
Dokter Yohan Charnett menghentikan langkahnya dan langsung menengok ke arah belakang. Suara bariton yang tidak asing baginya apalagi berasal dari negara yang sama. Kaget dan tidak menyangka laki-laki itu datang dengan mengaku pujaan hati hanya miliknya.
"Tuan Juan Mahardika," ucap Dokter Yohan Charnett terpana sambil menutup mulutnya.
Dokter itu tidak berani maju selangkah pun karena dijaga oleh Pak Jamal dan salah satu temannya. Juan Mahardika melenggang masuk tanpa memperdulikan dokter yang sedang bingung. Di belakangnya ada Asisten Dwi Saputra dan empat pengawal dengan berbadan tegap berhenti di depan pintu tenda.
Disambut dengan ramah oleh tiga laki-laki teman Pak Jamal yang berdiri di depan pintu tenda, "Silakan masuk, Tuan!" kata Mereka sambil membungkukkan badan.
Sampai di dalam tenda, relawan wanita dan Dokter Ratna juga membungkukkan badan hormat, "Selamat datang dan silakan, Tuan."
Juan Mahardika memandang Elfa sedang kedinginan sambil memejamkan mata. Walau berselimut tebal tetap saja badannya bergetar. Keringat mengucur deras dan badan terlihat lemah.
Tanpa Ragu Juan Mahardika menggendong bridal Elfa tanpa kata. Elfa kaget saat badannya melayang dalam dekapan. Matanya terbuka melihat Juan Mahardika, tetapi tidak berdaya karena badan terasa lemah.
Badan Elfa masih berselimut tebal saat Juan Mahardika mendekap dan berjalan keluar dari tenda. Melangkah sambil terus memandang waja Elfa yang pucat pasi. Mulut tersungging senyuman berjalan tanpa melihat arah depan.
Elfa tidak bisa bergerak, tidak mampu untuk melawan dan tidak ada daya untuk berucap. Badan terasa menggigil, keringat dingin mengucur deras dan terasa pegal seluruh badan.
Elfa memilih untuk memejamkan mata saat terus dipandang oleh Juan Mahardika. Rasa tidak berdaya hanya bisa pasrah tidak tahu akan dibawa ke mana. Tidak perduli lagi yang akan dilakukan oleh laki-laki yang menggendong.
Pak Jamal dan empat temannya mengikuti Juan Mahardika dari belakang. Dokter Yohan Charnett hanya terpaku dan terpana tanpa kata. Tidak berani mengikuti CEO tampan dan terkenal di negara sendiri.
Pak Jamal berjalan sambil teringat semua yang dilakukan selama menjadi relawan. Harus menjaga Elfa dengan taruhan nyawa atas perintah Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra. Harus melapor minimal sehari sekali tentang kegiatan yang dilakukan Elfa.
__ADS_1
Saat kedatangan rombongan relawan dan Dokter Yohan Charnett, Pak Jamal harus bekerja keras karena memiliki tugas dobel. Dari Juan Mahardika dan tugas sebagai relawan bencana. Terkadang harus berlari menuju pantai untuk melaporkan tentang yang dilakukan Dokter Yohan Charnett.
Ketika Elfa sakit, Pak Jamal harus bolak-balik berlari ke pantai untuk mencari sinyal agar bisa melaporkan keadaan Elfa. Maka itulah beberapa kali Pak Jamal terlihat bermandikan keringat dan napas terengah-engah. Harus terus berlari agar semua tugas terselesaikan dengan cepat.
Tengah malam tadi, Pak Jamal terpaksa harus mendengarkan omelan dan amukan Juan Mahardika. Bukan karena kesalahan yang dilakukan karena medan yang sulit untuk pendaratan helikopter. Dengan terpaksa Pak Jamal membayar orang untuk menyiapkan lokasi dadakan untuk membuat helikopter mendarat di piung-puing bekas bencana.
Perintah Juan Mahardika akhir-akhir ini hampir tidak masuk akal. Membuat Pak Jamal jungkir balik mengerjakan semua dengan cepat. Sampai harus mengerahkan lebih dari lima puluh orang untuk mempersiapkan pendaratan helikopter di lokasi dekat tenda Elfa.
Hanya berjarak setengah kilo saja helikopter itu mendarat dari posisi tenda Elfa. Juan Mahardika terus berjalan sambil menggenddong bridal Elfa. Matanya tidak pernah lepas dari wajah pucat gadis yang membuatnya hampir tiga tahun ini seperti roller couster.
