
Juan Mahardika tersenyum setelah mendengar goegle translate dari ucapan Pakde Sarto. Hati seolah mendapatkan oase di tengah gurun pasir yang gersang. Padahal baru dikatakan calon suami, rasanya sudah melayang ke langit ke tujuh.
Dalam hati ingin merentangkan tangan menyambut Elfa datang dari dalam rumah. Ingin mendekap dalam pelukan dan mencium harum parfum yang khas ada padanya. Hanya sayangnya itu hanya dalam bayangan saja dan berharap suatu saat nanti akan terjadi.
Elfa membelalakkan mata mendengar suara Pakde Sarto yang berteriak dari luar pintu. Tidak menyangka laki-laki brengsek itu bisa datang menyusul. Apalagi dengan menyebut jika laki-laki itu calon garwo yang artinya calon suami.
Yang membuat semakin kesal dan marah melihat Juan Mahardika berdiri sambil tersenyum tanpa merasa bersalah. Elfa datang dan berjalan sambil menggerutu dan cemberut tanpa ada senyum sedikitpun.
"Matur suwun, Pakde." Elfa langsung menarik tangan Juan Mahardika ke luar rumah.
"sami-sami, Nak."
Yang ditarik tangannya tersenyum sambil mengangguk meminta izin kepada Pakde Sarto yang berdiri terpaku. Anak tiri dari Almarhumah Nenek Ani kaget melihat Elfa yang terlihat marah. Diikuti pertanyaan keluarga yang terdengar bersahutan yang tidak dihiraukan oleh Elfa.
"Ngapain Akak ke sini?" tanya Elfa sampai di teras rumah sambil melepaskan tangan Juan Mahardika.
"Akak sangat merindukan El." Senyum mengembang Juan Mahardika karena dipanggil Akak.
Elfa menarik napas panjang dan menghembuskan dengan kasar. Teringat Abang Alfian yang marah, teringat nasihat mami dan papi. Apa jadinya jika mereka tahu ada tamu yang tidak diundang.
"Sana pulang lagi, El tidak mau Abang dan Papi marah sama El!" Elfa ingin meninggalkan Juan Mahardika masuk ke rumah.
"Akak sudah izin Mami dan Papi yang ada di Riyadh."
"Apa?" tanya Elfa kaget.
"El jangan khawatir, seandainya Akak babak belur lagi dipukuli oleh Abang Al pasti Akak akan terima dengan tersenyum. Bahkan, Asisten Surya yang membantu Akak ke sini."
Elfa tertegun bukan karena cerita Juan Mahardika, tetapi bingung karena laki-laki itu memanggil papi, mami dan Abang Al dengan sok akrab. Apalagi tadi mendengar jika keluarga mengira Juan Mahardika adalah calon suami.
"Mengapa Akak mengaku calon suami El?"
"Eee jangan salahkan Akak, itu Pakde Sarto yang bilang bukan Akak."
"Tahu aaah, bikin kesel aja, sana Akak pulang!"
__ADS_1
Belum sempat Juan Mahardika menjawab, Bude Marmi datang dari dalam rumah mendekati Juan Maardika. "Cah Bagus, kenalke aku Bude Marmi, opo kowe calon bojone El?"
"Injih. Bude." Juan Mahardika menjawab sambil mencium punggung tangan Bude Marmi dan tidak lupa melirik Elfa yang semakin kesal.
"Walah, El, bapakmu wong Arab lan calon bojomu wong londo."
Elfa bergeser mendekati Juan Mahardika dan berbisik di telinga, "Memangnya Akak tahu artinya?"
"Tahu dong, wong Londo itu artinya orang Belanda, Akak memakai Ear phone goegle translate."
"Iiii curang."
"I love you, calon garwoku."
"Jangan ngarep. El mau masuk."
Baru saja dua langkah diayunkan, Bude Marmi memanggil. Terpaksa Elfa menghentikan langkahnya, "El, ojo ditinggal Mas Londo!"
Juan Mahardika kembali tersenyum bergegas mendekati Elfa, "Mas Londo ojo ditinggal, kangen banget karo El," kata Juan Mahardika dengan bahasa Jawa yang terdengar kaku.
"Ayo Mas Londo diajak makan dulu, El!" perintah Pakde Sarto.
"Iya, Pakde."
