Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 151. Tangisan Pilu Bertiga


__ADS_3

Elfa langsung berdiri dan mendekati kaki Kris yang digerakkan perlahan. Elfa tersesnyum sambil melihat Juan Mahardika yang berdiri di samping, "Akak, tolong panggil tim dokter dan Rena!"


"Tentu saja, Sayang. Akak panggil mereka sekarang."


Hanya dalam waktu kurang dari lima menit tim dokter, Rena dan suami beserta Juan Mahardika datang. Memandang Kris yang baru membuka mata. Wanita hamil itu melihat sekeliling dengan bingung.


"El, Rey. Apakah Kris masih mimpi?" tanyanya sambil melihat setiap orang yang mengelilingi tempat tidur satu per satu.


"Kris tidak mimpi, jangan banyak bergerak dulu. Dokter Emy silahkan periksa sekarang!" perintah Elfa.


"Baik, silakan yang lain mundur dulu!" perintah Dokter Emy.


"Akak dan Asisten Dwi ke luar saja dulu!"


"Jangan marah pada dia, Akak ke luar dulu," bisik Juan Mahardika sambil mengecup pipi Elfa.


"Hhmm."


"Ok siap, kita ke luar dulu yok Tuan!"


Dokter Emy mulai memeriksa Kris dari kehamilan terlebih dulu. Pemeriksaan mendengarkan detak jantung bayi. Tensi darah, denyut nadi bahkan sampai warna bola mata.


Dokter Emy hanya memeriksa tanpa kata. Semua dilakukan dengan cepat dan tepat bekerja sama dengan bidan dan dua suster. Catatan medis sudah lengkap, hasilnya hampir sama seperti pemeriksaan tadi pagi.


Elfa dan Rena hanya memandang Kris yang diperiksa dengan teliti. Terdiam dan mengikuti setiap gerakan tangan tim dokter. Masih memendam semua pertanyaan dalam hati sampai menunggu pemeriksaan selesai.


"Apa yang Anda rasakan, Nyonya?" tanya Dokter Emy.


Kris hanya menggeleng sambil melirik Elfa dan Rena yang masih memandang dengan lekat. Tahu betul dua sahabatnya itu sangat marah padanya. Dalam hati masih bingung mengapa bisa di kamar yang berbeda dengan orang yang berbeda pula.


"Apakah bisa Anda duduk sebentar, Nyonya?" tanya Dokter Emy.


"Hhmm." Kris berusaha bangun dengan dibantu oleh dua Suster.


"Mohon izin untuk membuka gaun hamilnya, Nyonya?" Bidan membuka dan menyingkap gaun milik Kris dari belakang.


"Eee ...!" Kris tidak jadi melanjutkan ucapannya saat Suster membuka salep dan duduk di belakang Kris.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, tolong di tahan sedikit kalau perih ya!" Suster mengoles perlahan luka yang ada di pinggung Kris.


Kris mengangguk sambil menggigit bibir. Terkadang digerakkan perlahan punggungnya karena menahan perih. Tanpa sadar air mata meleleh keluar sendiri sambil melirik Elfa dan Rena yang terus memandang tanpa kata.


Saat luka yang masih baru dioleskan salep oleh suster, air mata Kris semakin menetes deras. Kris tidak berani berucap atau mengeluh sedikit pun, hanya bisa menahan dengan menggigit bibir. Elfa dan Rena tanpa sadar juga ikut menangis meneteskan air mata.


Walau awalnya dalam hati Elfa dan Rena marah. Setelah melihat Kris menahan sakit tanpa kata, dua sahabat menjadi tidak tega. Dengan spontan tiga sahabat langsung berpelukan, "Maafkan Kris, El. Maafkan Kris, Rey," ucapnya sambil tergugu dengan menyayat hati.


Di belakang diobati, di depan samping kanan dan kiri berpelukan semakin erat. Seolah menyalurkan derita jiwa hanya dengan berpelukan. Ketiganya semakin tergugu dan tangisan semakin pilu.


Tidak hanya Elfa dan Rena yang ikut terbawa emosi, tim dokter juga meneteskan air mata. Walau tanpa tahu apa masalahnya, jika melihat luka yang ada di punggung. Pasti semua orang akan merasa sakit dan ikut menangis.


