
Elfa bergegas mengambil air putih miliknya yang tadi sudah diminum satu teguk. Langsung diminumkan kepada Juan Mahardika menggunakan tangannya sendiri. Tanpa sadar Juan Mahardika menggenggam tangan Elfa yang sedang memegang gelas.
"Seharusnya kalau belum tahu caranya tanya dulu, jangan sok tahu!" Elfa langsung menarik tangannya sendiri sambil cemberut.
Ingin tertawa tetapi takut dosa, tidak ditrertawakan terlihat lucu. Elfa dan keluarga hanya tersenyum melihat Juan Mahardika yang masih merasa kepedesan. Dengan terpaksa Elfa berdiri dan mengambil satu gelas susu yang berada di kulkas.
"Ini minumlah untuk mengurangi rasa pedas di mulut!" Elfa menyodorkan satu gelas susu.
Dengan sengaja Juan Mahardika hanya memajukan mulut, menenggak langsung tanpa memegang gelas dengan tangan sendiri. Matanya melirik Elfa yang kembali cemberut karena tahu betul jika memang disengaja.
"Terima kasih, duduklah dan cepat makan nanti keburu dingin!"
"Hhmm."
Elfa kembali duduk dan menikmati makan sambil menunduk. Enggan memperhatikan Juan Mahardika yang masih bingung melihat menu garang asem ayam kampung. Semakin kesal karena selalu saja memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Ayo dilanjutkan makannya, Mas Londo!" perintah Pakde Sarto.
"Injih terima kasih, Pakde."
Juan Mahardika bergeser mendekati Elfa, "Ini ayam pedas tidak?"
"Menurut El sih tidak pedas, tidak tahu kalau Akak."
"Boleh coba punya El satu suap?"
Elfa langsung memberikan satu sendok nasi dengan satu potong kecil ayam. Menyuapkan ke mulut Juan Mahardika dengan tangan sendiri. Juan Mahardika menerima suapan dengan tersenyum dan mengedipkann mata.
"Eeee ...?" Elfa tersadar apa yang dilakukan.
"Aduh, mesra banget!" celetuk Bude Marmi.
"Kalau dari tangan El kok rasanya tidak pedas ya?" rayu Juan Mahardika sambil kembali mengedipkan mata.
"Modus," jawab Elfa kesal.
"Akak boleh minta nasi, El?" Dengan ditambah nasi rasa pedas terasa berkurang.
"Hhmm." Elfa langsung mengambil satu centong penuh nasi putih."
"Terima kasih."
__ADS_1
Selesai makan bersama, Juan Mahardika diajak Pakde Sarto untuk menempati kamar tamu yang berada di samping ruang tamu. Kamar sederhana yang terdiri dari tempat tidur, lemari dan kipas angin. Tidak ada AC atau fasilitas elektronik lainnya.
"Kamar Mas Juan di sini, silahkan kalau mau istirahat. Sebentar lagi kita sholat magrib berjamaah di mushola ya?"
"Injih, Pakde."
Di dalam kamar walaupun kecil, tetapi ada fasilitas kamar mandi yang berada di pojok kamar. Terlihat bersih dan nyaman di gunakan. Juan Mahardika mandi dan membersihkan badan dengan fasilitas seadanya.
Menggunakan sarung, baju koko, dan peci setelah selesai mandi. Juan Mahardika memerlukan lebih dari sepermpat jam untuk memakai sarung dengan benar. Keluar kamar setelah senja berlalu masuk waktu magrib.
Mushola berada di samping ruang makan bersebelahan dengan kamar Elfa. Keluarga besar selalu melakukan ibadah berjamaah. Termasuk Elfa juga selalu ikut sholat berjamaah bersama keluarga.
Elfa ke luar kamar bersamaan Juan Mahardika berjalan menuju mushola, "Subhanallah!" teriak Elfa kaget terpana melihat penampilannya
Wajah Juan Mahardika terlihat lebih teduh dan bersahaja. Terlihat semakin tampan memakai baju muslim dan sarung. Semakin terlihat wajah oriental keturunan Australia.
"Apakah Akak terlihat sangat tampan?" tanya Juan Mahardika mengagetkan Elfa yang masih tertegun.
"Iiii narsis, jangan mendekat bukan muhrim."
"Tidak, Akak tahu tidak boleh bersentuhan nanti wudlunya batal. Ayo keburu iqomah!"
