Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 79. Black Card


__ADS_3

Elfa tidak jadi menjawab pedagang daging karena Juan Mahardika menjawab dengan mengacungkan jempol. Dengan mengangguk pedagang itu percaya saja kode yang ditunjukkan oleh sang pemilik hati. Tidak memperdulikan Elfa yang melotot dengan tatapan mata horor.


Bahkan di tanya berapa bulan dengan menggunakan bahasa Jawa Juan Mahardika menjawab dengan menunjukkan dua jari telunjuk dan jari tengah.


"Akak!" teriak Elfa kesal.


"Selamat Mas Londo, aku beri diskon khusus untuk calon bapak yang sedang ngidam!" teriak Pedagang Daging.


"Alhamdulillah, rezeki untuk calon Mommy cantik," jawab Juan Mahardika sambil mengedipkan mata.


"Akak, iiih bikin kesel aja!" capit kepiting Elfa mendarat di perut Juan Mahardika.


"Aaaa sakit, ampun EL ampun Sayang!" Juan Mahardika meringis, tetapi sambil tersenyum.


Elfa baru melapas cubitan tangan karena dipanggil sayang. Mengerucutkan bibirnya karena selalu saja merayu dan berbuat macam-macam padahal kondisinya tidak baik-baik saja. Ada saja bahan untuk modus walau tidak sesuai kenyataan.


"Mau berapa kilo dagingnya, Mbak?" tanya Pedagang Daging.


"Dua kilo."


"Ini saya timbang jadi dua kilo setengah karena bonus khusus bapak yang sedang ngidam."


"Matur suwun," jawab Juan Mahardika.


"Waaah Mas Londo pinter boso Jowo."


Karena El kesal belum membayar daging yang dipesan langsung meninggalkan tempat penjual daging, "Pak, sing bayar Mas Londo ya, matur suwun."


"Sami-sami, Mbak. Mugo-mugo bayine sehat terus."


"Aamiin," Jawab Juan Mahardika sambil mengeluarkan dompet membayar daging dengan empat lembar uang merah bergambar Soekarno dan Mohammad Hatta.


"Mas, angsule durung!" teriak Pedagang Daging karena Juan Mahardika berlari menyusul El setelah mengambil dading yang baru saja di timbang.


"Kanggo sampean wae!" Juan Mahardika menjawab berteriak sambil berlari.


"Londo kok aneh boso Jowone kaku," celetuk Pedagang ikan yang mendengar bahasa Jawa yang diucapkan Juan Mahardika.


Selama di Ngawi, Juan Mahardika jarang sekali bertemu dengan makanan yang cocok di lidah. Tidak terbiasa makan dengan menu nasi yang membuat susah untuk menyesuaikan diri. Keluar dari pasar, ada restoran kecil yang menu andalannya sate, gulai dan tongseng kambing.


"El, Akak boleh makan sate atau tongseng kambing di restoran itu?"


"Boleh saja, Apakah Akak lapar?"


"Iya, gara-gara tadi muntah bau pasar, sekarang Akak lapar banget."


"Ayo, El temani. Asal jangan macam-macam seperti tadi!"

__ADS_1


Juan Mahardika hanya nyengir kuda sambil mengangguk, "Maaf, Akak hanya bercanda."


Rata-rata kuliner di desa harganya lebih murah dibanding di kota. Disamping karena bahan baku yang mudah di dapat. Sebagian besar porsi dari menu makanan yang dijual lebih kecil dibanding yang dijual di kota.


Juan Mahardika memesan satu porsi sate, satu porsi tongseng dan satu porsi gulai. Hanya sayangnya porsi menu makan yang dipesan disajikan di mangkuk ukuran kecil. Jika dinikmati tanpa menggunakan nasi terilhat hanya sedikit saja.


Elfa makan satu porsi sate saja sudah terasa kenyang. Namun, bagi Juan Mahardika satu mangkuk kecil tongseng langsung tandas tanpa sisa dalam beberapa suapan saja.


"El mangkuknya kecil banget, sudah habis baru beberapa suap saja."


"Akak mau tambah lagi?"


"Iya, El mau lagi?"


"Tidak, El sudah kenyang. Sana Akak pesan sendiri!"


Tidak tanggung-tanggung Juan Mahardika memesan empat porsi tongseng kambing. Ukuran mangkuk tongseng yang lebih kecil dari mangkuk bakso. Membuat Juan Mahardika harus memesan dalam jumlah banyak.


"Banyak betul pesannya, Akak. Apakah Akak bisa mengabiskan semua?"


