
Asisiten Dwi Saputra tertawa terbahak-bahak setelah Juan Mahardika bercerita. Bukannya kesakitan di tendang pusaka oleh Elfa, tetapi justru mengalami pelepasan. Seolah Juan Mahardika sedang beraksi padahal hanya saling berhadapan.
"Apa yang Anda rasakan saat ini?"
"Pikiran aku masih marah dan kesal dengan gadis itu, tetapi hatiku tenang dan puas."
Belum sempat Asisten Dwi Saputra menjawab ucapan Juan Mahardika. Ponsel berdering ada panggilan dari bandara. Baru saja menyewa pesawat pribadi untuk pulang ke Indonesia, langsung mendapat jawaban jika pesawat sekarang ini sudah siap.
"Maaf, Tuan. Ini pesawat sudah siap, apakah Anda akan berangkat sekarang?"
"Iya, berangkat sekarang saja."
Berangkat dari apartemen sampai bandara, Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra tetap memakai penyamaran. Setelah sampai di bandara dan masuk pintu pesawat. Mereka langsung membuka penyamaran dan menjadi diri sendiri.
Hanya sayangnya, saat mereka sampai di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Bertepatan pesawat pribadi keluarga Mahardika lepas landas. Sherly Crash kembali ke Australia tanpa mengabari Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra.
"Jadi bagaimana ini, Tuan. Tunangan Anda sudah kembali ke Australia?"
"Biarkan saja, aku sudah tidak berminat mengurus masalah itu."
Tanpa diduga saat keluar dari pintu khusus bandara. Sudah ada yang menunggu yaitu para wartawan dan pencari berita. Dengan terpaksa Juan Mahardika harus menjawab pertanyaan tentang berita yang beredar di media sosial atau di infotaiment.
Tanpa emosi dan marah, Juan Mahardika menjawab santai sambil tersenyum. Masalah pribadi tidak untuk dipublikasi. Senyum yang terus mengembang, melipatkan kedua tangan di dada dan terus menjawab dengan kata andalan yaitu no comment.
Sambil melangkah berjalan beriringan bersama Asisten DwiSaputra, Juan Mahardika tersenyum ramah dan tenang. Asisten Dwi Saputra melihat sikap Juan Mahardika yang terlihat tenang dan cool langsung berbisik, "Saya suka Anda yang sekarang, Tuan."
"Kamu bisa saja."
Satu minggu berlalu berjalan dengan tenang. Juan Mahardika jarang marah dan uring-uringan. Melakukan pekerjaan dengan cepat dan tidak banyak salah.
Tidak juga memerintahkan sang asisten untuk mencari Elfa. Tidak banyak bertanya tentang keluarga pengusaha keturunan Arab itu. Masih menunggu jadwal hari Senin besok untuk melakukan meeting bersama.
Jam istirahat siang, Juan Mahardika sudah tidak sabar berangkat ke perusahaan Papi Alfarizi. Padahal meeting akan dilakukan satu jam lagi, tepatnya pukul dua siang. Mengajak Asisten Dwi Saputra berangkat ke perusahaan itu sekarang.
"Mengapa tidak sabaran, Apakah Anda ingin bertemu dengan Nona El?"
"Tidak lah, takut macet saja," jawab Juan Mahardika sambil memalingkan wajah.
__ADS_1
"Ooo, baiklah."
Sambil tersenyum simpul, Asisten Dwi Saputra melirik Juan Mahardika yang memalingkan wajah. Sangat mudah dibaca dari sorot mata dan gerak-gerik tubuh. Tidak ingin berdebat, labih baik berdoa tuannya bisa berubah dengan seiring waktu.
Saat memasuki ruang meeting bersama Asisten Dwi Saputra dan disambut oleh Asisten Surya. Juan Mahardika melihat dan mendengar Papi Alfarizi sedang vedio call dengan putrinya, "El tidak bisa pulang minggu ini ya, Pi?"
"Kenapa, Nak. Katanya El akan beli mobil lagi?"
"Opa satu minggu lagi ulang tahun, Opa minta El pulang setelah menemani Opa berkunjung di makam Almarhumah Oma Anna."
"Tetapi saat adik Ar ulang tahun, El sudah kembali ke sini, 'kan?"
"Tentu dong, Papi. Adik Arshiya masih bulan depan ulang tahunnya, Abang Al sudah cerita kok acaranya."