"Ha!" Elfa semakin kaget mendengar ucapannya.
Juan Mahardika spontan menghentikan langkahnya saat melihat Elfa berjalan sambil termenung, "El ...!" teriaknya.
"Astagfirullah," jawab Elfa ikut menghentikan langkah sambil memegang dada.
"Jangan sambil melamun kalau jalan, tidak perlu dipikirkan dari dulu Akak JM ini memang sangat tampan."
"Idih, gelo!" Elfa meninggalkan Juan Mahardika masuk mushola.
Datang Bude Marmi berjalan tergesa-gesa ingin masuk Mushola. Melihat Juan Mahardika yang berpenampilan siap beribadah, "Eee Mas Londo, Bude kira ada bule kesasar?"
"Bude ini, sama menantu sendiri lupa sih," jawab Juan Mahardika sambil tersenyum.
"Iya Bude sampai kesemsem, sayangnya Bude sudah tua. Coba kalau masih muda bukan jadi menantu, Bude ajak nikah sekarang juga."
Juan Mahardika kembali tergelak mendengar ucapan Bude Marmi. Masuk mushola berdiri bersama keluarga yang lain. Berkonsentrasi untuk mulai melakukan ibadah.
Untung selama beberapa hari ini sudah mulai belajar tentang agama. Belajar tentang keyakinan yang dulu pernah ditanyakan oleh Papi Alfarizi. Bertekat menjadi lebih baik agar bisa layak untuk Elfa.
__ADS_1
Di saat waktu luang dan teringat Elfa, Juan Mahardika memilih belajar dengan membaca cara melakukan ibadah. Hati mulai bisa tenang dan bisa mengendalikan emosi. Yang awalnya ibadah demi kekasih hati, kini menjadi kebutuhan dan keyakinan yang nyata.
Selalu bisa mengendalikan emosi saat Elfa marah dan jutek. Bersabar dan tersenyum jika keinginan hati belum bisa terwujud. Hanya berharap akan cepat terwujud seiring waktu.
Selesai sholat, Juan Mahardika tidak langsung keluar mushola. Dengan terus-terang meminta bimbingan Pakde Sarto untuk belajar agama. Menceritakan tentang keluarga dan niatnya menikahi Elfa suatu saat nanti.
"Tentu saja akan Pakde bantu, tetapi harus berniat belajar sungguh-sungguh bukan hanya untuk bisa menikah dengan keponakan Pakde!"
"Iya, Pakde. Juan ingin menjadi suami yang terbaik untuk Elfa, mohon bimbingannya."
"Bagus kalau begitu, nanti saja setelah acara panen raya mulai belajarnya."
"Mengapa tidak sekarang saja, Pakde?"
"Tidak bisa, malam ini ada rapat panitia tentang acara panen raya besok. Kamu harus hadir sebagai wakil Mas Onta Arab."
"Mengapa harus Juan?"
"Setiap tahun acara selalu dihadiri oleh papi dan maminya El. Sekarang kamu yang harus mewakili karena mereka tidak bisa hadir."
"Seharusnya El yang berhak untuk mewakili, Pakde."
"Ayo ikut rapat panitia saja, nanti kamu akan diberikan pengarahan oleh panitia."
"Baik, Pakde. Juan ganti baju dulu."
"Tidak perlu, Mas Onta Arab kalau di sini ya seperti kamu itu penampilannya. Ayo berangkat!"
Juan Mahardika keluar mushola mengikuti Pakde Sarto dari belakang. Berjalan sambil melihat kanan dan kiri mencari gadis yang selalu membuat hati bergetar. Tidak ditemukan baik di ruang keluarga, ruang tamu atau ruang makan.
Pakde Sarto yang mengetahui Juan Mahardika mencari Elfa, langsung menunjuk arah luar, "Itu El ada di luar!"
"Ooo iya, Juan pamit sama El sebentar."
Tanpa menunggu jawaban dari Pakde Sarto, Juan Mahardika mendekati Elfa yang sedang duduk berbincang dengan keluarga, "El ...!"
"Ya, ada apa?"
"Akak diajak Pakde Sarto rapat panitia acara panen raya, El mau ikut?"
"Tidak, yang rapat sebagian besar bapak petani dan bau rokok."
__ADS_1
"Betulkah? Tidak usah ikut kalau begitu, El di rumah saja dan tunggu Akak pulang!"
"Ogah."