"Insyaallah, Akak jarang menemukan menu makan yang cocok sesuai lidah."


Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, Empat mangkuk tongseng kambing tandas tanpa sisa. Ditambah satu gelas es jeruk juga langsung habis setelah di teguk. Tongseng yang cenderung manis dari kecap sangat cocok di lidah JuanMahardika.


"Enak kah?"


"Enak banget, El mau Akak pesankan?"


Juan Mahardika mengeluarkan uang warna merah bergambar Soekarno dan Mohammad Hatta lima lembar. Ingin membayar semua makanan yang di pesan.


Bayangan Juan Mahardika harga makanan di desa sama dengan harga di kota. Apalagi kebiasaan makan di restoran ternama dengan harga yang mahal. Tidak mengetahui harga kuliner di desa sangatlah murah.


"Eee banyak betul uangnya, Akak mau pesan lagi?"


"Ini buat bayar pesanan yang baru saja Akak pesan."


"Coba tanyakan berapa sama Bapak pedagangnya sana!"


"Iya, El duduk di sini dulu!"


"Hhmm."


Juan Mahardika mendekati pedagang tongseng kambing yang sedang melayani pelanggan, "Pak, kulo bayare pinten?"


"Tongseng harganya lima belas ribu kali lima mangkok, gulai dan sate dua puluh ribu per porsi."


"Ha ...!" Juan Mahardika tercengang dengan harga yang sangat murah.

__ADS_1


"Semua seratus lima belas ribu." Kembali Pedagang tongseng menghitung semua menu makan yang sudah dipesan.


Dua lembar uang langsung diserahkan kepada pedagang tongseng, "Ora usah angsul, Pak"


"Matur suwun, Mas. semoga ditambah rezekinya."


"Aamiin."


Elfa masih berkeliling berbelanja keperluan sehari-hari hanya di toko luar pasar saja, tanpa masuk pasar lagi. Termasuk belanja keperluan keluarga Bude Marmi. Belanjaan hampir tiga kardus penuh karena untuk keperluan satu bulan ke depan.


"Akak saja yang bayar."


"Emang Akak punya uang cash, ini banyak lo. Kalau di desa jarang yang memiliki Qiris?"


"Bisa kok di gesek, coba lihat di sana. Ini El saja yang bayar!" Juan Mahardika menyerahkan black card miliknya.


"Baiklah."


Elfa memberikan kartu milik Juan Mahardika untuk membayar semua belanjaan. Kasir langsung menggesek kartu dan mengisi nominal belanjaan, "Silahkan nomor pin, Mbak!"


"Tunggu sebentar!" Elfa mendekati Juan Mahardika dan berbisik di telinganya, "Nomor pin berapa?"


"Hari lahirnya Garwoku."


"Idih, dari mana Akak tahu?"


"El itu belahan jiwa Akak, apa yang ada di diri El semua Akak tahu, sana bayar dulu belanjaannya!"


Elfa tidak menjawab rayuan Juan Mahardika. Mendekati kasir dan menekan pin yang diminta oleh kasir. Setelah selesai membayar, kartu langsung dikembalikan, "Ini Kartunya, Akak."


"El saja yang pegang!"


Elfa menggelengkan kepala, "El punya banyak begitu, tidak usah."


"El, please. Jangan tolak dong, ini nafkah dari seorang suami kepada istri tercinta!"


Mulut Elfa mengerucut sampai lima centimeter, "Baru calon belum istri."


"Akak akan sangat bahagia kalau Garwaku mulai sekarang memenuhi kebutuhan dari suami, ini bentuk perwujudan dan bukti Akak mengobati sakit hati yang El rasakan di masa lalu."


"Mengapa harus sekarang, nanti saja kalau sudah menikah?"


"Sekarang saja ya, please!"


Elfa mengambil napas panjang sambil melihat wajah Juan Mahardika yang terlihat sendu. Dari kemarin selalu memohon dan berusaha tanpa mengenal lelah. Ingin sekali-kali menyenangkan sedikit hati yang selalu memuja.


"Baiklah, El terima, tetapi kalau tidak El pakai jangan marah ya?"

__ADS_1


"Iya pegang saja, ini juga, ini juga dan ini juga!" Juan Mahardika tidak hanya memberikan satu black card, tetapi ada lima kartu dari produk bank yang berbeda.


Belum sempat Elfa menerima kartu dari Juan Mahardika, ada suara notifikasi pesan WA masuk dari Alfian Alfaizi. Bergegas membuka dan membacanya, "Cepat pulang, Abang ingin bertemu dengan calon suami El sekarang?"


__ADS_2