Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 7. Berhasil Kabur Lagi


__ADS_3

Elfa dan Atin bingung sesaat karena mendengar suara kunci pintu yang diputar. Ada suara sayup-sayup dua security sedang berbincang. Menambah waktu membuka pintu lebih lama dari biasanya


Elfa bertidak cepat dengan meletakkan teralis besi itu di lantai bawah cendela tanpa suara, "Cepat letakkan di bawah!" perintah Elfa.


"Baik ...  Kak."


Dengan susah payah teralis besi itu didorong masuk kolong tempat tidur menggunakan kaki. Menarik korden untuk menutupi cendela agar tidak terlihat jika teralis sudah terlepas. Menyalakan lampu agar terang dan tidak menjadi perhatian orang yang akan masuk kamar.


Elfa bergegas memakai atribut yang dikenakan sebagai seorang perias pengantin seperti saat masuk villa, "Atin cepat bantu buka koper kosmetik itu!"


"Ok siap Kak El."


Koper yang awalnya berada di bawah cendela. Diangkat dan diletakkan di atas tempat tidur. Dibuka kopernya dan sedikit diacak agar terlihat selesai di pakai.


"Atin cepat duduk di pinggir tempat tidur!"


"Iya ... apa yang bisa Atin bantu lagi?"


"Kamu pakai bando itu dan Kak El akan membersihkan wajah!"


Bersamaan Elfa membersihkan wajah Atin menggunakan tonner, pintu terbuka lebar. Ada dua security yang satu membawa nampan menu makan untuk calon pengantin. Ayah kandung Atin juga ikut masuk berjalan beriringan dengan salah satu security yang membawa air mineral.


"Silahkan makan dulu, pak penghulu belum datang, katanya pukul enam atau tujuh baru bisa datang!" Security meletakkan nampan di atas meja.


"Ooo jadi merias pengantin diundur?" tanya Elfa.


"Iya biarkan dia makan terlebih dahulu," jawab salah satu Security yang memegang nampan.


"Baiklah ... silahkan makan dulu!" perintah Elfa kepada Atin.


Atin tidak menjawab perintah security. Hanya diam seribu bahasa sambil melirik ayahnya. Ayah Atin langsung duduk disamping Atin dengan tatapan mata yang tajam.


"Cepat makan dulu, Ayah tahu Atin dari tadi pagi belum makan!"


Atin hanya mengangguk saja, tetapi tidak turun dari tempat tidur. Tidak merasa lapar walaupun belum makan dari tadi pagi. Tidak ada nafsu makan walaupun menu makan yang dibawa terlihat menggugah selera.


Elfa berkali-kali melirik mata dua security. Memperhatikan gerak-gerik mereka takut mendekati cendela. Berharap dan berdoa dalam hati agar mereka tidak mengelilingi kamar.


Untuk mengalihkan perhatian dan agar ayah kandung Atin tidak memaksakan kehendaknya. Elfa mendekati security, "Pak ... bagaimana dengan saya?"


"Tenang saja, kamu di sini temani calon mempelai. Akan ada uang tambahan untuk kamu setelah akad nikah selesai."

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih."


"Ya sudah ... Ayah tunggu di luar ya!"


Pintu kembali dikunci dari luar, setelah dua security dan ayah Atin keluar kamar. Elfa dan Atin bernapas dengan lega karena tidak ketahuan. Mereka tidak mencurigai apa yang telah dilakukan sesaat mereka masuk kamar.


"Ayo Kak, cepat, Atin tidak mau lama-lama di sini!"


"Ayo bantu untuk membuka kaca cendela itu!"


Dengan perlahan dan pasti satu persatu paku yang mengunci kaca terlepas. Ada batas kayu kecil untuk pengaman kaca bisa dilepas setelah paku dibuka dengan obeng listrik. Kaca cendela yang tebal akan terasa berat jika diangkat dengan posisi berdiri.


"Atin ... awas berat pegang kuat-kuat kaca ini!"


"Sudah ini, Kak. Kak El tenang saja."


Setelah semua paku terlepas dengan perlahan kaca diturunkan dan diletakkan di atas tempat tidur, "Hati-hati ... jangan sampai terlepas!"


"Iya ...."


