
Efa tersenyum melihat Juan Mahardika bingung menunggu sambal kacang. Walau dinamakan pecel lele, dalam hidangan tidak ada sambal kacangnya. Hanya ada sambal terasi atau sambal tomat saja ditambah dengan lalapan.
"Dalam pecel lele ini tidak ada sambal kacangnya, Akak."
"Mengapa begitu, setahu Akak yang namanya pecel itu menggunakan sambal kacang sebagai bahan utamanya?"
Elfa bercerita Pecel lele awal mulanya berasal dari Lamongan Jawa Timur. Ternyata pecel lele awalnya bernama pecek lele. Pecek adalah istilah yang digunakan warga Jawa Timur untuk cara menghidangkan makanan dengan cara dipenyet atau digeprek kemudian diberi sambal.
Pecek lele banyak di jual di Jakarta, masalahnya, ada pula makanan khas Betawi yang bernama pecak. Yaitu hidangan ikan tawar yang digoreng atau dibakar dan disiram kuah santan dengan bumbu campuran cabai dan kemiri. Untuk menghindari kemiripan nama yang berakibat salah persepsi, maka pedagang pecek lele mengganti nama menu mereka menjadi pecel lele.
"Jadi ini makannya hanya di cocol sambal dan dengan lalapan sayuran ini?" tanya Juan Mahardika setelah selesai mendengar cerita Elfa.
"Iya, silahkan Akak coba!"
Juan Mahardika memotong ikan yang garing dan renyah. Dicocol ke sambal hanya sedikit dan langsung dimakan, "Wauw, gurih dan sedikit asin ditambah sambal rasanya enak banget."
Elfa menikmati kerang yang berbumbu saus padang. Sensasi makan kerang lebih nikmat menggunakan tangan langsung. Kerang yang sudah terbuka sedikit dibuka dan langsung dilahap. Rasanya sangat kenyal dan lembut serta gurih saat di kunyah.
"Akak tidak mencoba kerang saus padang?"
"Tidak, Akak sering makan itu. Akak suka lele saja deh, nanti Akak pesan lagi ya yang ini Akak habiskan?"
"Iya, silakan saja."
Sedang asyik menikmati sea food tiba-tiba ada yang duduk dan bergabung di depan Juan Mahardika, "Selamat malam, Tuan."
"Selamat malam, apakah Anda sengaja menemui saya?" tanya Juan Mahardika.
"Tidak, saya kebetulan melihat Anda di sini."
Elfa yang tidak mengenal orang yang baru saja duduk di hadapannya langsung berbisik kepada suami, "Siapa dia, Akak?"
"Ooo perkenalkan, Sayang. Dia mantan pengacara Dokter Yohan Carnett.
"Selamat malam, Nyonya. Salam kenal."
__ADS_1
"Selamat malam." Elfa hanya melipat kedua tangan di dada.
"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin bertanya atas nama pribadi, apakah Nyonya Kris sudah melahirkan?"
"Sudah," jawab Juan Mahardika singkat.
"Di mana ...?" Mantan pengacara dokter urologi itu tidak melanjutkan ucapannya karena di stop oleh Juan Mahardika.
"Maaf, Pengacara. Kami tidak bisa memberikan keterangan lebih tentang Kris karena ini tetang keselamatan seorang ibu dan bayinya."
"Saya faham, Tuan. Sebenarnya saya hanya penasaran saja. jangan khawatir berita ini tidak akan sampai kepada dokter itu karena saya sudah dipecat."
Menu makan kerang milik Elfa sudah habis dinikmati. Elfa memilih diam dan tidak bertanya apapun pada pengacara itu. Hanya memperhatikan gerak dan gestur tubuh mantan pengacara yang terlihat rilkes.
"Saya dipecat karena tidak bisa menemukan keberadaan teman Anda, Nyonya." Pengacara memilih berkomunikasi dengan Elfa.
"Apa maksud Anda, saya yang menjadi penyebab dipecat?" tanya Elfa dengan jutek.
"Tidak, saya hanya bercerita saja, justru saya bersyukur karena ibu dan bayinya tidak saya temukan, saya sudah lelah sering dimaki-maki oleh dokter urologi itu selama saya menjadi pengacaranya."
"Saya berdoa semoga teman Anda terhindar dari dokter gila itu untuk selamanya."
"Aamiin," jawab Juan Mahardika dan Elfa hampir bersamaan.
