolah Pak Jamal adalah korban bencana yang baru saja terjadi.
"Setiap orang pasti tidak siap menerima cobaan, apalagi bencana seperti ini, kehilangan keluarga dan harta benda. Perlu dicatat setiap yang maha kuasa memberikan cobaan pasti sudah diukur dan kita akan mampu melewatinya," ucap Elfa dalam mengawali counseling.
Peserta yang hadir mengangguk sambil berpikir apa yang dikatakan Elfa. Ucapan itu terasa sejuk didengar, peserta muda ataupun tua setuju dengan ucapan Elfa.
"Awalnya memang berat, apalagi kehilangan hal yang sangat beharga. Kita harus bisa`mengikhlaskan, kita bisa membuat melakukan hal yang berharga dengan mengatasnamakan orang terkasih untuk pahala mereka. Mari kita bangkit dan mengumpulkan pahala untuk jalan orang terkasih yang sudah dahulu meninggalkan kita," kata Elfa lagi.
Tepuk tangan bergemuruh dari para peserta, terutama Pak Jamal. Perkataan Elfa langsung masuk di hati dan menusuk jiwa. Rasanya pikiran langsung terbuka dan memiliki semangat untuk berjuang kembali.
Pak Jamal terus merekam dengan menggunakan ponsel canggihnya. Setiap sesi pertanyaan dan jawaban dari peserta tidak lupa juga di rekam. Terkadang pertanyaan mereka keluar jalur dari topik yang sedang dibahas.
Mulai asal daerah, nama, pendidikan sampai status yang ditanyakan. Ada juga yang meminta nomor ponsel bahkan alamat rumah. Yang lebih unik lagi, ada juga yang bertanya tentang kekasih atau pasangan hidup.
Elfa hanya tergelak saat mereka bertanya tentang hal umum. Namun, bingung saat ditanya tentang hal yang lebih pribadi, "Apakah harus dijawab pertanyaan itu?"
__ADS_1
Para peserta menjawab dengan bersahutan. Intinya semua setuju jika Elfa menjawab terus-terang tentang masalah pribadi. Tidak ada seorangpun yang tahu tentang latar belakang para relawan karena memang dirahasiakan.
"Sekarang ini saya masih sendiri, tetapi ...?" Elfa sengaja mengentikan ucapannya.