Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Ban 73. Melayang Karena Diperhatikan


__ADS_3

Juan Mahardika semakin Khawatir setelah seluruh penumpang dari tiga mobil itu turun dari mobil. Mereka sebagian besar memegang buah tangan yang kemungkinan untuk hantaran seserahan pengantin. Pikiran dan hati mulai memikirkan hal yang tidak dan belum tentu terjadi.


Bude Marmi datang dan tersenyum melihat rombongan tamu yang datang. Bergegas Juan Mahardika mendekati Bude Marmi dan berdiri di sampingya, "Siapa mereka, Bude?"


"Mereka tamunya Mbah Darmi, rumahnya ada di belakang."


'Mengapa parkirnya di halaman sini, membuat Juan takut saja?' Untungnya pertanyaan itu hanya dalam hati saja.


"Ayo monggo-monggo, lewat kene wae!" Bude Marmi mengajak rombongan lewat gang antara rumah dan garasi mobil, "Injih, matur suwun." Mereka menjawab bersamaan.


Juan Mahardika mengusap dada merasa lega karena yang ditakutkan tidak terjadi. Berjalan gontai masuk rumah yang diharapkan ternyata tidak datang. Sambil melihat kembali pesan WA yang dikirim kepada Elfa.


Berjalan sambil tersenyum setelah melihat pesan itu ternyata sudah terbaca. Melihat status masih online dan berharap ada jawaban segera.


"Kalau tidak segera dibalas, akan Akak telpon ya, bikin khawatir saja?" monolog Juan Mahardika sendiri sambil berjalan ke kamar.


Tiba-tiba ada suara notifikasi pesan WA masuk setelah baru saja menutup ponsel. Dengan tersenyum dibuka kembali berharap Elfa yang menjawab pesan. Namun, sayangnya bukan dari dia, tetapi dari Asisten Dwi Saputra mengirim email soal pekerjaan.


"Bikin kesel saja sih." gerutu Juan sambil membuka email.


Email belum sempat dibaca, ada notifikasi pesan WA dari Elfa. Email tidak jadi dibaca dan tentu saja memilih untuk membuka WA dari pujaan hati. Masalah perusahaan pasti bisa diatasi oleh Asisten Dwi Saputra.


Dengan tersenyum membuka balasan pesan WA Elfa. Ada satu foto Elfa dengan menggendong bayi mungil yang baru lahir. Di bawah foto itu ada tulisan, "Jangan lupa kadonya, Uncle!"


Dengan cepat Juan Mahardika membalas dengan menulis pesan, "Cepat pulanglah, nanti kita beli kado berdua!"


Pesan terkirim langsung oleh Elfa, tetapi tidak ada jawaban. Kembali Juan Mahardika mengirim satu pesan lagi, "Andai bayi itu putra kita, betapa bahagianya hati Akak?"


Juan Mahardika tergelak saat Elfa mengirim jawaban pesan. Pesan itu wajah anak kecil yang menjulurkan lidah dan terlihat lucu, "El, kamu selalu saja membuat hati Akak semakin terpaut padamu, cepatlah pulang Akak sangat merindukan suara jutekmu!" monolognya dengan lirih.


Lewat dari senja Mami Mitha dan Elfa baru sampai di rumah. Juan Mahardika hanya bisa mendengar suara renyah Elfa dari dalam mushola. Waktu azan hampir berkumandang membuat harus bersabar untuk bertemu.


Masih ada kendala setelah selesai beribadah tidak bisa bertemu padahal beribadah bersama. Papi Alfarizi duduk di hadapan Pakde Sarto menghadap kitab suci. Akhirnya ikut duduk di samping calon mertua berniat untuk belajar.

__ADS_1


"Silahkan mulai, Mas!" perintah Pakde Sarto kepada Papi Alarizi.


"Iya."


Juan Mahardika tercengang mendengar suara merdu Papi Alfarizi melantunkan kalam ilahi. Baru pertama kali mendengar ayat pertama saja rasanya merinding. Melirik Asisten Surya dan Asisten Dwi Saputra duduk di samping Pakde Sarto juga mendengarkan dengan khusuk.


Hati terasa sejuk dan tenteram mendengar suara Papi Alfarizi. Pikiran bisa tenang, damai dan tenteram seolah enggan beranjak dari tempat duduk setelah setengah jam berlalu. Keiginan belajar jadi semakin bersemangat setelah mendengar lantunan kalam ilahi Papi Alfarizi.