Dengan berjingkrak dan bertepuk tangan, Atin langsung mengeluarkan kepalanya di cendela yang sudah tidak ada kaca dan teralis besi. Elfa langsung menarik Atin dengan cepat, "Nanti dulu Atin!"


"Kenapa sih, Kak?"


"Maaf Atin sudah tidak sabar lagi."


Elfa melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri. Tanpa terasa waktu sudah hampir senja. Sebentar lagi gelap setelah matahari menghilang dibalik awan.


"Saat gelap saja kita ke luar dari sini."


"Iya ... Atin ikut Kak El saja."


Sambil menunggu gelap, Elfa kembali melihat arah luar. Ingin mematangkan rencana yang di susun di awal tadi. Sambil mengawasi sekitar area taman dengan teliti.


Menunggu waktu berlalu terasa sangat lama. Rasanya bumi berhenti berputar padahal senja sudah mulai terlihat. Namun seolah waktu enggan untuk berlalu.


"Ayo kita siap-siap!" ajak Elfa setelah mengintip luar sudah terlihat gelap.


Kamar dibiarkan gelap tanpa dinyalakan lampunya. Kaca cendela masih tetap di tempat tidur. Sengaja ditutupi selimut agar tidak terlihat.


Elfa mengambil koper kosmetik miliknya. Memasukkan alat yang tadi digunakan untuk membobol cendela. Memeriksa sekali lagi area luar yang terlihat sepi tanpa ada orang.

__ADS_1


Hanya ada lampu temaram yang ada di tengah taman. Akan sangat menguntungkan karena tidak akan terdeteksi jika keluar dengan hati-hat, "Ayo ... Atin lompat duluan!"


Cendela tidak terlalu tinggi, hanya degan satu kali melangkah saja mereka sudah berada di luar kamar. Berjalan dengan berjinjit sambil menengok kanan dan kiri. Suasana sepi dan temaram membuat mereka leluasa melangkah.


Sampai pinggir pagar, Elfa langsung naik di kursi taman yang ada di dekat pagar. Melempar koper kosmetik miliknya ke luar pagar. Walau ada suara yang terdengar, tetapi tidak terdengar keras.


"Atin ... Kak El melompat duluan, kamu nanti naik kursi ini!"


"Atin takut, Kak."


"Nanti Kak El bantu."


Dengan sekali lompat Elfa sudah berada di seberang pagar. Baginya mudah saja melewati pagar. Karena sejak kecil selalu ikut latihan Bang Alfian bela diri.


"Atin cepat," bisik Elfa sambil mengulurkan tangannya.


Atin naik kursi dan mengulurkan kedua tangannya. Dengan ditarik Elfa dan kaki bertumpu pada sandaran kursi. Atin berhasil melompat tanpa hambatan.


"Alhamdulillah, ayo kita cepat pergi dari sini!"


Sementara di dalam villa mulai mempersiapkan tempat acara pernikahan sirri. Ayah Atin masih duduk menunggu di ruang tamu bersama security yang berjaga didepan pintu kamar. Menunggu penghulu yang sebentar lagi datang.


Waktu akad nikah kurang lima belas menit akan segera di mulai. Penghulu datang dengan diantar oleh security yang berjaga di depan pintu gerbang. Persiapan sudah selesai tinggal menunggu calon pengantin wanita berdandan.


Juan mahardika turun dari lantai atas dengan pakaian jas lengkap, "Bagaimana sudah siap semuanya?"


"Sudah semua, Tuan. tinggal menunggu calon mempelai berdandan."


"Apakah sudah selesai?"


"Saya belum tahu, Tuan. Tadi sore saya sudah memerintahkan perias pengantin agar selesai tepat waktu."


"Cepat panggil dia sekarang!"


"Baik ... Tuan."


Security bergegas membuka pintu perlahan. Tidak menyangka kamarnya gelap gulita tanpa ada penerangan sedikitpun, "Lo kok gelap sih?" tanya salah satu Security itu.


"Cepat lampunya nyalakan!" perintah Security satu lagi.


Setelah lampu terang tidak ditemukan dua wanita yang tadi di kamar, "Tuan ... mereka tidak ada di kamar!" teriak Security.

__ADS_1


"Aaaah... brengsek!"


  


__ADS_2