Suster selesai mengoleskan salep dan menutup botol salep serta mengembalikan gaun hamil Kris seperti semula. Elfa dan Rena melepas pelukannya setelah gaun ditutup kembali dengan rapi. Mengusap air mata masing-masing masih tanpa kata.


"Anda ingin tetap duduk atau mau berbaring, Nyonya. Akan saya bantu?" tanya Suster.


Kris hanya memberikan kode dengan melambaikan tangan. Sudah terbiasa melakukan sendiri pekerjaan apapun. Mencoba bergaring perlahan tanda bantuan siapa pun.


Barus aja punggung itu menempel pada tempat tidur, punggung terasa perih yang tidak tertahankan. Ingin menahan sakit itu seperti biasa tidak kuat, "Auaw, sssstt!" desis Kris perlahan.


"Suster, Berikan bantal untuk bersandar pasian, jika perih tandanya obat sudah beraksi, Noynya."


"Ada lagi yang perlu diperiksa, Dok?" tanya Elfa.


"Untuk sementara cukup, Nyonya. Jika pesawat sudah landing, saya sarankan agar pasien untuk di USG sehingga kesehatan bayinya bisa diperiksa dengan lengkap."


"Siap, terima kasih, Dok."


"Sama-sama kami permisi."


"Suster bisa minta tolong antar makanan untuk pasien, Anda bisa berkoordinasi dengan pramugari!" perintah Elfa.


"Baik, Nyonya."


Elfa membetulkan bantal yang untuk bersandar Kris. wajah Kris semakin pucat karena menahan sakit dan perih luka yang baru saja di obati dengan salep. Obat salep paten dengan harga selangit itu untung ada dan tersedia di kotak obat yang dibawa oleh apoteker.


"Di mana Kris sekarang ini, El?"

__ADS_1


"Jangan banyak tanya, lebih baik makan dulu. Akan banyak memerlukan tenaga yang kuat Kris sekarang ini, makanlah dulu yang kenyang sebelum kami sidang!" perintah Elfa dengan tegas.


Kebetukan dua suster datang membawa menu makan yang memiliki gizi seimbang. Ditambah susu hamil rasa coklat sesuai susu kesukaan Kris.


"Ini silahkan makan terlebih dahulu, Nyonya. Setelah itu jangan lupa minum obat!"


"Iya."


Kris dengan patuh menikmati satu piring nasi, sayur bayam dan daging rendang sesuap demi suapan sambil menunduk. Seolah sedang makan dan diawasi oleh mandor yang sangat galak. Dua sahabat kompak hanya diam saja menunggu sampai selesai makan.


Kris sudah bisa menebak pasti banyak sekali pertanyaan yang akan diajukan nanti. Niatnya untuk bersembunyi dan tidak ingin merepotkan dua sahabat kini gagal sudah. Hanya bisa melirik dua sahabat yang terus memandang tanpa berkedip.


Kris sendiri masih bingung sekarang ini berada di kamar siapa. Saat mau tidur malam itu berada di kamar utama resort yang ada di Bali. Namun, kamar yang ditempati saat ini sangat mewah dan perlengkapan yang modern.


Kris hanya bisa melirik sekeliling kamar yang ada foto besar menggantung di dinding kamar di samping televisi. Tidak mengenal sama sekali wajah gadis yang tersenyum manis.


Tanpa terasa satu menu nasi di piring ludes berpindah ke perut semua. Hanya tinggal satu gelas susu yang belum di minumnya. Sebenarnya ingin mengulur waktu atau berpindah ke dunia yang lain agar bisa mengindari pertanyaan dua sahabat. Dalam satu tenggak saja susu coklat yang dihidangkan sudah habis tenpa sisa.


"Sini Rey yang meletakkan piring di atas meja."


"Terima kasih, Rey."


"Mau kami sidang atau bercerita sendiri?" tanya Elfa.


"Maafkan Kris, sebelum bercerita Kris hanya ingin bertanya satu aja."


"Katakan!" perintah Elfa lagi.


"Saat ini Kris berada di mana?"


"Kris ada di pesawat pribadi suami El yang dalam perjalanan menuju Australia."


"Australia, mengapa ke sana dan di mana ...?"


"Cukup, Kris. Tidak boleh ada pertanyaan lagi, El ingin mendengar cerita sekarang!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


Yok mampir di novel teman yang rekomen ini



__ADS_2