Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 143. Bertemu Dokter Yohan


__ADS_3

Elfa berdiri ingin pergi ke toilet agar dua suami tidak curiga, "El saja yang menyusul Rey, kebetulan El juga pingin buang air kecil."


"Di mana toiletnya sih, Sayang?"


"Ada di luar supermarket sini, Akak."


"Ayo Akak antar!"


"Eeee, Akak mau ikut masuk toilet wanita?"


Juan Mahardika belum sempat menjawab pertanyaan Elfa. Datang Rena berlari dari pintu supermarket dengan membawa paper bag besar. Keringat bercucuran di wajah dan badannya, "Rey sudah datang, tidak perlu dicari."


"Mengapa lama banget sih, Rey?" Asisten Dwi Saputra dan Elfa bertanya bersamaan.


"Maaf, tadi setelah dari toilet ada penggalangan dana di depan pintu gerbang mall."


"Penggalangan dana apa?" tanya Asisten Dwi Saputra.


Rena bercerita ada satu kelompok kecil anggota perguruan silat sedang menggalang dana. Ada anggota mereka yang putranya terkena penyakit hedrosepalus di kepala. Tidak memiliki biaya untuk operasi padahal kepala itu semakin hari semakin besar.


Setiap orang yang memberikan donasi cukup besar akan diberikan tanda terima kasih berupa boneka beruang. Boneka itu hasil buatan orang tua bayi yang terkene hedrosepalus. Karena orang tua bayi berprofesi sebagai penjahit boneka.


Awalnya penggalangan dana itu sepi dan tidak banyak yang memberikan donasi. Rena langsung masuk arena dengan memperagakan kemampuan beladiri dengan menggunakan tongkat Kebetulan ada tongkat panjang yang dibawa oleh salah satu anggota perguruan silat.


Yang membuat orang tertarik dan melihat Rena beraksi karena Rena menggunakan celana levis dan kaos distro. Namun Rena bergerak dengan lincah dan sangat menarik. Perpaduan antara beladiri dan kemampuannya menggerakkan tongkat, membuat penonton berdecak kagum.


Banyak pengunjung mall yang tertarik dan melihat aksi Rena. Banyak juga yang memberikan sumbangan dan mendapatkan hadiah boneka. Kurang dari setengah jam Rena beraksi, kotak tempat sumbangan sudah terisi penuh.


Sebagai tanda terima kasih, Rena diberikan boneka beruang yang paling besar. Awalnya Rena menolak karena diberi hadiah boneka. Mereka memaksa dengan alasan untuk kenang-kenangan.


"Jadi isi paper bag itu boneka beruang?" tanya Elfa.


"Iya, ini coba lihat!" Rena mengeluarkan isi paper bag dan mengeluarkan boneka.


Elfa mengambil dan memeluk boneka yang lembut dan menggemaskan. Juan Mahardika langsung mendekati Elfa dan mengusap kepala beruang, "Iiiih, lucu banget bonekanya, Akak juga mau peluk dong, Sayang."


"Idih, Akak suka boneka?"


"Dulu Akak tidak suka, tetapi sekarang melihatnya kok lucu ya?"


"Ya sudah ini, Akak saja yang peluk!"

__ADS_1


Asisten Dwi Saputra hanya tersenyum tipis melihat Juan Mahardika yng memeluk boneka beruang. Terlihat aneh dan lucu, wajah bule badan kekar, tetapi selera unyu-unyu. Tidak menyangka orang bisa bertingkah aneh dan hanya bisa menebak kemungkinan tuannya itu sedang ngidam.


Elfa mendekat ke telinga Rena dan berbisik, "Cerita Rey tadi betul atau cuma alasan?"


Rena tersenyum sambil melirik dua suami, "Betulan dong, kalau tidak percaya ayo kita ke sana!"


"Terus yang tadi, bagaimana?"


"Nanti saja Rey ceritakan."


Elfa langsung tergerak hatinya mendengar cerita Rena itu bukan hanya alasan semata. Ingin ikut membantu orang tua yang sedang kesusahan mencari biaya operasi putranya. Berharap mereka masih berada di sana agar bisa memberikan bantuan.


"Akak, ayo ke depan, El mau ikut menyumpang donasi untuk bayi itu!"


"Iya, ayo berangkat nanti keburu mereka bubar!"