Asisten Dwi Saputra harus membuka jalan dan menerangi jalan yang masih gelap karena waktu menjelang subuh. Sang Asisten hampir dua hari tidak tidur karena melaksanakan perintah tuannya yang hampir tidak masuk akal. Terutama satu hari ini setelah Juan Mahardika mendengar Elfa terkena penyakit malaria.
Asisten Dwi Saputra harus mendadak membeli helikopter dalam hitungan dua jam saja. Harus merubah kamar kabin di pesawat pribadi milik keluarga Mahardika menjadi rumah sakit pribadi yang memiliki perlengkapan canggih lengkap dengan tenaga medisnya. Semua dilakukan hanya dalam waktu tiga jam saja harus sudah selesai.
Sampai di depan helikopter lamunan Asisten Dwi Saputra berakhir setelah mendengar teriakan Juan Mahardika, "Jamal, Dwi!"
"Iya saya, Tuan!" Yang dipanggil menjawab bersamaan.
"Jamal, kamu lanjutkan perintahku jangan sampai bocor terdengar oleh siapapun termasuk dokter brengsek itu!"
"Siap laksanakan, Tuan."
"Dwi, laksanakan rencana selanjutnya!"
__ADS_1
"Siap!"
Juan Mahardika duduk sambil memangku Elfa langsung memasang sabuk pengaman. Asisten Dwi Saputra dan empat pengawal duduk di belakang tuannya. Helikopter langsung lepas landas menuju bandara.
Hanya dalam setengah jam helikopter mendarat di Bandara dan dekat pesawat pribadi milik keluarga Mahardika. Rombongan langsung masuk pesawat. Lepas landas menuju tempat yang sudah direncanakan.
Elfa langsung mendapatkan menanganan medis oleh dokter ahli. Dengan cepat pemasangan jarum infus, obat paten untuk malaria. ditambah dengan sedikit obat tidur agar pasien bisa istirahat dengan tenang.
Setelah semua tim dokter keluar kamar, termasuk Asisten Dwi Saputra. Juan Maharka duduk di pinggir tempat tidur memandang wajah Elfa dengan lekat. pikirannya melayang memikirkan yang dilakukan akhir-akhir ini.
Mulai dari peristiwa selera berondong sampai sekarang mata susah diajak terpejam. Selalu melakukan hal di luar nalar dan pikiran. Semua hanya karena gadis yang terlelap di depannya.
Apalagi setelah setiap hari menerima laporan dari Pak Jamal. Mulai dari kegiatan sehari-hari Elfa sampai sesi hypnoterapi masal yang dilakukan setiap dua hari sekali. Sesi itu yang selalu ditunggu oleh Juan Mahardika.
Setiap melihat sesi pertemuan yang di kirim langsung oleh Pak Jamal menjadi sebuah vedio. Seolah Juan Mahardika sedang berada ditengah-tengah sesi itu. Mengikuti dan melakukan semua yang Elfa katakan tanpa kecuali.
Seolah saat ini Juan Mahardika sedang kecanduan Elfa. Setiap hari hanya menunggu kiriman foto dan vedio dari Pak Jamal. Jika tidak bisa tidur akan selalu mengulang-ulang melihat sesi motivasi.
Semakin hari hati Juan Mahardika semakin terpaut pesona Elfa. Semakin pikirannya menolak, tetapi hatinya semakin dipenuhi dengan wajah dan aksi Elfa. Kebaikan Elfa sedikit demi sedikit merasuki otak tanpa bisa di kendalikan.
Sambil melamun, tangan Juan Mahardika mengusap pipi Elfa yang lembut. Mengusap bibir mungil itu berkalli-kali. Gadis itu masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Perlahan Juan Mahardika merebahkan tubuhnya di samping Elfa. Melingkarkan tangan di pinggang Elfa sambil memejamkan mata. Mata, hati dan pikiran kini seolah mulai bersatu ditambah pusaka kebesaran terbangun sendiri.
__ADS_1
"Aku lelah, kamu jangan bangun dulu. Ayo kita tidur dulu!" perintah Juan Mahardika pada pusaka miliknya sendiri. Tanpa terasa Juan Mahardika tertidur pulas sambil memeluk Elfa.