Pukul delapan malam saat makan malam, Juan Mahardika baru bisa bertemu Elfa. Gadis yang dirindukan seharian ini sedang membantu Mami Mitha membuat hidapan kesukaan papinya. Opor ayam, sambal terasi, dan kerupuk udang.


"Ini opor ayam kesukaan Papi," kata Elfa meletakkan satu mangkuk besar opor ayam.


"Terima kasih, Nak. Pasti istimewa masakan El."


"Istimewa dong, ini opor ayam kampung, Pi."


Kali ini Juan Maharika tidak berani merayu karena ada calon mertua, hanya tersenyum sambil memandang Elfa. Tidak menyangka gadis pujaan hati bisa memasak menu kesukaan. Membayangkan suatu saat nanti bisa menyuguhkan steak daging kesukaan juga.


"Ayo silahkan!" perintah Pakde Sarto.


"Tambah apa lagi, Pi?"


"Sudah cukup terima kasih, Mami."


"Sama-sama."


Mengambil nasi dan lauk bergantian terutama yang lebih tua terlebih dahulu. Juan Mahardika masih menunggu keluarga bergiliran dengan sabar. Lebih memilih memandang Elfa yang masih mondar-mandir menambah menu yang tinggal sedikit di meja.


Mami Mitha belum jadi menyuapkan sesendok nasi setelah melihat piring Juan Mahardika masih kosong, "El ambilkan nasi untuk Nak Juan, lihat piringnya masih kosong!"


"Iya sebentar, Mami. El mau mengambil jamu dulu."


Jamu ramuan Bude Marmi di letakkan di depan Juan Mahardika. Elfa langsung duduk di antara Juan Mahardika dan Papi Alfarizi, "Akak mau opor ayam atau rendang daging?"

__ADS_1


"Opor ayam saja tanpa nasi."


"Lo kok tidak pakai nasi?" tanya Bude Marmi.


"Gantinya sambal goreng kentang itu saja, Bude." Juan Mahardika menunjuk sambal goreng yang ada di depannya.


"Itu pedas, nanti Akak sakit perut lagi. Makan jagung rebus saja nanti setelah selesai makan opor ayam!"


Juan Mahardika merasa melayang karena diperhatikan. Sakit diare yang membawa bahagia gumamnya dalam hati, "Baiklah, Akak ikut El saja. mana jagungnya?"


"Masih di rebus."


Menikmati makan dengan tenang dan tanpa bersuara. Hanya sesekali bicara saat permisi menambah nasi atau lauk yang diinginkan. Sisanya hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu.


Setelah selesai makan, keluarga dan dua asisten berpindah ke ruang keluarga melanjutkan berbincang. Papi Alfarizi dan Mami Mitha sudah selesai makan, tetapi masih menikmati secangkir kopi. Juan Mahardika masih menikmati jagung rebus yang baru saja matang.


Elfa membantu Bude Marni mengambil piring kosong dan dibawa ke tempat cuci piring. Ada keluarga yang lain mencuci piring. Elfa kembali duduk setelah mengambil buah melon dan mangga yang sudah di kupas dan dipotong dadu.


"Mami, Papi. Ini buahnya mau pilih yang mana?"


"Mami mangga saja."


"Papi dua-duanya mau."


"Akak mau apa?"


"Melon saja, terima kasih."


Sambil menikmati melon, jantung Juan Mahardika berdegup kencang setelah di meja makan tinggal empat orang. Teringat tadi pagi saat Papi Alfarizi berterus-terang telah merestui hubungan dengan Elfa. Dengan otomatis pasti Mami MItha juga akan merestui.


Sekarang tinggal berjuang mendapatkan restu pada putra tertua Papi Alfarizi. Hanya sayangnya, masih belum menemukan cara yang tepat untuk mendekati Abang Alfian Alfarizi. Berharap suatu saat nanti bisa berbincang tanpa emosi.


Juan Mahardika tersentak kaget pendengar perintah Papi Alfarzi dengan suara tegas, "El, Juan. Papi ingin kalian menikah di sini minggu ini!"

__ADS_1


'Yes!' Sayangnya Juan Mahardika hanya bersorak dalam hati.


Bersamaan Elfa berteriak kaget, "What ...?"


__ADS_2