"Akak ada uang cash berapa?"


"Ada banyak di tas, silakan ambil sendiri!"


Sampai di sana anggota perguruan silat itu masih menggalang dana. Melihat Rena mereka langsung menyapa dengan membungkukkan badan sambil melipat kedua tangan di dada. Rena tersenyum dan ikut memberikan hormat untuk para anggota perguruan silat.


Elfa langsung mengambil satu gepok uang warna merah bergambar presidan dan wakil Indonesia di tas milik suami. Dimasukkan di kotak yang dipegang salah satu anggota perguruan silat.


"Akak mau yang ungu?"


"Iya, Sayang. Warna cantik banget."


"Ya sudah."


Setalah melihat pertunjukan dan memberikaan donasi. Elfa langsung mengajak untuk kembali ke resort. Ingin segera mendengar cerita Rena tentang orang yang dicurigai.


Asisten Dwi berjalan dengan langkah panjang setelah Elfa mengajak untuk pulang. Berjalan beriringan dengan Juan Mahardika di depan. Sedangkan, Elfa dan Rena berjalan beriringan perlahan di belakang.


"Siapa yang Rey cari tadi?" tanya Elfa sambil berbisik.


Belum sempat menjawab pertanyaan Rena, ponsel Elfa berdering kencang, "Tunggu sebentar, Rey. El lihat dulu ada pesan WA masuk!"


"Baiklah, Rey tunggu!"


Elfa membaca pesan yang di kirim olah Alfian Alfarizi. Abang kandung memerintahkan untuk mampir ke rumah sakit Aljuzeka jika sudah pulang ke Jakarta. Dokter Atha sudah mempersiapkan tempat khusus untuk Elfa.

__ADS_1


Dengan cepat Elfa menjawab semua sudah dipersispkan oleh suami. Termasuk tim dokter khusus yang mengikuti setiap perjalanan kali ini. Berpesan agar tidak khawatir karena suami sudah mempersiapkan dengan lengkap bahkan nanny atau pengasuh bayi pun sudah di persiapkan.


"Sudah Rey, katakan sekarang!"


"Tadi Rey melihat Dokter Yohan Garnett keluar dari supermarket."


"Dokter Yohan, bukan Kris yang Rey lihat?"


"Iya dokter itu selesai belanja untuk donasi anak kurang gizi bersama dengan dokter lain."


"Kok Rey tahu untuk anak kurang gizi?"


"Rey mengikuti mereka sampai di puskesmas yang kebetulan ada di belakang mall ini."


Tanpa terasa berjalan sampai parkiran, "Nanti sampai rumah saja jelaskan lebih rinci!" perintah Elfa.


Dalam perjalanan pulang Elfa termenung teringat dokter yang dulu mengejarnya. Sudah berkali-kali dokter itu berada dalam satu kota yang sama. Walau seolah dokter urologi itu tidak pernah bisa mendekati, tetapi seperti ada kesengajaan mengikuti.


Tidak hanya Dokter Yoyan Garnett yang menjadi misteri. Krisnawati juga selalu menghilang tanpa jejak. Seolah antara Dokter Yohan Carnett dan Krisnawati saling berhubungan.


'Ada apa sebenarnya, Kris dan Dokter Yohan mengapa seolah mereka saling berkaitan?' monolog Elfa dalam hati.


Setelah sampai di resort, dua suami kembali membahas pekerjaan di ruang tamu. Elfa dan Rena duduk di pinggir kolam renang yang berada di belakang resort. Kembali bercerita tentang Dokter Yohan Carnett yang baru di lihat.


"Cepat lanjutkan ceritanya, Rey?"


"Baiklah, Dokter dan rombongan langsung masuk ke puskemas dan membagikan kepada anak-anak yang sudah menunggu bersama ibunya."


"Rey tahu di mana mereka tinggal?"


"Rey bertanya pada salah satu pegawai puskesmas, katanya mereka menyewa resort dekat sini."


"Waduh, Rey tidak tanya di mana tepatnya?"


"Sudah, tetapi justru pegawai puskesmas itu bercerita yang lain."


"Cerita apa, Rey?"


"Dokter Yohan di Bali ini bersama istrinya."


"Dokter Yohan sudah menikah?"

__ADS_1


"Iya, katanya istrinya orang Indonesia."


__ADS_2