"Baik, Nak. Tamu Papi yaitu Tuan Juan sudah datang, Papi meeting dulu ya!"
"Iya Assalamualaikum."
Belum sempat Papi Alfarizi menjawab salam. Ponsel langsung mati dengan cepat. Juan Mahardika hanya tersenyum simbul mendengar percakapan ayah dan putrinya.
'Kamu ini sebenarnya milik siapa sih, dengar suaranya saja terbangun?' batin Juan Mahardika.
Melakukan meeting dengan serius dua jam lamanya. Tanpa ada pertanyaan di luar topik bisnis. Terjadi kesepakatan dua perusahaan dan saling menguntungkan.
"Apakah Anda sudah makan siang, Tuan Juan?" tanya Papi Alfarizi.
"Kebetulan belum sempat," jawab Juan Mahardika sambil tersenyum simbul.
"Ayo temani kami makan di restoran yang ada di depan sana!"
"Tentu dengan senang hati."
Makan siang berempat di restoran kesukaan Papi Alfarizi. Menu opor ayam, sambal terasi ditambah dengan kerupuk udang. Ada juga menu makan Asean food, mengingat Juan Mahardika keturunan Australia.
Sambil menikmati steak daging dengan saos blackpaper di tambah mess poteto sebagai karbohidrat, Asisten Dwi Saputra berbisik di telinga Juan Mahardika, "Harus mulai mencoba masakan lokal asli untuk jaga-jaga, Tuan."
"Apa maksud kamu?" tanya Juan Mahardika dengan berbisik juga.
__ADS_1
"Tidak jadi, Tuan. Lupakan saja."
Waktu berlalu dengan cepat, Awal bulan ini Elfa pulang ke Indonesia. Langsung dijemput oleh Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Mereka langsung menuju show room mobil mewah.
Tanpa diketahui Elfa, show room mobil itu milik tantenya Juan Mahardika. Adik kandung dari Mommy Vera yang bernama Auntie Fira yang dikelola bersama suaminya Marsellino.
Kebetulan Juan Mahardika sedang berbincang bisnis dengan Uncle Marcellino di kantor saat keluarga Zulkarnain datang, "Tuan, keluarga Tuan Al sudah datang," kata salah satu Karyawan.
"Ya saya ke sana!"
"Siapa Uncle?" tanya Juan Mahardika.
"Tuan Alfarizi Zulkarnain."
"Mau beli mobil?"
Uncle Marcellino bercerita satu bulan yang lalu pengusaha keturunan Arab itu memesan satu mobil mewah. Membelikan mobil untuk putri bungsunya. Sebagai ganti mobil yang rusak karena terlindas truk beberapa bulan lalu.
"Uncle tinggal sebentar ya, ini pelanggan istimmewa."
"Silakan, Uncle. Juan tunggu di sini saja."
Juan Mahardika memperhatikan Elfa dari dalam kantor Uncle Marcellino. Kantor yang menggunakan kaca yang gelap dan hanya bisa terlihat dari dalam sangat menguntungkan. Dengan leluasa Juan Mahardika mengawasi gerak-gerik Elfa yang terlihat cantik dalam balutan celana jeans dan kaos distro.
Mobil sudah dipesan Elfa satu bulan yang lalu oleh Papi Alfarizi. Hari ini hanya akan melakukan pembayaran secara kontan. Kali ini mobil dengan fasilitas yang super mewah itu desain Elfa sendiri.
"Bagaimana aku bisa menemui kamu, El?" monolog Juan Mahardika sendiri sambil terus memperhatikan Elfa sedang mencoba mobil barunya.
Tanpa diduga seolah Juan Mahardika langsung mendapat jawaban. Elfa berlari ke arah belakang, "Papi, El ke toilet sebentar ya!"
Dengan tersenyum devil, Juan Mahardika bergegas ke luar kantor dan menyusul Elfa. Tanpa ragu masuk toliet wanita yang terlihat sepi. Berdiri disamping pintu sambil menunggu Elfa keluar.
Elfa keluar tanpa melihat kanan dan kiri, berjalan keluar tanpa menyadari ada orang di belakangnya, "Astagfirullah!" teriak Elfa saat di tarik tangannya dan langsung masuk dekapan Juan Mahardika.
"Lepaskan El. Brengsek!"
__ADS_1