"Baik saya pamit, terima kasih."
Setelah mantan pengacara Dokter Yohan Carnett meningglakn meja. Juan Mahardika membayar semua menu yang dipesan. Membayar menggunakan black card dan pulang ke rumah dengan perasaan lega.
Sehari, dua hari, dan hari-hari berlalu Elfa semakin berkurang pergerakannya. Sampai dua bulan berlalu semakin bertambah besar dan perkembangan bayi sehat sesuai usia kehamilan. Elfa hanya tinggal menunggu hari melahirkan tiba.
Saran dokter untuk sering menengok twin baby untuk membuka jalan lahir selalu dilakukan oleh Juan Mahardika. Walau Elfa jarang mengimbangi permainan mesum suaminya. Prinsip buka sendiri, masuk sendiri dan tutup lagi setelah selesai yang selalu dikatakan Elfa saat suami mesumnya beraksi.
Juan Mahardika semakin protektif dan hampir dua puluh empat jam selalu ada di samping Elfa. Pekerjaan hanya dilakukan lewat online. Akan meeting juga menggunakan zoom saja saat meeting dengan rekan bisnis yang ada di luar negeri.
Selalu melayani apa yang dibutuhkan dan diperlukan istri tercnita. Hanya melihat Elfa berjalan saja rasanya sudah capek sekali. Merasakan betapa lelah mengandung apalagi saat hamil tua seperti ini.
__ADS_1
Tiinggal menunggu hari Elfa mengalami penambahan berat badan lebih dari lima belas kilogram sebelum hamil. Tidak hanya kaki yang terlihat besar. Pipi terlihat cabi dan lengan terlihat lebih berisi.
Terkadang perut terasa ke bawah, terkadang ada pergerakan satu ke kanan dan satu ke kiri. Twins baby seolah sedang berkelahi di dalam sana, sesaat kemudian anteng mungkin sedang beristirahat.
Tidak hanya Juan Mahardika yang siaga penuh. Nany Sofia dan tim dokter juga dua puluh empat jam stand bye. Koper perlengkapan bayi juga sudah siap sedia sewaktu-waktu akan melahirkan.
Menunggu hari serasa bertambah nano-nano perasaan dalam hati. Ada rasa tidak sabar ingin segera menyambut twins baby lahir. Ada juga rasa khawatir dan cemas menunggu hari demi hari yang terasa menegangkan.
Disamping berdoa dan berolah raga kecil dengan berjalan kaki, Elfa sering mendengarkan murotal lewat media sosial. Pikiran terasa tenang dan tidak cemas saat mendengar suara merdu qori membaca Qalam Ilahi. Twins baby sering anteng saat Elfa perpikiran tenang, santai dan rileks.
Juan Mahardika sering memberikan terapi pada kaki Elfa setiap ada kesempatan, tetapi tanpa plus-plus. Semakin waktu Juan Mahardika semakin khawatir melihat kepayahan istri tercinta dalam keadaan hamil tua.
"Kakinya kok seperti tegang begini sih, Sayang?"
"Entahlah, tetapi tidak sakit kok, pijit aja perlahan."
"Coba bengkaknya pindah di kaki Akak saja!"
"Mana bisa, bagaimana cara pindahnya?"
Juan Mahardika hanya tersenyum mendengar jawaban Elfa. Mengusap perut Elfa denagn lembut, "Nanti sakitnya pindah ke Daddy saja ya, Nak. Kasihan Mommy mengandung kalian sudah sembilan bulan!"
"Maksud Akak saat melahirkan Akak yang merasakan sakitnya?"
"Iya, Akak saja yang sakit, Elfa yang melahirkan."
"Ya Allah ya Rob semoga El melahirkan tidak sesakit seperti yang Elfa baca di artikel dan cerita orang."
"Aamiin," jawab Juan Mahardika sambil menengadahkan tangan.
Belum saja menurunkan tangan tiba-tiba perut Juan Mahardika terasa melilit. Wajahnya terlihat aneh saat menahan sakit. Langsung berdiri merasa ingin pup secepatnya, "Sayang, Akak sakit perut mau pup sebentar!" teriaknya sambil berlari.
"Hhmm."
Setelah lima menit berlalu Juan Mahardika kembali lagi, "Perut Akak bohong, setelah sampai kamar mandi hilang sakitnya."
__ADS_1
"Kok bisa?"