Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 220. Tertangkap Basah


__ADS_3

Bagi orang awam dan tidak mengenal bela diri mungkin tidak mendengar gerakan kaki yang terdengar pelan. Seperti Juan Mahardika tidak mengetahui di mana langkah kaki itu berhenti. Namun, bagi Elfa yang sudah berpetualang di dunia bela diri suara langkah kaki yang bersembunyi dibalik pagar hidup dengan mudah mengenali.


Jarak dari seseorang yang mengikuti tidak lebih dari tiga meter. Kemungkinan seseorang itu berjongkok sambil mengawasi. Pagar pohon hidup terlihat rimbun, tetapi masih ada celah untuk melihat walau cahaya hanya temaram saja.


Ada kayu papan kecil panjang yang berada di depan Elfa yang panjangnya kurang lebih tiga meter. Elfa membayangkan akan berlatih bela diri menggunakan alat galah panjang. Biasanya panjangnya lima meter lurus dan bentuknya bulat dan halus permukaannya.


Dengan di capit dua telapak kaki bagian dalam. Kedua kaki diangkat dengan melopat keatas. ditangkap dengan tangan kanan dan dilempar melewati tengah pagar hidup. Hanya sayangnya harus melewati tubuh Juan Mahardika, "Akak, menunduk!" teriaknya.


Kayu papan kecil panjang itu melesat cepat melewati pagar hidup. Kebetulan tepat mengenai bok*ng seseorang yang sedang jongkok dam mengintip, "Aauw, bok*ngku!" teriaknya sambil berjingkrak.


Elfa tergelak sambil ber-yes ria dengan menggerakkan tangan, "Yes, tepat sasaran!"


Juan Mahardika yang awalnya menunduk langsung ikut tergelak sambil mengacungkan jempolnya, "El memang yang terbaik, ayo kita dekati dia!"


Seseorang yang tersodok kayu itu terus mengusap bok*ngnya berkali-kali. Bahkan, berjingkrak sambil memutarkan badan sehingga Elfa dan Juan Mahardika kesulitan mengenal wajahnya. Hanya bisa mengenali suara seorang laki-laki yang merasa kesakitan.


"Jonny ...!" teirak Juan Mahardika.

__ADS_1


"Brengs*ek, mengapa istrimu menyodok bok*ngku?"


Juan Mahardika tidak menjawab pertanyaan Jonny Evans, tetapi tertawa terbahak-bahak. Laki-laki mantan Kris itu terlihat lucu ekspresi wajahnya. Seperti seorang aki-aki tua yang membungkuk memutar mencari kaca mata yang terjatuh.


Elfa tertawa sambil menutup mulut dan tidak bersuara. Walau sudah lama tidak berlatih bela diri, tetapi kemampuan tidak bisa di pandang sebelah mata. Bisa mengarahkan kayu kecil panjang tepat mengenai bok*ng itu dengan keras.


"Salah sendiri mengapa mengikuti kami diam-diam!"


"Apa salahku, aku hanya mengikuti kalian saja?"


"Teman macam apa kamu ini, Juan? sakit sekali bok*ongku."


"Bodo amat, jangan mengikuti kami lagi, kalau tidak ingin kayu itu menembus sampai barang berhargamu!"


"Waduh!"


"Ayo, Sayang. Tinggalkan dia!"

__ADS_1


Juan Mahardika tertawa lepas sambil menggandeng tangan Elfa. Berjalan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Jonny Evans yang masih kesakitan. Seolah Juan Mahardika bahagia di atas penderitaan teman.


Masuk villa pun, masih tertawa lepas teringat tingkah lucu Jonny Evans. Malam ini mendapat hiburan gratis dari penderitaan teman lama. Kali ini tertawa tidak takut dosa karena sebenarnya hanya iseng dan tidak berniat menyakiti.


"Coba kita rekam kejadian tadi dan kita kirim kepada Kris, Akak!"


"Waah ide bagus itu, kita lihat saja dari CCTV."


"Akak saja yang ke ruang CCTV dan minta tolong security. El mau ke kamar twins baby dulu!"


"Baiklah, setelah selesai nanti akan Akak kirim ke nomor ponsel El."


"Iya di tunggu."


Juan Mardika memerintahkan security untuk mengambil rekaman dari CCTV yang mengarah ke jalan raya. Walau awalnya terlihat hanya samar-samar. Dengan cara di zoom akhirnya rekaman itu bisa terlihat jelas.


Tidak hanya Kris yang dikirim rekaman CCTV yang baru saja terjadi. Elfa juga mengirim kepada Rena dan Henry Alexander. Semua yang dikirim rekaman itu tertawa dan memberikan jempolnya kepada Elfa.

__ADS_1


__ADS_2