"Alhamdulillah," ucap Juan Mahardika.
Elfa hanya melirik Juan Mahardika yang berucap syukur. Tidak bertanya karena selalu saja laki-laki itu menunjukkan perubahan yang membuatnya kaget. Ingin bertanya atau mengomentari perubahan itu, tetapi diurungkan karena tidak ingin memperpanjang masalah.
"Akak dari kemarin tidak merasa lapar, setelah bertemu El sekarang baru terasa lapar," bisik Juan Mahardika di telinga Elfa.
"Gombal, jangan mengeluh kalau makanan di sini tidak sesuai ekspektasi."
Juan Mahardika mengangguk sambil tersenyum. Dari awal mau ke Ngawi sibuk dengan mempelajari adat, kebiasaan, bahasa dan keyakinan. Tidak sama sekali mempelajari kuliner dan makanan khas daerah.
Elfa langsung menarik kursi ruang makan. Panjang meja makan lebih dari dua meter. Keluarga besar langsung bergabung untuk menemani tamu makan.
__ADS_1
Juan Mahardika ikut duduk di samping Elfa. Terpaku melihat seluruh keluarga bergabung dan duduk di tempat masing-masing. Sambil bercanda dan berbincang yang sebagian besar menggunakan bahasa Jawa.
Menu masakan yang tersaji di meja makan hampir seluruhnya asing bagi Juan Mahardika. Kebiasaan makan dengan menu westren dan jarang makan menu masakan Indonesia. Membuat Juan Mahardika tiba-tiba menunjukkan wajah yang aneh seolah hilang selera makannya.
"El, ayo ambilkan Mas Londo!" perintah Bude Marmi.
"Injih, Bude."
Elfa tersenyum devil sambil melirik Juan Mahardika. Sedikit mulai mengenal makanan kesukaan laki-laki yang duduk di sebelah. Jarang menikmati masakan asli Indonesia apalagi yang bercita rasa pedas.
Di meja makan ada beberapa menu masakan khas Ngawi. Mulai dari garang asem ayam kampung, pecel dengan bermacam sayuran dan sambal kacang yang bedas. Ada juga sambal tumpang yang terbuat dari tempe sudah terfermentasi sempurna atau tempe semangit.
"Akak mau makan salad asli Indonesia, garang asem ayam atau sambal tumpang?"
"Apa itu, Akak tidak tahu?"
"Salad asli Indonesia yang ini di sini disebut pesel, garang asem ayam kampung yang ini dibungkus menggunakan daun pisang. Dan satu lagi ini sambal tumpang dari tempe yang sudah di fermentasi sempurna?"
"Pesel dan ayam saja," jawab Juan Mahardika masih terlihat bingung.
"Tidak pakai nasi?"
"Tidak."
Elfa mengambilkan sayuran yang sudah direbus. Daun melinjo, kacang panjang, bayam dan cambah. Sambal kacang diletakkan di pinggir sayuran dengan tujuan jika terlalu pedas tidak harus dinikmati semua.
Mengambil satu piring kosong lagi untuk garang asem ayam kampung yang terbungkus daun pisang. Dibuka dengan menarik lidi yang disematkan di daun pisang sebagai pengikat. Di letakkan di depan Juan Mahardika yang masih bingung cara memakannya.
Juan Mahardika langsung menikmati pecel menggunakan garpu. Yang pertama dinikmati sayuran tanpa sambal. Walau rasanya hambar tetapi terasa sangat nikmat karena dari bahan sayuran yang segar.
Elfa tidak memperhatikan Juan Mahardika yang sedang menikmati salad asli Indonesia alias pecel. Elfa sedang mengambil satu bungkus garang asem ayam kampung favoritnya ditambah satu centong nasi putih hangat. Baru ingin menikmati menu makan yang diambil tersentak kaget karena mendengar Juan Mahardika yang membuka mulutnya karena kepedesan.
Laki-laki pimpinan MAHARDIKA CORP itu belum pernah makan pecel sebelumnya, tidak tahu cara makan pecel yang seharusnya dicampur sambal baru dinikmati. Setelah makan sayuran pecel yang terakhir dinikmati adalah sambalnya. Sehingga mulutnya terasa panas karena rasa pedas sambal kacang.
"El kok pedas sekali!" teriaknya.
__ADS_1